
''Siapa Sania?'' tanya Pinky khawatir.
''Kak Karan? ngomongnya nggak jelas banget dech?'' jawab Sania yang mengerutkan kening nya.
''Ya sudah kalau gitu kita ke rest sekarang, takut nya terjadi sesuatu sama Ibu kamu kan?'' ucap Pinky mentok tangan Sania.
''Mana mungkin kak Pinky, kak Karan kan sedang di luar negeri sekarang, mana mungkin bisa tau ada apa di restoran sekarang,'' balas Sania yang males berdiri dan kembali lagi menyendokkan makanan nya ke dalam mulut nya.
''Ayolah Sania, perasaan ku nggak enak sekarang?'' ajak Pinky setengah memaksa.
''Sania juga kak? perut nya sedang tidak enak mau minta di isi, sudah lah lebih baik kita makan dulu di sini, selesai makan kita langsung cus ke restoran, mungkin mau di kasih uang sama manajer siapa tau kan?'' seru Sania melanjutkan makan nya.
Sedangkan Pinky bertanya-tanya, kenapa Karan menyuruh Sania cepat ke restoran, namun Pinky tak mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya, kini otaknya sedang nge-lag jadi tak bisa berpikir banyak.
Selesai makan Sania malah meminta Pinky untuk bayarin bill nya, karena dia lupa tidak bawa uang cash, hanya ada kartu black card saja di dompet nya.
''Kak Pinky, bayarin dulu dong? Sania belum gajian nich,'' Ucap Sania berbohong.
'Aku nggak mungkin ngasih nie kartu ke pelayanan kan, apalagi ada kak Pinky? yang ada entar aku di kita tidur sama om om lagi, karena lihat black card ini,' ucap Sania dalam hatinya.
''Berapa semua nya mbak?'' tanya Pinky lalu mengeluarkan dompet nya yang ada dalam tas selempang nya.
''500 ribu kak?'' jawab pelayan ramah, sang pelayan tadi sempat melihat kartu di dompet Sania.
'Bukan nya ada kartu black card di dompet nya kakak ini, tapi kenapa dia bohong dan meminta di bayarin sama teman nya,' ucap nya dalam hati. ''Sudahlah ngapain juga aku mikirin ini semua, yang penting mereka sudah bayar jadi aku nggak bakalan kena omel,'' Gumam nya pelan sehingga tak ada yang mendengar.
__ADS_1
Sang Waiters pun membawa kartu kredit Pinky ke kasir untuk dia gesek.
Tak lama mereka mendapat kan kembali kartu Pinky dan dengan cepat Pinky menarik tangan Sania ke parkiran, Pinky membuka pintu mobil dan masuk ke dalam nya, ''Ayo cepat Sania?'' seru Pinky disaat melihat Sania masih berdiri di samping mobil nya.
Sania bingung dengan sikap Pinky yang seperti nya ingin sekali datang ke restoran nya, ''Kak Pinky? bukan nya hari ini kak Pinky ada jam kuliah ya,'' tanya nya mengerutkan kening nya.
''Sudah lah ayo, habis mengantarkan kamu ke restoran tempat kamu bekerja, aku akan pergi ke kampus untuk mengikuti mata kuliah ku,'' jawab Pinky seraya membuka pintu untuk Sania. ''Ayolah cepat Sania,'' pekik Pinky yang ucapan nya nggak di respon sama sekali oleh Sania.
''Sania bisa naik taksi kok kak, kakak balik ke kampus gih?'' ujar Sania yang masih tak mau masuk ke dalam mobil nya Pinky.
''Ayo cepat Sania, aku takut terjadi sesuatu sama Ibu, kamu enteng gitu sich, siapa tau Ibu kenapa kenapa di restoran, dan para pelayan menelfon kakak kamu yang berada si luar negeri, ayolah, please...?'' ucap Pinky panjang lebar, setelah memaksa beberapa kali akhirnya Sania mau pergi bersama Pinky ke restoran.
