
''Sudah jangan cuma di lihatin doang? makan saja nggak ada racun nya kok?'' ujar Karan membuka kotak bekal nya berdua dengan Sania sang adik.
''Di lihatin terus, entar keburu masuk lho? lagian kalian tadi bukan nya laper makanya ngajak kita ke sini,'' lanjut Karan yang membuat kedua saudara kembar nya membuka kotak bekal yang di kasih Karan barusan.
Si kembar pun langsung memakan makanan yang di masak oleh tante nya. ''Enak banget masakan Bunda ya kak?'' Ujar Riana pada kakak kembar nya.
''Iya, baru kali ini kakak merasakan masakan selezat ini, selain masakan Mama?'' balas Rian sang kakak.
''Kenapa Bunda nggak buka warung makan saja kak? atau buka restoran githu,'' kata Riana memberikan ide pada Karan.
Karan tertawa sumbang mendengar ucapan adik sepupu nya itu. ''Uang dari mana Riana? kakak saja baru kerja dan tabungan kakak juga masih sangat sedikit, dan di tambah lagi kakak sudah punya hutang semalam,'' jelas Karan yang membuat Sania membulatkan matanya, seakan-akan mau copot dari tempat nya.
''Hutang...!!'' Ucap Sania dengan tegas.
''Hutang apa kak?'' lanjut nya lagi.
''Semalam kakak beli ponsel buat Ibu, tadinya sich mau beli yang second, tapi sama mbak pegawai nya di kasih yang bagus? dan dia bilang bakalan nalangin kekurangan nya dulu, kakak disuruh nyicil buat kurang ponsel nya, tapi kakak berencana bayar semua nya kalau sudah gajian lagi,'' jawab Karan sembari menggaruk tengkuk leher nya yang tak gatal.
''Biar saya saja yang bayar kak Karan? nanti pulang sekolah kita kentoko itu bagaimana?'' sambung Rian, tapi Karan bukan nya mengiyakan melainkan dia menggeleng kan kepalanya pelan.
''Tidak usah, aku punya tabungan kok. Mungkin tabungan itu yang akan aku ambil besok?'' balas Karan dengan senyuman manis di bibir nya.
''Heyyy...!!'' sapa Pinky yang tiba-tiba mengagetkan nya.
''Mau ke kantin kok nggak ngajak ngajak sich!'' ucap nya lagi dengan ketus.
''Apa sich Pinky? ngagetin orang saja kamu tuh,'' jawab Karan. ''Lagian kamu tadi belum kelar ngerjain tugas kamu di kelas,'' lanjut Karan lagi.
''Iya juga sich? hehehe...'' Pinky terkekeh karena mengingat dia tadi yang belum selasai ngerjain tugas nya.
__ADS_1
''Ech, kok kalian nggak pesen makanan sich?'' tanya Pinky melihat ke semua orang yang satu meja dengan nya.
''Kita sudah makan kok kak, tinggal kakak saja yang belum? apa mau Rian pesenin,'' Ucap Rian, lalu beranjak dari tempat duduk nya, dan menuju ke abang abang yang jual di dalam kantin sekolah nya. Tak berapa lama kemudian Rian membawa semangkuk bakso, karena yang lain sudah pada kenyang.
''Nich kak? bakso nya,'' kata Rian menaruh bakso yang ia bawa di atas meja depan Pinky.
''Och..., so sweet? kamu kok tau sich makanan kesuka'an Rian,'' balas Pinky dengan gaya centil nya.
''Ich.. nggak usah segitu nya kali Pinky? kayak cewek-cewek centil tau nggak,'' celetuk Karan pada Pinky ketika melihat dia bersikap layak nya gadis penggoda lain nya.
''Iya iya maaf?'' Ucap Pinky menggembungkan pipi nya.
''Sudah, di makan cepat kak? nanti bel masuk bunyi lagi, kan mubadzir bakso nya kalau sudah bel,'' sambung Sania mengingat kan Pinky. Pinky adalah teman Karan yang mau menerima dia sebagai teman nya, karena semua teman teman nya tak mau berteman dengan Karan, karena Karan sendiri hanya lah orang miskin, itu bagi teman teman yang lain nya.
