Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 44


__ADS_3

Di negara lain kini Karina tumbuh dengan begitu cantik dan anggun, namun karena sudah sangat lama juga berada di Paris, sifat lemah lembut nya sudah tidak ada lagi, mungkin karena pergaulan nya juga dengan teman teman nya yang di sana, barang pemberian Karan dulu sudah tak lagi ia hiraukan, karena sudah banyak mainan dia yang lebih mahal dari pemberian Karan, bahkan ada juga barang yang unlimited.


-''Hay gaess? Aku bakalan datang ke Indonesia lho, jangn lupa tungguin gue di sana Oke?!'' kata Karina di story Ig instagram nya.


''Lho beneran mau balik ke Indo Rin?'' tanya teman Karina yang ada di Paris tersebut.


''Iya gue mau pulang, palingan cuma e hari atau semingguan lah di sana, cuma sebentar doang kok?'' kata Karina pada teman nya.


''Apa lho balik ke Indonesia, ingin menemui teman kamu sewaktu masa kecil!'' tanya sang teman.


''Nggak lah! ngapain aku ketemu dia, mungkin dia masih tetap kere, sama seperti disaat aku meninggalkan nya,'' jawab Karina ketus.


''Lagi pula di sini banyak cowok bule yang mau sama aku yang cantik dan juga seksi seperti ini,'' lanjut nya lagi.


''Ya bagus lah kalau begitu, kalau tidak


om akan marah sama aku Karina?'' kata Fania.


''Sudahlah, yuk balik ngantuk nich!'' Karina menarik tangan sepupunya untuk pulang ke apartemen nya.


Memang Karina tumbuh menjadi gadis cantik dan seksi di umur nya yang masih terhitung belasan tahun, dia sangat berubah setelah kepergian nya dulu bersama papa nya ke Paris.


Karina merebahkan tubuh nya di kasur empuk nya yang berada di apartemen yang selama ini ia tinggali.


''Mana mungkin aku bisa suka sama Karan jelek, kampungan itu? aku sudah melupakan nya sekarang, mungkin dulu aku tidak punya teman di desa dan harus berteman dengan anak udik tersebut. Ach... sudah lah! ngapain juga aku harus memiliki dia,'' Ucap Karina memejamkan mata nya karena sudah tampak begitu berat untuk selalu on time di depan layar kamera nya.


********


Pulang sekolah Karan segera menuju ke restoran untuk bekerja, karena dia kemarin sudah bolos tak masuk bekerja.


''Ya Allah? kemarin aku nggak masuk kerja, semoga saja aku nggak dapat peringatan dari manager di sana,'' gumam Karan sambil terus melangkah kan kakinya, Karan emang selalu berjalan kaki menuju ke restoran untuk berhemat, agar ia secepatnya bisa membelikan adik nya sebuah sepeda, namun sekarang rumah nya malah sangat dekat dengan sekolahan nya.


Hanya membutuhkan 20 menit saja, Karan berjalan menuju ke restoran tempat nya bekerja, sesampai nya Karan menyapa semua teman teman nya.

__ADS_1


''Assalamu'alaikum, kak?'' ucap nya ramah.


''Waalaikum salam? apa kabarmu Karan?'' tanya sang Koki tak kalah ramah nya.


''Alhamdulillah baik bang,'' jawab Karan menaruh tas ransel nya di loker tempat kerjanya.


''Kemarin kamu kemana, kata bos kamu ijin, ada acara kah?'' tanya teman yang lain.


''Haa....?'' Ucap Karan kaget, karena dia tak pernah menghubungi bos nya.


''Ach, maksud Karan? ada acara keluarga kak, jadi mau tak mau Karan ijin sama bos?'' jawab nya terkekeh, seraya menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


''Ya sudah, kalau gitu Karan mau bersihin meja dulu bang?'' pamit Karan pada ketiga Koki di dapur restoran.