Pinky melakukan mobil nya dengan kecepatan di atas rata rata, yang sukses membuat Sania jantungan karena ulah Pinky yang nyetir kayak orang laki-laki.
''Kak Pinky, Sania belum mau mati? Sania belum nikah dan juga belum merasakan surga dunia,'' celetuk Sania, namun ucapan Sania tidak di respon oleh Pinky, dan hasilnya tak butuh waktu lama untuk sampai di restoran yang Karan tadi bilang pada Sania adiknya.
Tiba di dalam restoran Pinky di buat kaget setelah melihat Karan sedang mengobrol dengan Ibu nya di restoran yang ia datangi.
''Kak Pinky tega ninggalin aku sendirian di dalam mobil,'' teriak Sania membuat Karan dan juga Bu Wati menoleh ke asal suara, Sania juga terkejut dengan kakak nya yang tiba-tiba ada di Indonesia.
''Kak Karan ada di sini, kenapa nggak hubungi Sania kak?'' seru Sania menghambur pada Karan sang kakak dan memeluk nya. Sedangkan Pinky menutup mulut nya karena melihat laki-laki yang ia kangenin ada di hadapan nya sekarang.
''Nak Pinky sini gabung sama kita?'' ujar Bu Wati melambaikan tangan pada Pinky yang masih terdiam karena keterkejutan nya.
Pinky menghampiri Bu Wati, Sania dan juga Karan di meja yang berada tak jauh dari nya, Pinky tersenyum seraya berkata, ''Ibu nggak apa apa kan?'' tanya Pinky yang kini tengah berdiri di samping Bu Wati.
__ADS_1
''Ibu nggak apa apa kok, kenapa kamu khawatir githu?'' Bu Wati tak menjawab pertanyaan Pinky, malah dia yang bertanya balik pada nya.
''Kak Pinky tuh khawatir sama Ibu tadi, setelah kak Karan nelfon Sania, lagian kak Karan cuma bilang suruh datang ke restoran cepat, tanpa memberitahu kalau dia sudah ada di sini,'' jawab Sania menunjuk kakak nya yang sedari tadi sedang menatap ke arah Pinky.
''Karan kamu nelfon adik kamu!'' tanya nya menatap ke arah putera nya.
''Bu? kalau Karan bilang yang sejujurnya sama adik, nggak bakalan jadi kejutan seperti ini dong, kan nggak seru?!'' bela Karan pada sang Ibu, Bu Wati berdecak sembari menggeleng gelengkan kepalanya pelan.
''Tau nggak kak, sangking khawatir nya sama Ibu kak Pinky menarik tangan Sania ketika Sania sedang makan,'' cerita Sania.
''Terus kenapa kamu lama sampai nya di sini!'' tanya Karan pada Sania.
''Ya Sania nggak mau, kan Sania sudah bilang kalau Sania sedang makan karena sangat lapar?'' jawab Sania memainkan jari telunjuk nya 👉👈.
''Terus kenapa kamu nggak ngomong sama kakak, kalau ada Pinky di dekat kamu dek?'' tanya Karan menyelidiki.
''Bagaimana mau bilang kak? kan kak Karan langsung memutuskan panggilan nya begitu saja, jadi jangan salain Sania dong kak?'' bela Sania yang tak mau di salahkan oleh kakak nya.
''Pinky ganggu kalian ya,'' Ujar Pinky tiba-tiba, lantas keduanya menoleh ke asal suara di samping nya.
''Nggak, nggak ganggu sama sekali sich Pinky, maaf kalau aku mengabaikan kamu,'' jawab Karan merasa bersalah pada sahabat nya.
''Nggak apa apa kok, oiya kamu apa kabar Karan, dah lama ya nggak calling,'' Ucap Pinky dengan senyuman manis nya.
.
__ADS_1
.
.