
Kini tujuan Sania yang terakhir adalah rumah sakit di mana dia selalu melakukan cek up setiap bulan nya.
Sania mendapatkan giliran nomor 11, da n saat ini masih tersisa 1 orang lagi yang melakukan pemeriksaan rutinan tipa bulan nya. Sania mengarahkan pandangan ke arah lain dan di sana ternyata sepupu Arlan yang dulu sempat menggoda suami nya, Sania mengangkat alis nya ke atas melihat sepupu dari auami nya juga berada di rumah sakit, namun yang membuatnya bingung Sania adalah wanita itu ada di depan poli kandungan, entah kenapa Sania ingin sekali menghampiri nya saat ini. Namun dia juga merasa takut bertemu dengan sepupu Arlan.
Tapi rasa penasaran nya lebih kuat jadi Sania beranjak dari duduk nya dan menghampiri sepupu suami nya yang tengah duduk di kursi tunggu di luar ruangan.
''Haduch! mau apa lagi kamu ke sini!'' Ujar Rika ketika melihat istri dari saudara nya menghampiri nya.
''Aku hanya ingin bertanya sama kamu kok, kamu sedang apa di sini dan sama siapa?'' jawab Sania dengan lembut dan masih ingin mengetahui saudara suami nya mendatangi dokter kandungan.
''Nggak usah sok peduli dech sama aku, kamu sekarang sudah puas dan merasa menang karena sudah berhasil merebut Arlan dari ku, tapi asal kamu tau saja. sampai sekarang aku tidak pernah benar-benar merelakan Arlan untuk mu, dan lebih baik kamu tunggu saja tanggal main nya!'' Tukas nya dengan nada sombong nya. ''Aku akan merebut Arlan kembali ke dalam pelukan ku, dan apalagi kamu nggak bisa ngasih dia keturunan kan? mungkin dia juga bakalan bosan dan akan mencari wanita lain karena kamu yang mandul itu!!'' tambah nya lagi yang terus menyudutkan Sania, di sisi lain Sania begitu penasaran dengan Rika yang seperti nya menunggu seseorang untuk keluar dari ruangan dokter kandungan, tapi di sisi lain hati Sania sekarang merasa sakit atas apa yang di katakan oleh saudara suami nya itu.
'Apa mungkin Mas Arlan akan meninggalkan aku kalau aku tidak kunjung hamil, apa selama ini Mas Arlan berbuat baik padaku karena terpaksa, atau apakah dia ingin mencari wanita lain dan ingin memiliki anak dengan nya,' Gumam Sania dalam hati, sembari terus memikirkan suami nya yang tengah berada di kantor nya.
''Halah---!! nggak usah melamun segala dech, lebih baik dari sekarang kamu ikhlasin saja suamimu itu untuk ku seorang,'' ungkap nya dengan melipat kedua tangan dan di taruh di depan dada nya, Rika tersenyum sinis kebarh Sania yang saat ini tengah bingung dan sedang memikirkan semua ucapan yang di lontarkan oleh Rika kepada nya.
''Sudahlah lebih baik kamu kembali ke dokter kamu, kamu nggak budek kan kalau sudah di panggil!!'' tambah lagi dengan nada mengejek.
Tanpa berkata-kata lagi Sania sudah melangkah pergi menjauh dari hadapan Rika, saudara sepupu Arlan yang begitu berambisi merebut suami nya dari tangan nya, Sania segera masuk ke ruangan dokter setelah di panggil oleh Suster yang menjadi asisten dokter yang menangani penyakit Sania.
Sania melangkah kan kakinya masuk ke dalam ruangan dengan perasa'an yang entah kenapa sekarang dia tak lagi menginginkan kesembuhan, mengingat semua perkataan yang di lontarkan dari saudara sepupu Arlan.
''Nona Sania, kamu baik baik saja kan?'' tanya sang dokter ketika melihat Sania masih terus berdiri di depan nya.
''Ach, a-aku baik baik saja dokter?'' jawab Sania dengan gugup.
