Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 151 Kekaguman Arlan


__ADS_3

Setelah minum obat dan ganti baju Sania berbaring di ranjang nya, sedangkan Arlan sudah kembali menemui para tamu undangan, yang emang belum pulang, ada sebagian dari para kolega tuan Arzan dan tuan Fabian yang sudah undur diri, tapi tidak dengan teman Karan dan juga Arlan. Mereka masih menemani kedua nya di tempat pesta, sampai jam menunjukkan pukul 12 malam barulah mereka semua undur diri, karena menurut mereka tidak mau mengganggu ketenangan keluarga Sanjaya.


Setelah kepergian semua teman teman nya Arlan dan juga Karan kembali ke kamar nya masing-masing, ketika berjalan beriringan Karan mengajak Arlan mengobrol.


''Bagaimana Sania?'' tanya Karan masih terus saja melangkah, tanpa menatap ke arah Arlan yang sudah menjadi Adik ipar nya.


''Sania sudah tertidur, setelah meminum obat nya? ternyata alasan Sania tidak mau meminum obat nya karena mungkin dia sudah bosan, dan juga karena obat nya juga terlalu banyak, tadi juga aku sempat kaget melihat semua obat obatan yang ia konsumsi selama ini,'' Jawab Arlan menghentikan langkah nya.


''Tapi dia masih mau kan meminum obat nya, aku juga nggak tega melihat itu semua Arlan? makanya aku lebih memilih hanya mengingatkan nya saja, tanpa mau melihat dia meminum nya langsung, aku harap kamu tidak menyesal dengan keputusan yang kamu buat ini,'' sela Karan yang juga ikut menghentikan langkah nya.


'''Karan, sudah berapa kali aku mengatakan, kalau aku sangat yakin menikahi Sania. Tanpa rasa penyesalan sedikit pun, asal kau tau kalau sangat mencintai adek kamu? jadi aku harap kamu tidak akan pernah menanyakan masalah ini lagi kedepan nya, karena aku nggak mau Sania berpikir yang macam macam tentang ku dan akan membuat penyakit nya kambuh,'' jawab Arlan panjang lebar, Arlan pun beranjak pergi menuju ke kamar nya dengan dengan rasa kesal di dalam dada nya.


Namun hati Arlan terasa bahagia, ketika dirinya tengah melihat sang istri tengah melakukan sholat malam nya, Arlan sempat menengok jam dinding yang menempel di tembok yang tak jauh di sana, dia sekilas melihat pukul 1 kurang.


Arlan tak berani masuk ke dalam kamar nya, menunggu Sania selesai dengan keluh kesah nya dengan sang Maha pencipta, Arlan tertegun dan juga kagum ketika mendengar semua do'a yang di panjatkan oleh sang istri kecilnya yang baru ia nikahi tadi sore.


''Ya Allah. Terima kasih engkau sudah menghadirkan jodoh untuk hamba, tapi hamba sungguh sangat sedih ketika hamba harus merepotkan orang yang hamba sayangi, hamba sangat bersyukur karena di sisa umur hamba yang sekarang? masih bisa merasakan di sayangi oleh laki-laki yang sangat hamba cintai, namun hamba sadar diri dengan keada'an hamba yang jauh dari kata sempurna ini, jadi? hamba pendam perasa'an yang hamba rasakan selama ini. Hamba sadar kalau hamba tidaklah pantas untuk di cintai? apalagi untuk di kasihani, sungguh hamba merasa bersyukur sekali di saat laki-laki itu dengan tegas nya melamar ku di depan keluarga ku. Hamba hanyalah seorang wanita yang ber penyakitan? pantaskah hamba bisa bersanding dengan laki-laki tersebut, sedangkan di luaran sana masih banyak wanita yang mencintai suami hamba, maafkan hamba ya Allah? kalau hamba belum bisa membahagiakan suami hamba?'' Semua kata kata yang Sania panjatkan membuat Arlan sedih, dan juga sekaligus bahagia, ketika dia mendengar bahawa Sania juga mencintai diri nya.


