Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 139 Ledekan dokter Imelda


__ADS_3

''Hallo sayang?'' sapa Sania setelah menoleh ke belakang nya.


''Kak Sania kenapa baru datang?'' tanya anak kecil yang juga tengah menderita penyakit mematikan itu.


''Kakak sibuk sayang, ini saja kakak ambil cuti untuk menemui kalian semua disini,'' jawab Sania sedikit berbohong, dan mensejajarkan tubuh nya dengan anak kecil di depan nya.


''Naya kita kak Sania lupa sama kita semua di sini, soalnya kak Sania tak pernah datang lagi?'' gadis kecil di depan nya mengerucut kan bibir mungil nya, sedangkan Sania menahan tawanagat tidak meledak di depan Naya, kalau sampai terdengar tertawa Naya akan marah dan tak kan mau lagi bertemu dengan nya.


''Maaf suster? boleh minta tolong,'' Ucap Sania kepada suster yang berada di belakang Naya.


''Minta tolong apa Nona?'' jawab nya ramah.


''Bawa ini ke dalam dan bagikan kepada semua anak anak ya suster, dan kantong satu nya suster bisa bagi bagi dengan teman suster yang lain nya juga,'' terang Sania yang ndi angguki oleh sang suster, yang emang sudah tau kalau para suster juga mendapatkan bagian dari Sania.


''Nona Sania emang baik dan juga tidak sombong seperti wanita kebanyakan yang lain nya, mereka hanya bisa pamer dengan kekaya'an orang tuanya, tanpa mempedulikan orang orang lain yang sangat membutuhkan,'' gumam sang suster pelan, sehingga tak ada yang mendengar kecuali diri nya sendiri.


''Lina? apa itu,'' tanya salah satu memanggilnya suster yang tengah membawa kantong kresek besar berwarna merah tersebut.


''Biasa, camilan kita datang?'' seloroh Lina yang tadi mintai tolong oleh Sania.


''Nona Sania datang?'' seru salah satu yang lain nya, yang langsung menebak dengan benar.

__ADS_1


''Yaps, pintar banget sich suster yang satu ini,'' puji Lina seraya menyerahkan kantong kresek yang satunya.


''Iyalah, kalau bukan nona Sania siapa lagi yang akan memberikan camilan sebanyak ini pada kita kita,'' Ucap nya ketus, namun semua suster pada mengangguk setuju dengan ucapan rekan nya yang sama sama menjadi suster dirumah sakit kanker ini.


''Iya juga ya, mereka lebih memilih bergaya dari pada beliin kita camilan seperti ini,'' sambung nya.


''Ayo balik bekerja, apa yang kalian obrolin disini, bukan nya kalian harus menjaga bocah bocah yang sedang bermain di halaman depan,'' sang HRD tiba-tiba mengagetkan mereka bertiga.


''Maaf Pak, kami masuk karena nona Sania meminta tolong pada kami untuk membawakan camilan ini,'' jawab Lina pelan, mengingat HRD dirumah sakit ini sangat lah galak dan juga termasuk tega kepada semua suster yang bekerja di sini.


''Jangan bikin alasan kalian dengan mengatas namakan nona Sania ada di sini, buktinya dia nggak ada?'' cericos sang HRD yang tak percaya dengan kata kata para suster di depan nya.


''Ada apa Pak?'' sahut Sania yang mengejutkan kepala HRD di depan nya.


''Bapak sebagai kepala disini seharusnya jangan berbuat githu Pak, emang nya Bapak mau ada orang yang berkata keras seperti Bapak barusan?'' seru Sania membuat kepala HRD itu bungkam.


''Iya nona maaf,'' jawab nya dengan rasa menyesal nya, dia merutuki kebodohan nya sendiri, jelas jelas Sania tidak mau ada yang semena mena di tempat keluarga nya. Ya tuan Arzan memiliki saham 50% di rumah sakit kanker ini, jadi semuanya sudah mengetahui kalau Sania adalah ponakan tuan besar Arzan.


