Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 211 Perdebatan Andriana dan juga Andrian


__ADS_3

Perdebatan mereka berhenti setelah Bunda Wati mengingatkan Riana, yang tidak boleh memberikan harapan palsu kepada orang lain terutama dokter Michael, orang tua Michael yang tak lain adalah Tuan Bagas dan Nyonya Helena hanya mengangguk kan kepala nya dengan pelan, dia faham betul kalau yang dia ucapkan adalah benar.


Tak terasa mereka sudah mengobrol selama 2 jam, karena terlalu asyik mengobrol bersama keluarga Karan yang super asik, sampai-sampai tidak mengenal waktu? ternyata sudah jam 9 malam saja. Akhirnya tuan Bagas dan Nyonya Helena berpamitan untuk pulang ke rumah nya, dengan dokter Michael yang notabene nya adalah putra dari Tuan Bagas sendiri.


Sedangkan Riana dan juga Rian masih tetap betah berada di rumah saudara sepupu nya, mereka masih terus mengobrol dengan si kembar yang ada di gendongan nya, entah kenapa rasanya Rian berat banget untuk meninggalkan si kembar begitu saja.


''Kenapa sih kamu imut banget sayang? jadi om males mau pulang kerumah kan?'' gumam Rian kepada ponakan laki-lakinya yang masih berumur beberapa hari itu, sang ponakan masih ada di gendongan nya.


''Ayo kak kita pulang sekarang, kan sudah malam juga, besok pagi kita balik ke sini lagi gimana?'' kata Riana kepada Rian sang kakak.


''Oke deh, tapi kakak masih sangat kangen sama si kembar, gimana dong?'' jawab Rian asal, Rian masih pengen bersama dengan ponakan nya.


''Itu mau kakak saja, tapi Riana juga sudah ngantuk kak?'' balesnya dengan nada kesal, ''Kita pulang sekarang yuck,'' lanjut nya dengan memanyunkan bibir tipis nya. Rian hanya terkekeh mendengar ucapan dari adiknya, Riana memang selalu membuat Rian tertawa terus karena dengan sikap kekanak-kanakan nya terlalu dominan, sedangkan sikap dewasa nya malah tidak terlihat sama sekali, makanya Rian selalu bersikap lebih kepada adiknya.


Mengingat adik nya yang selalu melakukan hal hal konyol yang tidak di ketahui oleh orang lain nya.


Bayi perempuan yang sedang di pangku Riana sudah berpindah kepada Sania, sedangkan bayi laki-laki nya kini masih berada di pangkuan Rian sang kakak, Riana hanya mendengus kesal melihat kakak kembar nya masih tidak beranjak dari tempat duduk nya, dia masih asik mengendus-endus pipi kecil sang ponakan.


''Ayo lah kak cepat?'' rengek nya sembari menghentakkan kaki nya ke lantai dengan aura marah nya.


Rian memberikan ponakan laki-laki nya kepada sang Bunda yang kebetulan ada di dekat nya, tak lupa juga Rian mencium pipi bayi kecil itu sebelum benar-benar pergi dari rumah Karan sang sepupu.


Riana mengulurkan tangan nya kepada sang Bunda dan mencium punggung tangan nya, Riana menyalami sekua orang yang nada di sana kecuali Karan dan juga Sania yang memang sejak tadi sudah meledek nya habis habisan, di tambah lagi dengan kehadiran orang tua dokter Michael yang juga berada di rumah tersebut membuat Riana semakin kesal dengan dua orang yang menurut dia sudah sangat keterlaluan kepada nya.


Riana memilih keluar lebih dulu dari rumah Bunda nya. Andrian yang keluar belakangan hanya menggeleng kepala nya pelan, ''Ayo,'' Ujar Andrian seraya membukakan pintu mobil nya.

__ADS_1


Riana hanya masuk begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih atau semacam nya kepada sang kakak yang sudah baik hati untuk membuka pintu mobil nya.