Setelah Sania selesai dengan sholat dan juga bermunajat kepada Allah SWT, Arlan melihat Sania melipat mukenah nya dan memakai kembali hijab yang selalu menempel di kepalanya.

__ADS_1


Dengan pelan Arlan membuka pintu kamar nya, Sania yang mendengar pintu kamar nya di buka pun menoleh ke arah pintu, di mana di sana suami nya tengah tersenyum. Sania menghampiri Arlan dan mengulurkan tangan nya untuk mencium punggung tangan suami nya.


''Sudah pulang semua teman teman nya?'' tanya Sania lembut seraya menatap wajah tampan suami nya yang terlihat lelah. Arlan hanya mengangguk seraya mencium kening suami nya.


''Kamu selesai sholat?'' tanya Arlan ketika melihat sajadah dan juga mukenah Sania masih tergeletak di bawah, Arlan juga masih pura pura nggak tau kalau Sania selesai sholat, dia masih bertanya juga.


''Iya Mas?''


''Kok nggak nunggu mas dulu?'' sela Arlan menatap manik mata istri nya yang masih sembab oleh air mata yang mungkin keluar saat mengadu kepada sang Pencipta tadi.


''akamu habis nangis?'' tanya Arlan mengusap sisa sisa air mata di pipi sang istri.


''Mas mau bersih bersih dulu, setelah itu akan melaksanakan kewajiban yang sempat tertunda tadi, karena teman teman Mas lama pulang nya,'' jawab Arlan mengelus puncak kepala sang istri, Arlan berjalan menuju ke kamar mandi yang ada didalam kamar nya.


Tak butuh waktu lama Arlan menyelesaikan ritual mandi nya, dengan sudah memakai baju koko dan juga sarung, tak lupa juga Arlan mengambil pecinya yang berada di dalam tas yang mungkin dia selalu bawa kemana pun dia pergi.


Arlan nampak menggelar sajadah nya dan segera melaksanakan sholat Isya' terlebih dahulu, dan di lanjut dengan sholat hajat nya, Arlan berdo'a untuk sang istri, meminta kesembuhan untuk istri kecil nya, dan dia juga meminta kesabaran lebih menghadapi istri nya. Ada kalanya mood Sania naik turun mungkin karena dia masih berpikiran tak bisa membahagiakan suami nya.


''Kok belum tidur sayang?'' Ucap Arlan ketika melihat istri kecilnya masih duduk di sofa dalam kamar nya, dengan memegang Al-Qur'an kecil di tangan nya.

__ADS_1


''Sebentar lagi Mas, Sania ngaji dulu bentar? nggak apa apa kan?'' tanya Sania kepada suami nya, takut nya sang suami malah marah ketika di minta untuk istirahat malah masih sibuk membaca Al-Qur'an.


Arlan berjalan menghampiri istri kecil nya sembari mengembangkan senyum manis nya, Arlan menatap wajah Sania yang nampak sayu.


''Tak apa sayang? masak ia Mas melarang kamu untuk membaca Al-Qur'an, malah Mas sendiri senang melihat istri cantik Mas ini mengaji di waktu senggang nya? namun pesan Mas, kalau merasa capek lebih baik istirahat saja dulu, nanti kita lanjut di waktu Subuh, dan jangan lupa ajari Mas mengaji juga,'' jawab Arlan panjang lebar seraya terus mengembangkan senyuman nya, dia sangat bahagia sekali mempunyai istri yang cantik dan juga sholehah seperti Sania. Dia berpikir sejenak, karena dia sudah benar mengambil keputusan untuk menikah dengan Sania.


Sedangkan di luaran sana ada seseorang yang menyayang kan dengan keputusan Arlan, di adalah gadis yang emang selalu mengejar cinta Arlan, namun cinta itu tak pernah di sambut oleh Arlan. Arlan hanya menganggap dia hanya sebatas teman saja tidak lebih.


.


.


.


Terima kasih buat kakak yang selalu hadir di karya receh ku ini.


jangan lupa like dan komen,


Terima kasih🙏😘💕🙏😘💕🙏😘💕

__ADS_1


__ADS_2