Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 95 Cerita kak Karan


__ADS_3

''Aku tak pernah punya pikiran untuk mencari dia Pinky, aku tak mau dia selalu merendahkan aku. Selama ini aku cukup bersabar mengahadapi perlakuan nya sama aku, namun setelah aku di permalikan seperti itu dulu, aku tak lagi respect sama dia. Kenapa kamu bertanya seperti itu Pinky? apa kamu berharap aku bersatu dengan dia,'' Ucap kak Karan mencecar kak dengan beberapa pertanyaan.


''Aku hanya ingin memastikan saja Karan, aku tak mau kamu menyesal di kemudian hari karena sudah memilihku.''


''Aku tak akan pernah menyesal dengan ini semua ini, namun aku bersyukur karena kamu sama seperti dulu, sikap rendah hati kamu yang aku suka selama ini Pinky, dan aku tau? selama ini kamu selalu menjaga adikku, dan adikku juga selalu bercerita semua tentang mu padaku? ya aku yang melarang Sania untuk memberi tau kabarku.''


''Tapi kenapa begitu Karan? di saat aku sedih, aku butuh seseorang yang peduli padaku saat itu, namun hanya Sania lah yang selalu ada di kala itu Karan,'' tukas kak Pinky yang kini tengah menangis mengingat tak orang yang peduli padanya waktu itu.


''Aku tak bermaksud seperti itu Pinky, aku hanya ingin cepat cepat menyelesaikan tugas ku dan cepat kembali berkumpul bersama kalian, aku di sana hanya ingin fokus dengan kerjaan ku, siang malam aku mengerjakan nya tanpa mengenal lelah sama sekali, mungkin kalau aku hanya bersantai santai di sana tahun depan baru aku pulang Pinky,'' ujar kak Karan panjang lebar agar kak Pinky mengerti dengan sikap acuh tak acuhnya selama ini.


''Sudah jangan menangis lagi,'' Kak Karan menghapus air mata kak Pinky dengan jari jari nya. Kak Pinky memegang tangan kak Karan dan menciumnya.


''Ayo turun,'' ajak kak Karan.


Kak Pinky tentu bahagia di perlakukan baik seperti itu sama kak Karan, yang notabene nya tunangan nya sendiri. Kak Karan membawa kak Pinky masuk ke dalam dan mereka berdua di kejutkan dengan pasangan beda usia di depan matanya, itu Kirana dengan laki laki nya yang lebih pantas menjadi Om ketimbang menjadi kekasih.


Kak Pinky melirik kak Karan yang sedang menatap mereka berdua di depan nya. ''Apa kamu cemburu sama mereka?'' tanya nya tiba-tiba.


''Cemburu...? buat apa Pinky,'' jawab kak Karan bingung.


''Ya kan mereka tengah bermesraan, dan itu di depan kamu juga,'' balasnya pelan.


''Ya sudah kalau kamu nggak nyaman di sini, kita bisa makan di restoran lain saja.'' ajak kak Karan yang ingin membalikkan tubuh nya.


''Kita di sini saja, aku juga sudah begitu lapar?'' rengek Pinky yang kini di perhatikan oleh semua pengunjung di sana. Yang pasti pasangan beda usia itu sendiri.


''Ech orang kampung ke sini juga!'' ketus Kirana memandang sebelah mata pada Karan dan juga Pinky.


Kak Karan dan kak Pinky tak merespon ucapan yang Kirana lontarkan barusan. Mereka berdua hanya melewati mereka begitu saja tanpa mau menoleh barang sejenak.


''Lihat, orang miskin saja berulah?'' pekik Kirana ketika ucapan nya tak di hiraukan.


''Siapa mereka?'' tanya pasangan Kirana menatap nyalang pada kak Karan dan juga kak Pinky.

__ADS_1


''Bukan siapa siapa, dia hanya orang kampung saja yang mau makan di restoran mewah seperti ini.''


''Tenang saja mereka tak akan sanggup bayar restoran ini, percaya sama saya,'' sahut sangat pria mencoba mengenai wanita nya.


'Kalau bukan aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan kamu saat ini, aku nggak bakalan mau sama cewek sombong seperti Kirana? apa dia tak punya kaca, sehingga dia meneriaki mereka miskin, sedangkan dia juga sama kan? sama sama dari kampung!' Ucap sang pria dalam hati.


Kak Pinky selalu menatap ke arah Kirana dan pria nya. ''Kenapa kamu malah menatap mereka seperti itu, apa aku tak menarik buat kamu pandangi,'' Ujar kak Karan tiba-tiba.


Kak Pinky terkekeh mendengar ucapan tunangan nya. ''Kamu sangat tampan, dan tak akan ada laki-laki lain di hatiku selain kamu,'' jawab kak Pinky mengelus pipi kak Karan yang tengah merajuk.


Kirana yang melihat adegan mesra mesraan hanya memalingkan muka. ''Lebih baik kita hevan di tempat lain saja, misalnya ke club kebetulan aku punya club di daerah sini,'' ajak laki-laki yang bersama Kirana.


''Okelah, aku juga nggak mood lihat orang kampung makan di restoran ini,'' jawabnya ketus.


Mereka berlalu pergi sedangkan kak Karan masih tetap di sana bersenda gurau dengan teman sekaligus sahabat nya, yang kini tengah menjadi tunangan nya.


