
Sinar matahari menembus melalui celah celah ventilasi kamar pengantin baru, mata yang terpejam mulai menggerakkan bulu mata lentiknya, karena terkena sinar matahari yang membuat tidurnya merasa terganggu.
''Emnggg,'' kak Pinky menggeliat pelan seraya meregangkan otot-otot kakunya. ''Berat sekali sich, seperti di timpa batu besar saja,'' gumam kak Pinky dan melihat ke arah samping nya, ternyata kak Karan yang tengah memeluknya dengan erat, kak Pinky mencoba melepaskan pelukan kak Karan karena hari sudah semakin siang, di tambah lagi jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
''Sayang? biarkan seperti ini dulu, aku masih ngantuk?'' Ujar kak Karan dengan mata yang masih tertutup.
''Mas, aku mau mandi? coba mas tengok sekarang sudah jam 9 pagi ayo cept bangun,'' jawab kak Pinky membuat kak Karan mau tak mau harus membuka matanya untuk melihat sendiri jam dinding yang menempel di tembok kamar nya.
''Kenapa secepat ini sich siangnya, rasanya aku ingin memutar jarum tersebut agar kembali ke waktu ketika kamu keenakan semalam,'' balas Kak Karan absurd, membuat kak Pinky mau tak mau harus berlari dari beruang kutub yang kini mulai berulah.
''Awww,'' ringisnya ketika hendak turun dari ranjang nya.
''Kenapa sayang?'' tanya kak Karan ketika kak Pinky mengaduh kesakitan.
''Ini semua gara-gara kamu tau nggak Mas, aku nggak bisa turun?'' rengek kak Pinky memukul lengan kak Karan.
''Kok gara-gara aku sich,'' tanya kak Karan bingung, dia tak mengerti apa yang dikatakan istri nya barusan? atau mungkin dia hanya pura-pura nggak ngerti saja.
Kak Pinky berjalan tertatih-tatih karena selang**kangan nya masih terasa nyeri dan juga sangat sakit.
''Nggak harus gitu juga kali sayang?'' Ujar nya di ikuti dengan kekehan ledekan. Kak Pinky yang kesal dengan segera pergi ke kamar mandi dan menutup pintu nya dengan kasar, membuat kak Karan terlonjak kaget.
''Astaghfirullah hal adzim? gitu ya kalau punya istri ngambek,'' kak Karan mengelus dadanya pelan seraya membaringkan tubuhnya kembali ke ranjang, tempat yang begitu nyaman baginya saat ini.
__ADS_1
Hanya butuh waktu 15 menit kak Pinky untuk membersihkan diri di kamar mandi, dengan rambut basah dia keluar dari kamar mandi, kak Pinky tak menghiraukan tatapan suami nya yang tengah duduk di ranjang nya.
''Sini biar aku saja yang mengeringkan rambut kamu sayang?'' kak Karan mengambil alih handuk yang sedang di pegang kak Pinky, dengan telaten kak Karan mengeringkan rambut istri tercintanya seraya berbisik.
''Sayang? aku ingin lagi,'' goda nya membuat bulu kuduk yang mendengar nya pun pada berdiri, kak Pinky melotot pada kak Karan.
''Jangan macam macam dech mas? ini saja masih sakit ya, masak iya kamu tega sich sama aku mas?'' jawab nya ketus dan kini dia juga tengah melipat kedua tangan didepan dadanya.
''Tapi enak kan sayang, kamu cuma pura pura saja nggak mau, padahal dalam hatinya bilang pengen?'' ledek kak Karan yang langsung mendapatkan lemparan dari kak Pinky. Rasain suruh siapa jail banget jadi orang, pikir ku.
Kak Karan yang mendapatkan serangan langsung kocar-kacir dan masuk ke dalam kamar mandi nya, tak mungkin juga dia keluar kamar hanya dengan bertelanjang dada.
...****************...
Hari ini aku pergi ke kampus setelah beberapa hari sempat bolos tanpa kabar dan tanpa ijin tentunya.