''Duduklah dulu, seperti nya ada yang sedang di pikirkan oleh Nona Sania saat ini, boleh bercerita kepada saya agar semua nya bisa menemukan solusi dari semua masalah yang kini tengah di pikirkan Nona Sania sendiri,'' Ujar sang dokter lembut, agar Sania bisa membagi rasa sedih dan juga yang tengah di pikirkan saat ini.
''Saya bingung dokter mau bertanya apa?'' sahut Sania pelan, sehingga dokter di depan nya mengulang pertanya'an nya kepada Sania.
''Maaf Nona Sania, bisa di ulang kembali apa yang di ucapkan barusan?'' tanya nya sekali lagi.
''Apakah kanker darah bisa memengaruhi kesuburan wanita?'' tanya Sania dan menghela nafas panjang nya, untuk mengurai rasa gugup dan rasa kecewa nya mungkin.
''Pengobatan kanker darah dibutuhkan untuk membantu melawan sel-sel kanker yang bersarang di tubuh pasien, baik melalui kemoterapi, radiasi, atau pengobatan kanker lainnya. Namun nyatanya, masing-masing pengobatan kanker darah memberikan efek samping pada kesuburan.
__ADS_1
1 Kemoterapi
''Pengobatan kanker darah berupa kemoterapi dapat memengaruhi kesuburan wanita dan pria. Pada wanita, kemoterapi dapat menurunkan atau bahkan menghentikan kemampuan ovarium untuk memproduksi sel telur. Hal ini disebut juga dengan kegagalan ovarium yang mengakibatkan menopause dini.
Gangguan kesuburan akibat kemoterapi biasanya tergantung pada dosis obat kemoterapi yang diberikan. Obat kemoterapi dosis rendah yang diberikan selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan dapat lebih cepat menurunkan kesuburan pasiennya, ketimbang pemberian obat kemoterapi dosis tinggi dalam satu waktu.
Obat kanker yang masuk dalam kelompok alkylating agents adalah jenis obat kemoterapi yang dapat menurunkan kesuburan wanita. Obat tersebut meliputi:
Cyclophosphamide (Cytoxan)
Ifosfamide (Ifex atau Mitoxana)
Melphalan (Alkeran)
Busulfan (Myleran atau Busulfex)
Procarbazine (Matulane)
Sebenarnya, masih banyak efek samping kemoterapi yang mungkin akan muncul. Untuk tahu lebih lanjut, Anda bisa mengetahuinya di artikel 9 Efek yang mungkin terjadi akibat kemoterapi ini.
Terapi radiasi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker. Setelah terapi radiasi selesai dilakukan, pasien biasanya akan diberikan obat dosis rendah (fraksi) yang harus diminum berminggu-minggu untuk membantu mengurangi efek samping radiasi.
Sayangnya, kombinasi sinar energi tinggi dan obat dosis rendah jangka panjang justru dapat menghancurkan beberapa atau bahkan semua sel telur yang ada di ovarium. Akibatnya, pasien wanita berisiko tidak subur dan mengalami menopause dini.
Meskipun sinar radiasi nya tidak diarahkan langsung ke ovarium, sinar tersebut tetap dapat memantul di dalam tubuh dan berisiko membahayakan ovarium. Untuk melindungi organ reproduksi wanita dari masalah kesuburan, dokter biasanya akan ‘menggeser’ ovarium supaya tidak terkena radiasi.
3.Cangkok tulang sumsum
Jika pengobatan kanker darah lainnya tidak membantu, pasien kanker darah akan di arahkan untuk menjalani cangkok sumsum tulang belakang sebagai pilihan terakhir.
Cara ini dilakukan untuk menggantikan kondisi sumsum tulang yang rusak supaya bisa menghasilkan sel darah yang sehat. Harapan nya, hal ini dapat meningkatkan harapan hidup pasien dan mengembalikan kesehatan nya seperti sedia kala.
