
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit, sang baby juga sudah mulai sehat dan menggemaskan, Sania di bawa pergi ke ruangan bayi untuk bertemu dengan ketiga anak anak nya yang ada di sana.
Sania yang sudah tidak sabar untuk menggendong ketiga anak nyanertanya kepada para suster yang ada di sana saat ini.
''Suster, bisakah aku menggendong anak anak ku sekarang?'' tanya Sania dengan nada sedih nya, karena semenjak kemarin lahiran dia belum pernah menggendong ketiga anak anak nya sana sekali, karena harus berada di ruangan bayi belum bisa di bawa ke ruangan nya.
''Nona, masuk saja dulu. Biar saya ambil salah satu bayi Nona,'' jawab nya dengan ramah, Sania sangat bahagia sekali mendengar ucapan sang suster yang ternyata di bolehin menggendong anak anak nya.
''Maaf Nona masih belum bisa di gendong semua nya,'' Ucap nya laginseraya menyerahkan baby boy yang kininsedang tertidur pulas.
''Nggak apa apa suster, ini saja aku sudah sangat bersyukur karena sudah di bolehin gendong?'' jawab Sania mengambil bayi nya dari sang suster, Sania mendongakkan kepala nya, dia menatap wajah suami nya dengan sangat lekat, ketika melihat baby boy nya begitu mirip dengan suami tampan nya.
''Kok dia lebih mirip sama kamu sich Mas, tidak ada yang mirip dengan aku? padahal aku yang sudah mengandung dan- aku juga yang sudah kesakitan melahirkan dia,'' gumam nya menatap bayi mungil yang ada di gendongan nya saat ini.
''Bagaimanapun juga dia tetap anak kita sayang? mau mirip siapa siapa juga itu kan sudah Allah yang mengatur semua nya dan bukan Mas juga kan,'' balas nya. dengan menunduk di samping Sania, Arlan menatap wajah bayi kecil nya yang begitu lucu.
''Nich coba lihat, bibir sama hidung nya lebih mirip sama kamu kan? jadi bukan mirip Mas semua nya,'' seru Arlan menunjuk bibir mungil putera nya yang gerak gerak seperti sedang mencari sesuatu.
''Suster, mungkin dia haus sekarang?'' Ucap Arlan kepada salah satu suster yang sedang berjaga di sana.
''Nona Sania bisa langsung menyusui bayi nya saat ini,'' jawab sang suster yang sudah berada di samping nya, karena ketika Arlan memanggil nya, sang suster langsung melangkah kaki nya menghampiri Arlan dan juga Sania.
''Baiklah,'' sahut Sania yang dengan segera memberikan Asi nya kepada bayi laki-laki nya. Pertama Sania merasa geli dan begitu sakit saat put**ing nya di hisap oleh sang bayi. Sania sesekali meringis karena merasa sakit, tapi Sania juga merasa sangat senang karena sudah menyusui putera kecil nya secara langsung, kalau kemarin dia malah menyedot Asi nya dengan pompa yang di beli oleh Arlan suami nya.
''Kalau masih sakit? jangan di lanjutkan sayang, aku nggak tegur mendengar kamu meringis seperti itu,'' kata Arlan menatap wajah istri kecil nya yang meringis namun dia juga tersenyum menatap wajah imut putera nya.
''Nggak apa apa kok Mas, aku hanya terkejut saja ketika dia mengisap nya terlalu kuat, namun aku juga senang memberikan Adi langsung kepada jagoan ku seperti ini,'' jawab nya yang masih menatap wajah lucu bayi laki-laki nya.
__ADS_1
Tiba-tiba Sania di kaget kan karena sang bayi memuntahkan susu nya begitu saja, membuat Mama baru itu memanggil sang suster.
''Suster, kenapa bisa muntah begini? apa dia terlalu kenyang,'' tanya Sania panik.
Suster pun mengambil bayi yang ada di gendongan Sania, karena sang suster melihat Sania tengah panik karena melihat bayi laki-laki nya memuntahkan Asi nya begitu saja.
''Nggak apa kok Nona, mungkin baby boy nya sudah kenyang? tapi dia masih terus saja meminum Asi Nona,'' balas nya dengan lembut, agar tidak membuat Sania terlalu panik.
''Sudah sayang jangan panik seperti itu, putera kita nggak apa apa kok, dia cuma muntah sedikit? lebih baik kamu kembali ke ruangan sekarang, karena kamu harus lebih banyak beristirahat lagi agar kita bisa pulang bersama bayi bayi kita nanti kerumah Bunda oke,'' ajak Arlan dengan lembut.
''Tapi aku masih ingin menggendong nya Mas?'' Ucap Sania menundukkan kepala nya, ada setitik air mata yang sudah ada di pelupuk mata nya.
''Sudah, kalau kita sudah ada di rumah Bunda, kamu bisa sepuas nya menggendong ketiga nya oke, jadi kamu nggak boleh terus terusan bersedih seperti itu, nanti Asi kamu jadi tidak lancar seperti biasa nya, karena kamu terlalu sedih. Memang nya kamu tidak kasihan kepada anak anak kita? kalau sampai kekurangan Adi dari kamu,'' kata Arlan yang di benarkan oleh suster yang nada di samping nya dengan botol yang berisi Asi Sania.
''Yang di katakan tuan Arlan ada benar nya Nona, kasian mereka bertiga kalau sampai Asi Nona tidak lancar, pasti mereka akan kekurangan nanti nya,'' sambung sang suster yang sudah menggendong bayi perempuan nya yang tadi sempat nangis sebentar.