''Oiya kamu ingin gaun seperti apa nanti kalau kita menikah?'' tanya kak Karan.


''Aku mau yang sederhana saja Karan? karena pernikahan itu sendiri adalah acara sakral, dan aku mau pernikahan ini menjadi pernikahan yang indah karena aku mau menikah satu kali seumur hidupku,'' jawab kak Pinky membuat kak Karan terharu di buat nya.


''Tapi aku menginginkan ketika Ijab Kabul saja yang sederhana, bagaimana?'' tawar kak Pinky seraya menarik turunkan alis tebal nya.


''Ya sudah? tapi aku harus beri tahu kakek dulu, karena aku tak mungkin mengecawakan kakek Pinky,'' sambung kak Karan memberi pengertian pada pada kak Pinky.


''Nggak apa apa kok, aku ngikut apa kata keluarga mu saja,''


''Tapi kamu...''


''Aku diterima di keluarga besar kamu sudah sangat bersyukur Karan, mereka semua baik dan sikap hangat mereka yang selalu di berikan pada keluarga nya, namun di luar aku sangat tau, kalau mereka sangat dingin dan juga kejam, sama hal nya kamu dan juga om Arzan, tapi tidak dengan om Fabian yang bawaan nya luwes seperti tak pernah marah sama para karyawan atau lawan bisnisnya,'' tukas kak Pinky membuat kak Karan melotot.


''Apa kau bilang! om Fabian luwes, dia lebih sadis di banding om Arzan Pinky, kamu jangan terkecoh dengan penampilan Om Fabian yang seperti itu,'' sela kak Karan memberitahu fakta yang sebenarnya pada Pinky sang tunangan.


''Dan kamu bilang aku kejam juga kan? itu semua untuk melindungi usaha Ayah yang dirintis dari nol agar kutu kutu nggak ada yang beterbangan bebas di lingkungan keluarga ku saja, aku juga bisa bersikap baik jika ada orang yang juga baik, namun aku akan bersikap kejam pada orang yang tak berhati pada keluarga ku,'' lanjut nya membuat kak Pinky tersenyum menanggapi semua perkataan tunangan nya yang notabene nya pengusaha sukses dengan usaha nya sendiri.

__ADS_1


''Iya aku percaya sama kamu kok?'' senyuman kak Pinky bisa meluluh kan hati kak Karan yang sekeras batu itu, mungkin.


...****************...


Kini Kirana sudah sampai di depan Club yang di maksut sang pria tadi, suara bising terdengar hingga di halaman luar Club tersebut, dengan menggandeng tangan sang pria Kirana melenggak lenggok kan tubuh seksinya.


''Gimana kamu happy aku ajak kesini,'' tanya sang pria pada Kirana.


''Sangat happy sayang? Terima kasih ya, kamu sudah baik sama aku selama dua hari ini,'' jawab Kirana dengan sikap genitnya pada sang pria.


''Aku pesan minum dulu ya, kamu tunggu di sini sebentar,'' Dia pun meninggalkan Kirana lalu menghampiri bartender yang bertugas meracik minuman di club ini.


''Pesan apa tuan?'' tanya sang bartender ramah.


''Seperti biasa, dan juga satu kamar biasanya, karena aku tak suka kmar yang lain,'' ucapnya tegas.


''Siap tuan?'' sahut sang bartender tersenyum melihat bos nya yang selalu gonta ganti cewek untuk tidur bersama nya.


''Jangan lupa obatnya lebih banyakin sedikit, wanita ini sangat berbeda,'' tambahnya sebelum kembali ke tempat di Kirana berada


''Sayang? kok kamu lama banget sich, hanya memesan minuman saja,'' celetuknya bergelayut manja.


''Och tadi aku masih ke toilet sebentar, kenapa? kamu sudah kangen sama aku ya,'' balasnya menggoda Kirana. Sedangkan wajah Kirana kini sudah bersemu merah mendengar ucapan prianya sekaligus bos nya juga.


''Permisi tuan? maaf mengganggu, ini pesanan tuan,'' sela pegawai Club nya yang bertugas mengantarkan minuman pelanggan nya ke meja meja pemesan.


Sang bos wanita itu pun bertanya dengan memberikan kode dengan tangan nya, pegawai yang masih berdiri di depan nya hanya mengangguk menanggapi pertanyaan bos nya.


''Wanita bos malam ini lumayan cantik, tapi...? kayaknya dia sedikit angkuh dari wanita-wanita sebelumnya,'' tutur nya pada bartender.


''Pantas saja Bos menyuruh naruh nya sedikit lebih banyak, agar wanita itu tepar dan bos bisa leluasa menjamah nya,'' jawab bartender yang di benarkan dengan karyawan lain nya.


Kirana menegak satu gelas habis anggur merah nya, dan sang pria langsung menuangkan kembali anggur merah ke gelas Kirana, namun belum sempat Kirana meminumnya lagi, Kirana sudah mulai kepanasan pada tubuh nya.

__ADS_1


''Kamu kenapa sayang?'' tanya sang pria pura-pura.


''Nggak tau sayang? badanku terasa sangat panas, aku butuh es untuk mendinginkan tubuhku ini,'' jawab Kirana yang mulai kepanasan dan lambat laun kesadaran nya pun hilang. Kirana menjadi sangat buas sehingga sang pria kewalahan membawa Kirana ke kamar yang sudah ia pesan tadi.


__ADS_2