Di sepanjang perjalanan ke rumah nya Riana tidak mengeluarkan suara nya sampai akhirnya mereka nyampek di depan gerbang rumah nya, barulah Rian membuka obrolan nya terlebih dahulu menanyakan kebenaran hubungan adik nya dengan dokter Michael.


''Sekarang jawab lah dengan jujur dek, apa kamu juga suka dengan dokter Michael, tadi kakak lihat kamu begitu intens memandang wajah dokter Michael, aku tau kalau kamu juga suka dengan dokter Michael, sekarang jawab lah dek? sebelum Papa dan juga Mama tau, karena kalau mereka sampai tau lebih dulu kakak nggak bisa bantuin kamu untuk menjawab semua pertanya'an dari Papa,'' tanya nya dengan panjang lebar.


''Kak, Riana masih terlalu bingung dengan keputusan yang akan Riana ambil kak, Riana masih nggak percaya dengan penuturan yang dokter Michael sampaikan tadi, kakak kan juga tau kalau dokter Michael terlalu banyak wanita yang mengagumi nya, aku takut dokter Michael hanya bercanda saja dengan Riana, dan pastinya Riana akan sakit hati dengan semua itu kak, karya itulah Riana bilang kalau proyek yang Riana tangani belum selesai? agar dokter Michael berhenti mengutarakan isi hatinya kepada Riana kak? apa itu salah,'' jawab Riana dengan panjang lebar.


''Lebih baik kamu pikirkan baik baik semua yang di ucapkan oleh dokter Michael kepada kamu tadi, kayak nya dia benar-benar ingin melamar kamu dan juga ingin sekali menikah dengan mu juga, memang nya kamu tidak lihat dia berani mengucapkan semua nya di depan orang tuanya dan juga di depan Bunda, Karan dan yang lain nya di sana, dia juga tidak merasa malu dengan ku dek, apa kamu masih tidak mempercayai semua yang dia ucapkan,'' tanya Rian lagi kepada sang adik.


''Kak, lebih baik kita masuk saja dulu ke dalam rumah, kita bahas ini di dalam kamar saja, kasihan pak Usman sudah menunggu kita sejak tadi di depan gerbang,'' sahut Riana mengalihkan pembicara'an nya dengan menatap penjaga rumah nya yang sudah berdiri di samping pintu gerbang dengan garuk garuk kepala nya, karena sang majikan masih belum juga masuk ke dalam rumah nya, Rian masih berada di luar gerbang dengan terus menanyakan tentang perasa'an adik nya dengan dokter Michael.


''Baiklah kita bahas ini di dalam kamar, tapi kalau kamu sampai mengingkari nya, jangan harap kakak akan bantu kamu di depan Mama dan juga Papa nanti,'' sela Rian yang sedikit mengancam adik nya.


Riana mengangguk pelan seraya berkata, ''Riana janji kak?'' jawab nya dengan kedua jari ke atas membentuk huruf v.


''Terima kasih Pak?'' Ucap Andrian dan juga Andriana hampir bersama'an.


''Sama sama tuan?'' jawab nya dengan mengulas senyum di bibir tuanya.


Sedangkan di dalam sudah Mama serta sang Papa yang sudah menunggu kedatangan kedua anak nya, karena jam sudah menunjukkan waktu 10 malam.


''Kok Mama belum tidur?'' tanya Riana yang langsung menghampiri Papa dan juga sang Mama.


''Mama masih menunggu kamu sayang, kamu kemana saja kok sampai jam segini baru pulang?'' tanya Mama Citra dengan lembut seraya menyambut uluran tangan anak kembar nya.

__ADS_1


''Kakak ini lho Ma, yang susah untuk di ajak pulang? dia masih senang menggendong ponakan ponakan nya di rumah Bunda,'' adu Riana kepada sang Mama.


''Kenapa nggak nginap di sana saja kalau masih senang menggendong ponakan nya, kan lebih enak kalau nginap di sana kak?'' sambung tuan Arzan kepada Rian outera nya.


