Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 82 Maaf dari pinky


__ADS_3

''Dokter...!!'' teriak Karan tanpa sadar. Sedangkan Arlan yang tengah membuka pintu ruangan di buat kaget dengan keada'an Sania, dia akhirnya memilih untuk berlari menghampiri dokter di ruangan nya.


''Dokter cepat ke ruangan VIP sekarang,'' pinta Arlan pada sang dokter yang kini tengah berjalan tergesa-gesa.


''Iya, saya ke sana sekarang?'' jelas sang dokter yang menambah cepat dalam melangkah.


Dokter pun masuk ke dalam ruangan Sania, dan dokter menyuruh keluarga pasien untuk keluar terlebih dulu, ''Saya mohon kalian semua keluar dulu tuan dan Nyonya,'' ujar sang dokter yang langsung di lakukan oleh keluarga besar Sanjaya.


''Karan sebenarnya apa yang terjadi pada Sania, bukan nya tadi kamu sudah bilang kalau dia sudah sadarkan diri,'' Arlan memberondong beberapa pertanyaan dari Karan. Arlan begitu khawatir dengan keadaan Sania sekarang, karena tanpa orang ketahui Arlan ada rasa pada Sania.


''Aku juga nggak tau kenapa? tiba-tiba dia sudah tidak sadarkan diri begitu saja,'' jawab Karan menjambak rambut nya kasar. Pinky melihat jelas betapa sayang nya Karan sama Sania sang adik, dan dia merasa bersalah juga pada Sania, karena pertanyaan dia Sania menjadi seperti ini.


'Maafkan aku Sania, bukan maksudku untuk membuat mu seperti ini, tapi aku hanya ingin tau yang sebenarnya, selama ini kamu sudah membohongi aku dengan status kamu yang sebenarnya,' ucap Pinky dalam hati, dia merutuki kesalahan nya.


''Karan?'' sapa Pinky dengan raut muka sedih nya. Pinky mendudukkan diri di samping Karan yang masih memegang kepala nya.


Karan mendongak, dia menatap wajah sedih wanita yang kini ada di samping nya itu, ''Pinky, kenapa?'' tanya Karan dingin.


''Aku hanya ingin minta maaf saja sama kamu, kalau aku nggak bertanya seperti itu, Sania pasti baik baik saja sekarang?'' ucap nya lirih.


''Ini semua bukan salah kamu kok, jadi kamu nggak usah sedih githu,'' sahut Karan menunduk.


''Maksud kalian berdua apa ya,'' tanya Arlan penasaran dengan obrolan Pinky dan juga Karan.


''Bukan apa apa kok!'' jawab Karan ketus, lalu dia menoleh ke arah Arlan yang tadi nya ikut Alexander untuk menyelidiki apa yang terjadi pada adik nya.


''Apa sudah ada hasil nya!'' tanya Karan dingin.


''Belum, namun ada yang bilang kalau Sania terjatuh dan kepala nya terbentur tembok,'' jawab Arlan datar.


''Apa kamu percaya itu,'' tanya ku lagi, dan Arlan menggeleng kan kepala nya pelan.


''Om sudah menyuruh anak buah om, untuk mencari tau penyebab Sania terluka?'' sambung tuan Arzan yang kini tengah menghampiri Karan, selaku paman nya.


''Terima kasih Om? maaf Karan belum bisa jaga Sania dengan baik?'' jawab Karan sedih.


''Sudah lah, adik kamu nggak akan kenapa napa kok, dia akan baik baik saja, mungkin tadi dia syok karena Pinky sudah mengetahui semua nya, sudah lah? lambat laun semua orang pasti tau kalau kalian berdua adalah cucu Sanjaya,'' Ucap nya menepuk punggung Karan yang kini mulai bergetar.

__ADS_1


''Om? aku salah, aku nggak guna sebagai kakak aku belum bisa jadi kakak yang baik bagi adik ku Om, mungkin tadi kalau aku cepat datang ke kampus, kejadian ini tidak akan terjadi,'' Ucap Karan penuh penyesalan.