Bagaimana kalau mereka sampai tau, kalau Karan? ternyata cucu seorang konglomerat yang sangat kaya, Karan adalah pewaris dari perusaha'an CG, pasti semua teman nya bakalan nangis darah karena tak di sukai Karan.
*********
Karan, Sania, Rian dan juga Riana sudah keluar dari kelas nya, dan mereka memang saling menunggu di tempat yang sudah di tetap kan tadi pagi.
''Kak Karan? nanti kita mampir ditoko itu ya,'' ujar Rian, meminta Karan agar ia membawa ke tempat Karan membeli ponsel semalam.
''Nggak usah, biar saya saja yang bayar, aku punya tabungan kok, lagian itu semua aku lakukan untuk menyenangkan Ibu ku saja Rian, jadi harus dengan jerih payah ku sendiri,'' kataku semangat.
''Kak Karan githu sama kita, aku juga ponakan Bunda juga kak? jadi aku mau membahagiakan bunda juga, selain membahagiakan Mama dan Papa di rumah?'' seru Riana cemberut.
''Udah ach, tuch kayak tante Cinta sudah menunggu kita dech? ayo cepat kita samperin, kasian juga kalau tante harus nunggu kita lama. Iya kan?'' sahut Karan yang tak mau memperpanjang perdebatan mengenai utang piutang nya dengan mbak pegawai toko ponsel semalam.
Mereka ber empat berlari menghampiri sang tante sang sedang berdiri dengan menyandarkan bahu nya ke mobil yang ia kendarai.
__ADS_1
''Assalamu'alaikum tante Cinta?'' ucapy mereka yang hampir bersama'an.
''Waalaikum salam,'' jawab sang tante membalikkan badan nya menghadap ke arah para ponakan nya.
''Tante sudah lama nunggu nya?'' tanya Karan.
''Nggak kok, tante juga baru sampai? kalian kok ngos ngosan githu kenapa?'' tanya sang tante melihat ke empat pinakan di depan nya.
''Kami lari dari dalam tante, takut nya tante sudah menunggu lama di sini,'' sahut Rian seraya mengatur nafas nya yang masih naik turun.
''Ya sudah ayo masuk ke mobil semua nya, sebelum ke rumah tante kita mampir ke rumah Bunda ya, dan minta ijin dulu sama Bunda, oke?'' Ucap Cinta yang langsung di angguki oleh ke empat ponakan nya.
Tapi sebelum mery masuk ke dalam mobil, Pinky memanggil Karan dan dengan segera menghampiri nya.
''Karan, kamu sama siapa?'' tanya Pinky sedikit berbisik.
''Och...? ini tante Cinta,'' jawab Karan. ''Oia tante, kenalin ini teman Karan dan berkat dia juga Karan bisa kerja di restoran itu,'' jelas Karan pada sang tante.
''Namanya siapa?'' tanya Cinta ramah dan menyambut uluran tangan dari Pinky.
''Saya Pinky tante, senang bertemu dengan tante, oia tante ini tante nya si kembar ini kan?'' tanya Pinky tanpa rasa malu.
''Tante juga...?''
''Iya, tante ini tantenya si kembar, Rian dan Riana, iyakan tante?'' Ucap Karan memotong perkata'an sang tante, dan Karan juga mengedipkan matanya agar sang tante mengiyakan ucapan nya.
''Iya, tante adalah tante nya si kembar,'' jawab Cinta bingung.
''Ya sudah, kamu balik gih? kasian sopir kamu udah nungguin dari tadi juga,'' tanpa sengaja Karan mengusir Pinky segera halus, sehingga Pinky sendiri tak sadar dengan pengusiran nya.
__ADS_1
''Ya sudah kalau githu, Pinky pamit dulu ya tante? bye tante...'' pamit Pinky setelah mencium telapak tangan tante Cinta. Akhirnya Karan bisa menghembus kan nafas lega nya.