
Andrian dan juga Andriana sudah menunggu di meja makan, Rian dan Riana mengobrol santai di meja makan seraya menunggu kedatangan orang tua nya, yang sedari tadi belum juga keluar dari kamar nya.
''Mama sama Papa kok belum juga turun ya kak, apa terjadi sesuatu sama Mama kak?'' pikir Riana cemas.
''Mama nggak apa apa kok sayang? Mama cuma ketiduran tadi, untung Papa kamu bangunin Mama?'' bohong kak Citra pda kedua anak nya.
Kak Citra duduk di kursi yang sudah di mundurkan oleh putera nya. ''Terima kasih kak?'' Ucap kak Citra pada Rian.
''Sama sama Ma?'' jawab Rian tersenyum bahagia melihat senyum manis di bibir sang Mama.
'Lihat Mama tersenyum saja Rian sudah bahagia Tuhan,' batin nya senang.
Akhirnya mereka ber empat makan dengan begitu lahap, apalagi kehamilan kak Citra yang sekarang tidak mengalami mual muntah, membuat nafsu makan bertambah dari hari hari sebelum-nya.
Bahkan kak Citra nambah nasi beserta lauk pauk nya, Mas Arzan menatap heran pada kak Citra yang sangat lahap makan makanan nya.
''Tumben tumbenan Bibi masak nya enak banget begini,'' gumam kak Citra dengan mulut yang penuh dengan makanan.
__ADS_1
''Bibi masak seperti biasanya kok Ma, mungkin adek bayinya saja kali Ma yang lapar,'' sahut Riana yang tak menghiraukan kode dari sang Papa dan juga kakak nya.
''Iya mungkin gitu dek? Mama jadi nambah makan-nya,'' kata kak Citra yang sudah menyelesaikan makan nya.
''Mama ingin ngobrol sama kalian di ruang tengah, mau ya? kalau kalian ada tugas dari sekolah-nya, nggak apa apa Mama akan bicara besok,'' kata kak Citra pada kedua anak anak nya.
''Tugas kakak sudah selesai kok Ma, nggak tau kalau tugas adik?'' jawab Rian melirik ke arah adiknya.
''Punya adik juga sudah selesai kok kak, adik kan pintar jadi sat set ngerjain-nya kak?'' balas Riana, yang juga melirik ke arah Rian kakak nya.
''Adik sama kakak nggak keberatan kan kalau kita nambah keluarga?'' tutur kak Citra memulai obrolan nya.
''Ya kakak liat dulu lah Ma, keluarga mana yang akan tinggal di rumah kita,,'' balas Rian. ''Karena kakak nggak mau sembarang nerima orang yang kakak nggak kenal, apa lagi orang yang sik kenal dan sok akrab sama kakak?'' jelas Andrian.
''Adik sendiri bagaimana?'' tanya kak Citra lagi pada putri nya.
''Riana sama kayak kak Rian Ma, adik nggak mau berbagi sesuatu sama orang asing yang adik nggak kenal!'' jawab nya acuh.
__ADS_1
Kak Citra menatap mas Arzan, meminta dukungan dari sang suami sebagai kepala keluarga di rumah nya. ''Maksud Mama nambah keluarga itu bukan orang asing kak? dek,'' Ucap Mas Arzan yang mengerti tatapan dari kak Citra.
''Terus keluarga yang mana?'' tanya Andrian penuh dengan selidik.
''Mama kalian ingin mengajak saudara kamu untuk tinggal di sini, kalian sudah kenal sama mereka kok kak?'' jawab Mas Arzan melipat kedua tangan ke dada bidang nya.
''Karan dan Sania akan Mama ajak untuk tinggal bersama kalian, karena Mama ingin menebus semua kesalahan Mama selama ini pada mereka semua?'' Ucap kak Citra yang matanya sudah berkaca kaca, namun dia mencoba untuk tidak menangis lagi.
''Maksud Mama menebus kesalahan itu apa ya, Rian nggak ngerti Ma? Pa,'' tanya Rian dengan sorot mata tajam nya.
''Sebenarnya Karan dan Sania adalah saudara sepupu kalian, mereka berdua anak anak dari kakak nya Mama, yang selama ini Mama cari sayang?'' jelas Kak Citra yang sudah menangis, air mata yang sedari tadi ia tahan tahan akhirnya luruh begitu saja. Rian yang melihat Mama nya yang menangis segera menghamburkan diri, dia merasa sangat bersalah pada sang Mama, karena mungkin ucapan nya yang tak ingin berbagi dengan orang asing tadi sempat menyakiti sang Mama pikir Rian.
''Rian mau berbagi dengan kak Karan Ma? asal Mama jangan nangis lagi, maafin Rian yang sudah egois karena tak mau berbagi pada keluarga yang Mama maksud tadi, Rian nggak tau kalau keluarga asing yang Mama maksud itu adalah kak Karan dan juga Sania?'' lirih nya yang juga ikutan menangis di pelukan Mama nya.
Sedangkan Riana duduk di samping Papa nya, karena nggak mungkin Riana berafa di tengah keduanya, takutnya perut Mama nya yang ada dedek bayinya tergencet dan menjadi penyet layaknya tempe yang di lindas dengan ulekan.
''Ayo kita jemput mereka Ma?'' Riana memberi ide pada semua nya.
__ADS_1