''Maksud kamu apa Karan!'' seru Arlan menatap sahabat nya yang sedang kalut.


''Tadi Sania sempat menelfon ku, saat aku sedang meeting dengan klayen, di kantor?'' jawab nya lirih.


''Terus Sania mengatakan apa sama kamu?'' tanya tuan Arzan.


''Dia hanya bilang jemput aku kak, tapi aku malah menyuruh nya naik taksi??'' aku menghembuskan nafas dengan kasar.


''Sudah lah jangan terlalu di pikirkan,'' Ucap sang tante menepuk ounggung Karan. Arzan sengaja hanya membawa Citra ke rumah sakit, sedangkan si bungsu dia tinggalkan di rumah bersama sang pengasuh.


''Bagaimana keadaan cucu saya dokter?'' tanya kakek Sanjaya saat melihat sang dokter keluar dari ruang rawat Sania.


''Pasien tidak apa apa, cuma dia hanya syok saja, saya harap kejadian seperti ini tidak terulang kembali?'' jawab sang dokter mengingat kan pada semua orang yang sedang menunggu di luar ruangan.


''Boleh kami masuk dokter?'' tanya kakek Sanjaya.


''Boleh? tapi harus gantian, tidak boleh seperti tadi tuan,'' jelas dokter, ''Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu tuan?'' ujar sang dokter berlalu menuju ke ruangan nya lagi.


Kakek Sanjaya bersama Cinta dan juga Bu wati memasuki ruangan rawat Sania, terlihat Sania sudah sadar dan tersenyum melihat Ibu, tante dan juga sang kakek masuk ke dalam ruangan nya.


''Iya Bu? Sania sudah sadar sebelumn dokter keluar dari sini tadi,'' jawab nya lemah. ''Ibu, tante dan kakek? apa Sania salah ketika Sania menyembuhkan identitas asli Sania pada semua orang, Sania hanya ingin memiliki teman yang tulus kakek?'' tanya nya dengan nada sedih, dan air matanya pun sudah menggenangbdi pelupuk matanya.


''Sudah? kamu jangan nangis lagi ya, kakek akan menjelaskan semua nya pada Pinky, jadi kamu jangan memikirkan hal yang lain dulu, agar kamu lekas sembuh dan kembali beraktifitas,'' jawab kakek Sanjaya lembut seraya mengusap puncak kepala sang cucu yang kini tengah berbaring.


''Yang di bilang kakek kamu itu benar sayang? lebih baik kamu sekarang memikirkan kesehatan kamu sekarang, Kasihan Malaika di rumah, dia sangat kangen sama kekonyolan kakak nya,'' sambung tante Cinta terkekeh dengan ucapan nya yang mengatakan kekonyolan kakak nya. Sania emang konyol namun Malaika dan juga Mikaela begitu menyanyi Sania dengan kekonyolan kekonyolan yang di perbuat kakak semuanya itu.


''Iya tante, Sania juga kangen sama Malaika. Memang nya mereka tidak ikut kesini?'' tanya Sania menoleh ke arah pintu.


''Mereka berdua tidak ikut, kasian kalau mereka ikut kesini, lagian pasti akan di larang oleh dokter yang bertugas di sini.'' jawab sang tante tersenyum. ''Ya sudah kamu cepat sembuh ya sayang? tante keluar dulu, karena masih banyak orang yang ingin menjenguk mu di luar,'' lanjut nya lagi.


''Ayo Pah?'' tambah Cinta mengajak sang Papa yang masih menatap cucu cantik nya.


''Iya,'' jawabnya. ''Kakek keluar dulu ya,'' ujar kakek Sanjaya pada Sania.


''Iya kek, tante? terima kasih ya sudah menjenguk Sania?''

__ADS_1


''Tidak usah bilang seperti itu, tantesudah seharusnya tante menjenguk ponakan tante yang nakal ini, setelah ini kamu harus berubah?'' pesan nya pada Sania, Sania hanya terkekeh seraya menampakkan deretan gigi putih nya pada semua orang di dalam ruangan nya. Kemudian mereka keluar dari ruangan Sania, agar yang di luar juga bisa menjenguk Sania yang sudah sadar.