''Enak saja lho ngatain gue, kayak lho yang rajin saja,'' balas ku dengan kekehan dan tepukan pelan di pundak nya.
''Lho baru tau kalau gue rajin ya, gue selalu hadir bestie? lho aja yang sering bolos, nyebelin banget sich lho sama gue,'' ujar nya yang kini malah merubah mimik wajahnya menjadi cemberut.
''Sudah ach, ayo masuk sekarang? dosen hari ini lumayan killer yang akan masuk ke kelas,'' ajak Rani pada ku, selain Gita aku juga punya teman yang mau berteman denganku apa adanya, buka ada apanya gaes?.
Kita bertiga melangkah masuk ke dalam kelas di mana di sana semua teman teman sudah berkumpul di dalam, hanya dosen killer nya saja yang belum nongol di kelas mereka.
__ADS_1
''Sania lho sudah sehat?'' tanya salah satu teman ku yang kemarin sempat mengaku menolong aku untuk membawa ke UKS yang ada di kampus.
''Alhamdulillah sehat bang?'' jawab ku menyunggingkan senyum manis ku.
''Sania, lho pakek make up ya,'' tanya lagi seorang teman wanita nya. Sedangkan Gita dan Rani baru sadar kalau aku saat ini pakek make up.
''Sania, lho pakek make up?'' tanya nya terkejut.
''Nggak usah terkejut gitu keles? itu kan sudah hal yang lumrah bagi para wanita yang sudah mulai remaja dan sedikit lagi bakalan menuju dewasa juga,'' jawab ku ngasal.
''Apa? lho remaja, sudah tuwir juga masih bilang remaja githu,'' sela Gita dan juga Rani yang terima aku bilang remaja tadi.
Aku mengabaikan mereka yang masih bingung di tempat nya, sedangkan aku sudah duduk di tempat ku karena melihat dosen killer yang sudah masuk ke dalam kelas, kini dosen killer tersebut sedang berdiri tepat di belakang Gita dan juga Rani.
''Kalian semua mau kuliah apa mau foto model di depan teman temannya sich,'' tegur sang dosen dengan nada datarnya. Gita dan Rani hanya meng gerutu menuju kursinya, sesekali dia menunjuk ku dengan tatapan tajam dan penuh kesal.
'Bodo amat dach, dia mau marah atau mau apa juga gue nggak peduli, lagian lho juga sudah jahil padaku tadi, sekarang rasain? ini baru pembalasan yang asik,' ucapku dalam hati tersenyum bahagia. ''Kok aku jahat banget ya pada teman teman gue,'' gumamku pelan ketika menyadari kesalahan ku yang tak seberapa besar.
''Sania lho tega banget sama gue?'' ujar Rani berbisik tepat di telinga ku.
''Aku?'' aku menujuk diriku sendiri ku, ''Aku tega kenapa sich shayy, aku juga nggak tau kalau dosen itu akan nyamperin kalian berdua tadi, kalau gue tau gue akan menarik tangan lho untuk pergi dari hadapan nya, iya nggak?'' jawab ku berbohong.
''Sudahlah, nanti dia malah marah marah lagi sama kita kita, kita dengerin saja apa yang akan di ajarkan dia pada kita kita oke bestie?'' sahut Gita menengahi obrolan kita berdua.
__ADS_1
Dosen yang sedang mengajar kita dikelas saat ini memang sangat tampan dan juga selalu bersikap dingin kepada seluruh mahasiswa nya, mungkin karena dia tak mau di goda oleh semua mahasiswa perempuan, makanya dia bersikap dingin. Aku sendiri bodo amat nggak terlalu memikirkan seorang laki-laki untuk saat ini, bahkan esok lusa dan seterusnya? karena aku sadar dengannpenyakit ku saat ini yang tak memungkin kan untuk mencintai apalagi sampai di cintai oleh laki-laki.
Huchh.... aku menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar, aku juga nggak tau sejak kapan dosen itu mengajar di kelasku, karena selama ini aku tak pernah melihat nya? hanya hari ini saja aku melihat dia mengajar di kelas para mahasiswa koplak.