''Iya, semangat kerjanya??'' jawab sang Koki menyemangati Karan dan juga diri sendiri.


Karan berjalan menuju meja kotor yang sudah di tinggalkan oleh salah satu pengunjung restoran nya.


Karan membawa lap bersih untuk membersihkan meja meja di depan ku, sampai akhirnya ada seorang wanita cantik memanggilku, ''Pelayan?'' teriak pengunjung yang baru datang.


''Maaf nyonya? mau pesan apa?'' tanyaku sopan seraya mengeluarkan buku kecil di dalam saku baju ku.


''Aku pesan menu andalan di restoran ini, dan minum jus avocado dan jus jambu,'' kata wanita tersebut menutup buku menu yang ia lihat sebentar itu, akupun mengangguk dan mencatat nya, setelah itu aku beranjak pergi.


''Bang?'' Ucap Karan menaruh catatan yang di pesan wanita cantik itu.


Di tempat lain Sania ikut Andriana ke rumah nya untuk bermain bersama, karena di rumah nya juga sendirian. Mereka bertiga sedang bersenda gurau di ruang keluarga, kak Citra yang melihat nya merasa sangat bahagia.


Sania sudah tak merasa malu ataupun merasa canggung pada keluarga tantenya, karena mereka begitu baik pada nya, ya walaupun sang Ayah sudah tiada, nmun keluarga dari Ayah nya masih memperlakukan dia begitu baik.


''Sania ayo kejar dong?'' teriak Andrian yang membawa kabur buku Sania.


''Kak Rian? Sania capek, balikin dong buku Sania kak please...?'' rengek Sania mengatur nafas yang sudah naik turun.

__ADS_1


''Sudah lah kak, kasian Sania? baru juga datang ke rumah sudah di giniin sama kak Rian,'' bela Riana menghampiri Sania yang sedang memegang lutut nya.


kak Citra menggeleng pelan, ''Ayo anak anak? sini dong, Mama bawa cemilan buat kalian semua nya,'' Ucap kak Citra yang sedang memegang nampan berisi kue Bolu panggang buatan nya. Karena sejak mendengar suara Sania ketika di luar rumah nya, kak Citra menyibukkan diri di dapur, dengan di bantu sang asisten rumah nya, kak Citra sengaja bikin cemilan untuk Sania, karena Sania tak pernah merasakan masakan nya, apalagi kue kue yang selama ini ia bikin di rumah nya.


''Wah Mama bikin bolu panggang?'' seru Rian senang.


''Enak nich,'' sambung Sania dengan senyuman nya.


Kak Citra mengambilkan anak anak nya dan juga ponakan nya yang kebetulan duduk di samping nya.


''Buatan tante ueeena'e pooll...?'' seru Sania membentuk jari nya seperti lingkaran 👌.


''Bikinan Mama emang enak? dan satu lagi Sania?'' Ucap Riana menghentikan ucapan nya.


''Apa kak?'' tanya Sania dengan mulut penuh nya.


''Bikin nagih pastinya, hahaha,'' jawab Riana tertawa lepas.


''Kak Riana gitu, awal nya sich penasaran? tapi cuma bilang ketagihan saja, kenapa nggak di sambung saja tadi kak?'' Sania merajuk.


Kak Citra terkekeh, ''Sudah sudah? lebih baik kalian habiskan, setelah itu bersihkan tubuh kalian semua yang sudah berkeringat itu, seperti nya Mama ingin muntah, mencium bau keringat kalian bertiga,'' Ujar Kak Citra sedikit bercanda.


''Tapi Sania tidak membawa baju ganti tante?'' sahut Sania menatap sang tante.


''Tenang saja, baju ku banyak di atas,'' balas Riana.


''Atau mungkin mau memakai baju ku,'' sambung Rian seraya terkekeh.


Sania mendelik dan pergi mengikuti Riana, kakak sepupu nya itu ke kamar nya, yang ada di lantai dua.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2