''Rencana nya sich memang mau nginap di rumah Bunda Pa, tapi adik tuh yang minta pulang ke rumah, dia malah cemberut ketika Rian tidak cepat memberikan ponakan laki-laki Rian kepada Bunda tadi,'' jawab Rian membela diri nya.


''Tapi aku kan sudah seharian juga di sana, Riana juga sudah kangen dengan Mama dan juga papay di rumah, ngapain juga Riana harus nginap di sana, kan besok pagi juga pergi ke sana untuk menemani Sania,'' balas Riana tak mau kalah.


''Sudah lah Pa, kalau sudah melawan adik Rian nggak akan pernah menang, karena dia memang selalu benar dan juga tak mau din salah kan oleh orang lain, ya walaupun aku adalah kakak nya juga,'' jawab Rian memutus obrolan nya dengan sang adik.


''Kalian berdua sudah makan belum?'' tanya sang Mama yang mengerti arah dari perkata'an putera kembar nya.


''Rian sudah makan malam di rumah Bunda Ma, dan di sana juga ada tuan Bagas dan juga Nyonya Helena yang menengok bayi kembar Sania,'' kata Rian menjelaskan kepada Mama Citra.


''Tuan Bagas bersama istri nya ke sana?'' tanya tuan Arzan yang juga ikut menimpali perkata'an putera nya, sedangkan Riana sudah dag dig dug ketika sang kakak membahas soal tuan Bagas dan juga nyonya Helena yang tak lain adalah orang tua dari dokter Michael.


''Mereka kan kerja sama dengan kak Karan Pa, dan karin mereka berada di acara pembuka'an kantor yang baru di buka itu, dan kak Pinky mengundang mereka untuk datang ke rumah nya karena dia juga ingin tau kepada ponakan kak Karan yang kembar tiga, jadi ya tadi dia datang ke sana, oiya? memang nya Papa kenal dengan tuan Bagas dan juga nyonya Helena,'' tanya Rian dengan penasaran yang begitu tinggi, mengingat sang Papa adalah raja bisnis yang sudah dikenal oleh orang banyak.


''Papa sedikit tau tentang mereka, dia juga sangat hebat dan bahkan Papa kalah bersaing dengan tuan Bagas, koneksi nya dia juga sangat banyak dan juga tak kalah hebat juga, ya menurut Papa sich, Papa masih kalau dengan tuan Bagas yang terkenal kejam dan juga dingin dengan semua rekan bisnis nya, tapi Papa belum pernah bekerja sama dengan tuan Bagas, jadi Papa masih belum tau juga apa benar yang di katakan oleh para orang orang,'' jawab nya dengan tegas dan juga fokus menatap putera nya.


''Tapi kenapa kak Karan bisa bekerja sama dengan tuan Bagas Pa, tapi tadi di rumah kak Karan tuan Bagas tidak seperti yang Papa katakan kok, dia juga bercanda tadi ketika makan malam, dan dia juga senang dengan adik dech Pa,'' gumam Rian yang langsung mendapatkan pukulan kecil dari sang adik.


''Maksuda kamu kakak bagaimana?'' tanya Mama Citra kepada Rian.


''Ya tuan Bagas senang melihat adik yang cantik dan juga imut, tapi dia juga sering menatap wajah baby face nya dik sich,'' Rian semakin meledek Riana di depan Papa dan juga Mama nya.

__ADS_1


Riana menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan, mengingat dia sedang di ledek oleh kakak nya yang tidak tau malu dengan kedua orang tua nya, memang sejak dulu Rian lah yang suka mengadu kepada Papa dan juga Mama nya, kalau ada yang mengganggu sang adik, apalagi Riana yang memang sering sekali di kerjain oleh beberapa orang yang memang nggak tau kalau Riana adalah adik Rian, lebih tepat nya adalah saudara kembar nya.


__ADS_2