''Tapi Nona,'' Ucap sang suster gugup, pasal nya bayi yang saat ini ia gendong adalah bayi yang sebelumnya mengalami keracunan, jadi belum bisa di lihat yang lain nya.
Arlan yang mengerti segera menghibur Sania istri kecil nya agar dia mau di ajak kembali ke ruangan nya.
''Sayang, sudahlah? mending kita balik ken ruangan sekarang, biarkan suster yang merawat anak anak kita di sini, agar dia juga cepat di bawa pulang juga,'' bujuk nya dengan sangat lembut. Sehingga membuat Sania mengangguk kan kepala nya pelan, Sania hanya bisa pasrah mendengar ucapan demi ucapan yang di katakan oleh suami nya. Tapi Sania sama sekali tidak merasa curiga sama sekali ketika suster itu tidak memperbolehkan sang bayi di hending oleh Ibu nya.
Arlan mendorong kursi roda istri nya menuju ruangan nya, Arlan juga menggendong tubuh gendut Sania dari kursi roda nya untuk di batingkan ke ranjang tempat tidur yang ada di ruangan VIP saat ini.
''Mas, kapan aku bisa pulang ke rumah Bunda? Sania sudah tidak betah berada di rumah sakit ini, Sania juga ingin menggendong bayi bayi Sania tanpa harus di pilih pilih seperti tadi,'' ucap nya dengan nada sedih nya.
''Kalau kamu sudah sehat dan bayi bayi kita juga sudah sehat, baru kita bisa pulang ke rumah Bunda, memang nya kenapa kalau ada di sini sekarang, kan ada suami tampan kamu yang selalu menjaga kamu selama ini,'' jawab nya dengan senyuman yang menyeringai.
__ADS_1
''Ach, sudah lah Sania tidur saja, kalau ngobrol dengan Mas Arlan tidak ada habis nya,'' balas nya dengan memiringkan tubuh nya yang masih terasa nyeri di bagian perut nya, tapi ya seperti itu lah kalau selesai operasi harus miring kanan dan juga miring kiri, agar tidak terlalu sakit ketika mau bangun dari tidur nya.
''Sayang, kok kamu tidur seperti itu sich? memang nya tidak sakit?'' gumam Arlan yang akan membenarkan posisi tidur Sania istri kecil nya.
''Perut Sania lebih sakit lagi kalau melihat wajah Mas Arlan, aku ngantuk jangan ganggu aku oke,'' jawab nya ketus dan segera memejamkan mata nya, agar suami nya tidak banyak bicara.
Arlan yang melihat mata istri nya terpejam hanya bisa menghembuskan nafas nya dengan kasar, mengingat sang istri kini sudah merasa kesal dengan nya, mungkin karena dia tidak di perbolehkan untuk menggendong bayi perempuan nya tadi.
'Aku hanya tidak ingin melihat kamu sedih karena melihat bayi kita yang masih lemah itu sayang, sedangkan kesehatan kamu belum terlalu pulih untuk mengetahui ini semua, aku tidak ingin melihat kamu kembali down hanya karena memikirkan putery kita yang masih belum terlalu sehat, mungkin dia hari lagi kita bisa pulang kemruamh Bunda dengan ketiga malaikat kecil kita ke sana, tolong maafkan aku yang mungkin buat kamu terlalu egois, tapi itu semua demi kebaikan kamu juga,' gumam Arlan dalam hati nya.
Arlan berjalan menuju sofa yang ada di ruangan nya, Arlan mengeluarkan ponsel nya dari saku celana nya. Dia menghubungi seseorang yang menurut dia bisa di ajak ngobrol untuk membahas kepulangan Sania dari rumah sakit, orang itu tak lain adalah tuan Arzan suami Mama Citra.
Sambungan telfon tersambung, tapi belum di angkat oleh sang pemilik ponsel.
Arlan mencoba menghubungi nya kembali, namun kali ini segera di jawab oleh tuan Arzan paman nya Sania.
-''Ada apa Arlan?'' tanya seseorang di seberang telfon setelah menggeaer layar ponsel nya.
-''Om, Sania dari tadi merengek ingin segera pulang ke rumah Bunda, tapi ketiga bayi kita masih harus menjalani perawatan di sini Om, aku sudah lelah terus saja membuju Sania saat ini. Kalau aku bilang yang sesungguhnya kepada dia, aku takut kesehatan nya malah menurun,'' jawab Arlan panjang lebar kepada Om nya yang sudah di anggap sebagai Ayah nya oleh sang istri Sania.
-''Nanti aku hubungi lagi kamu, kamu tidak bilang yang sebenarnya dulu kepada istri kamu itu, dia memang sangat keras kepala seperti Karan, kalau gitu aku matikan sambungan telfon nya, aku ada meeting penting,'' balas nya dan memutuskan sambungan telfon nya dengan Arlan.
Tuan Arzan memanggil asisten nya untuk masuk ke ruangan nya sekarang, sang asisten di suruh mengutus kepulangan Sania dengan beberapa alat yang di butuhkan ketiga bayi nya juga, dalam sekejap semua nya terselesaikan dengan rapi kalau sudah sang asisten yang turun langsung.
Beberapa jam kemudian, ada dua orang Dokter yang menemui Sania di ruangan nya, dengan mengatakan kalau dia sudah bisa pulang dengan ketiga anak anak nya, Sania yang notabene nya sudah sangat rindu dengan rumah nya, sangat senang karena sebentar lagi dia akan menggendong bayi bayi nya dengan sepuas nya.
Dengan mobil khusus yang membawa ketiga bayi nya menuju ke rumah sang Bunda, Sania merasa ada yang aneh karena bayi nya masih ada di dalam inkubator.
__ADS_1