Ketika aku melihat pintu di buka, aku segera menghampiri orang yang sudah membuka pintu tersebut,orang itu tak lain adalah sang Ibu, ''ibu? bagaimana keadaan Sania sekarang?'' tanya ku khawatir.


''Adik kamu baik baik saja kok, kamu nggak usah khawatir lagi ya, sekarang biarkan tante sama om kamu yang masuk terlebih dulu,'' jawab Bu wati lembut, seraya mengelus punggung aku.


Tante Citra dan Om Arzan masuk ke dalam ruangan VIP dimana Sania sedang istirahat, tak lupa juga Om Fabian juga ikut masuk, guna menemui ponakan nakal itu.


Sania menampakkan senyumnya ketika ointu di buka kembali, yang memperlihatkan tante nya yang masih terlihat sangat cantik dengan gaun hitam nya.


''Bagaimana keadaan kamu sekarang Sania,'' tanya Om Arzan datar, menatap lekat lekat manik mata ponakan nya.


''Sania sudah lebih baik Om, terima kasih sudah perhatian sama Sania,'' jawab Sania gugup, Sania takut kalau sampai kedua Om nya mencerca dengan bermacam-macam pertanyaan yang akan membuat kepala nya serasa pecah.


''Kenapa kamu melamun, apa kamu sudah mengetahui niat Om masuk ke ruangan ini saat ini Sania, dan Om harap kamu akan jujur sama Om apa yang sudah terjadi pada kamu di kampus,'' sambung sangat Om yang mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh ponakan nya.


'Apa Om Arzan bisa membaca pikiran orang-orang ya,' batin Sania, dan dia pun menarik nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan, untuk mengurangi rasa gugup nya.


Mau tak mau Sania harus menceritakan semuanya pada sang Om yang kini sudah menunggu kejujuran ku, Sania menceritakan apa yang terjadi sama dia, sehingga dia pingsan di dalam kamar mandi.


''Sudah ku duga, ini semua adalah di sengaja, memang nya kamu di kampus punya musuh!'' tanya Om Arzan dingin, dan terus menatap Sania, Sania menggeleng.


''Sania rasan tidak punya musuh Om, mana mungkin Sania punya musuh, teman saja cuma satu di kampus yang mau berteman dengan Sania, hanya Gita yang mau berteman sama Sania, karena Sania menurut mereka hanyalah orang rendahan dan orang kampungan.


''Lebih baik mulai sekarang kamu harus berubah, jangan seperti kemarin lagi, kamu keluarga ku, cucu orang terkaya di kota ini,'' ujar tante Citra serius, dia begitu khawatir dengan keadaan ponakan nya, yang di celakai oleh teman kampus nya itu.


Pinky dengan sabar menunggu giliran nya untuk menengok adik dari sahabat nya Karan.


Karan mengulurkan tangan nya pada Pinky, mengajak nya masuk ke dalam karena tante sama Om nya sudah undur diri untuk pulang ke rumah nya.


''Karan, apa Sania akan memaafkan aku,'' tanya Pinky, dia ragu untuk masuk ke dalam.


''Sudah lah, Sania hanya ingin meminta maaf saja sama kamu, apa kamu mau memaafkan kesalahan nya, bukan cuma dia yang salah, tapi aku juga salah sama kamu Pinky,'' Ucap ku lirih.


Sania,'' sapa Pinky.


''Kak Pinky, Sania minta maaf ya kak? Sania salah sama kak Pinky,'' Ucap Sania dengan lirih.

__ADS_1


''Iya, saya sudah memaafkan kamu kok Sania, kamu nggak sepenuhnya salah dalam hal ini,'' jawab Pinky memeluk erat Sania. Aku dan juga Arlan hanya bisa tersenyum melihat wanita di depan kita memainkan drama yang begitu dramatis, pikir ku.


__ADS_2