Meskipun manfaat nya sangat besar, pengobatan kanker darah yang satu ini dapat mengganggu kesuburan wanita. Pasalnya, cangkok sumsum tulang belakang biasanya menggunakan obat kemoterapi dosis tinggi atau terapi radiasi ke seluruh tubuh sebelum cangkok itu dimulai,'' kata sang Dokter menjelaskan semuanya kepada Sania.
Perasa'an Sania semakin tak menentu setelah mendengar semua penjelasan dari dokter di depan nya. Sania pun sempat berpikiran yang macam macam, di tambah lagi dengan ucapan demi ucapan yang di lontarkan Rika tadi kepada nya, dunia nya menjadi gelap dan tak ada warna lagi di kehidupan nya.
__ADS_1
'Apakah Mas Arlan akan meninggalkan aku sebentar lagi?' pikir nya dalam hati.
Sania yang ingin menangis pun segera berpamitan kepada Dokter yang selama ini sudah menangani nya. ''Kalau gitu Sania pamit dulu Dokter? dan terima kasih banyak atas penjelasan yang Dokter berikan kepada Sania,'' ujar nya mengulurkan tangan nya dan segera beranjak pergi dari hadapan sang Dokter.
Dokter itu merasa aneh ketika melihat sikap Sania tidak seperti biasa nya, sejak awal dia menampakkan wajah nya sikap dia sudah sangat aneh sekali, apa mungkin dia tengah bertengkar dengan pasangan nya, pikir Dokter wanita yang melihat sikap Sania yang aneh.
Sania berjalan menuju parkiran rumah sakit untuk mengambil mobil nya, Sania lalu menyalakan mobil nya dan melajukan mobil nya menuju desa di mana dia terlahir beserta kuburan Ayah nya berada, Sania sudah gelap mata dan dia juga tak ingin pulang ke rumah ataupun ke apartemen suami nya, perkata'an Rika selalu berputar putar di kepalanya layak nya kaset rusak, Sania pun menambah kecepatan nya agar segera sampai di desa kakek nya.
Deringan telfon tidak ia pedulikan, obat yang seharus nya sudah di minum pun kini ia tak hiraukan lagi, Sania terus saja menambahkan kecepatan mobil nya.
Di sisi lain Arlan tengah menghawatirkan istri kecil nya yang sampai saat ini belum juga pulang ke apartemen nya, ''Kemana kamu sich sayang? dan kenapa kamu nggak mau menjawab panggilan ku walau hanya sebentar,'' Gumam Arlan sambil mondar mandir di dalam apartemen nya.
Arlan baru saja sampai di apartemen nya setelah seharian sibuk dengan pekerjaan nya yang sangat menumpuk, di tambah lagi harus menjaga kesehatan Sania juga.
''Apa mungkin dia masih berada di rumah Bunda?'' gumam nya lagi.
Arlan segera mencari nomor Bunda nya untuk mengetahui keberada'an istri kecil nya yang juga belum pulang.
Telfon pun tersambung dan Arlan tak harus menunggu waktu yang lama untuk mendengar kan suara lembut Bunda nya.
-''Assalamu'alaikum nak Arlan?'' Ucap Bu Wati setelah menggeser layar ponsel nya ke warna hijau.
-''Waalaikum salam Bunda? apa istri Arlan ada di sana saat ini,'' tanya Arlan ramah.
-''Sania sudah pulang dari sini sejak tadi siang, dia bilang ingin pergi ke rumah sakit khusus kanker dan selanjutnya akan melakukan cek up di rumah sakit seperti biasa nya?'' jawab Bu Wati lembut.
-''Och baiklah, terima kasih Bunda? mungkin dia masih ada di rumah sakit sekarang?'' balas nya dan mematikan sambungan telfon nya setelah mengucapkan salam kepada Bunda mertuanya.
Sampai malam pun tiba Sania belum juga pulang ke apartemen nya, Arlan yang merasa khawatir segera pergi keluar untuk mencari istri nya, pikiran Arlan terbang kemana mana, mengingat istri kecil nya belum sembuh benar dari sakit nya.
.
.
.
__ADS_1
.