''Sekali lagi saya minta maaf nona, saya harap nona tidak melaporkan masalah ini semua kepada tuan Arzan?'' Ucap nya memohon agar Sania tidak melaporkan kebutuhan besar nya.


''Baiklah, yang sudah kalian kembali bekerja. Aku ingin menemui dokter dulundi dalam,'' pamit Sania membubarkan semua suster dan juga kepala HRD nya.

__ADS_1


''Siang Dokter?'' sapa Sania setelah membuka pintu ruangan dokter Imelda.


''Sania, ayo masuk,'' balas Dokter Imelda mengembangkan senyum manis nya. ''Sendirian saja, pacar kamu kemana?'' ledek dokter Imelda.


''Apa sich, seharusnya dokter Imelda yang sudah mempunyai pacar atau calon suami,'' Sania kembali meledek dokter cantik di depan nya.


''Ya siapa tau saja kamu sudah punya calon, dan sebentar lagi bakalan belah duren?'' kata dokter Imelda seraya terkekeh geli dengan perkata'an nya barusan.


''Apa sich dokter ini, Sania sudah tidak memikirkan hal seperti itu lagi, mengingat umur saya yang sudah tidak bisa memikirkan cinta cinta'an lagi,'' balas Sania lirih.


Dokter Imelda beranjak dari duduk nya dan memegang pundak Sania, ''Kamu tidak boleh menyerah begitu saja, banyak kok orang yang sembuh dari penyakit nya dan hidup normal dengan pasangan nya, dan apalagi ketika Allah sudah berkehendak? maka jangan di ragukan lagi. Aku tau kamu wanita hebat dan juga kamu layak kok mendapatkan cinta dari seorang laki-laki yang benar-benar sayang sama kamu,'' tutur dokter Imelda panjang lebar. Agar gadis di depan nya tidak putus asa dengan penyakit nya, ya Imelda berkata demikian, karena dia tau Arlan sepupu nya begitu menyayangi Sania, namun Sania selalu menolak saat Arlan mengajak nya serius.


''Terima kasih dokter, akan Sania ingat pesan dokter tadi, semoga saja Sania tidak merepotkan orang lain di kehidupan Sania yang akan datang?'' jawab Sania lirih, dalam hatinya dia berjanji akan berusaha untuk sembuh dari penyakit yang biasa derita, mengingat masih banyak orang yang sayang dengan nya, namun kembali lagi Sania bisa pasrah kepada sang Pencipta atas diri dan takdir hidupnya. Jodoh, rezeki dan juga kematian sudah di atur sedemikian rupa oleh sang Khalik.


Dengan ber shodaqoh Sania bisa menenangkan gejolak di hatinya, dan dengan shodaqoh juga Sania sudaah hitung hitung untuk tabungan nya kelak di akhirat, ketika ia di panggil oleh yang maha Kuasa.


''Ngelakuin apa sich,'' dokter Imelda menepuk punggung Sania kembali membuyarkan lamunan nya yang entah pergi kemana.


Sania tersenyum sebelum akhirnya dia berpamitan kepada dokter Imelda, ''Kalau gitu Sania pamit ya dokter, di lain waktu semoga masih bisa bertemu lagi dengan dokter Imelda yang super cantik ini,'' dengan kekehan Sania mencubit pipi chubby dokter Imelda.


''Tega banget lho ya sama gue?'' balas sang dokter namun Sania sudah berlari keluar dari ruangan dokter Imelda yang emang bertugas di rumah sakit itu.

__ADS_1


Sania terkekeh sampai halaman depan melihat dokter Imelda yang begitu kesal dengan nya. ''Lucu juga dokter Imelda ketika sedang marah,'' gumam Sania masih dengan kekehan nya.


Sania menatap kesemua adik adik kecil yang tengah riang bermain di halaman depan rumah sakit, karena dirinya sudah membaik dari sakit nya, tiba-tiba rasa sedih dan air mata keluar begitu saja mengingat dirinya juga tengah berada di situasi yang sama saat ini.


__ADS_2