Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 123 Menutup Aurat


__ADS_3

Bu Wati masuk ke ruangan Sania seorang diri, dia harus lebih tegar di hadapan puteri kecil nya. Senyuman Bu Wati membuat Sania lebih kuat dari sebelum nya, kalau Sania mengira dia sudah tiada, namun tidak dengan Bu Wati yang mengharapkan kesembuhan sang puteri.


''Kamu sudah sadar sayang?'' tanya Bu Wati mengelus puncak kepala Sania. Sania menyambut uluran tangan Ibundanya dengan senyum yang mengembang di bibir pucat nya.


''Sania nggak apa apa kok Bu, lihat saja sekarang?'' jawab Sania dengan kekehan nya.


'Ibu harap, Ibu akan selalu melihat senyuman kamu yang manis ini setiap hari sayang?' batin Bu Wati berkecamuk.


Bu Wati tersenyum melihat puteri nya bertingkah layak nya seperti orang tidak punya penyakit yang parah, ''Alhamdulillah kalau begitu sayang, kamu tau nggak tadi Ibu khawatir banget kalau kamu pingsan di dalam taksi,'' kata Bu Wati mencoba tetap tegar, namun hatinya berkecamuk seakan akan dia ingin terus memeluk puteri kecil nya yang tak pernah mengeluh karena penyakit nya.


''Mungkin Sania kecapean saja Bu, makanya Sania bisa pingsan seperti tadi,'' balas Sania menggenggam tangan sang Ibu.


''Ibu jangan sedih lagi ya, Sania kan masih hidup belum mati?!'' tukas Sania, dia sudah mengira kalau Ibu nya sudah mengetahui penyakit yang ia derita selama ini.


''Kamu ngomong apa sich? emang nya kamu tega ninggalin Ibu sendirian di dunia ini,'' seru Bu Wati yang kini sudah mulai meneteskan air matanya. ''Ibu nggak akan rela kalau kamu ninggalin aku sayang?'' Ujar Bu Wati lirih.


Tangan Sania menghapus air mata Ibu nya yang sudah mengalir deras di kedua pipi nya. ''Ibu jangan menangis lagi ya, kan masih ada kak Karan dan juga kak Pinky? yang akan selalu menemani Ibu kalau Sania sudah tiada nanti,'' jawab Sania yang juga ikutan mengeluarkan air matanya.


''Sudah kamu jangan ngomong seperti itu lagi ya, Ibu tau kamu kuat dan akan sembuh dari penyakit kamu sayang? satu pesan Ibu, jangan pernah menyerah dan selalu sabar dalam menghadapi ujian yang Allah beri, Allah tidak akan memberi cobaa kepada hambanya melebihi kemampuan dari hamba nya itu sendiri,'' gumam Bu Wati mengingat kan puteri nya akan kebesaran Allah SWT. ''Dan satu hal lagi, belajarlah untuk ikhlas dan juga berbagi pada Ibu mu ini nak, Ibu tak akan sakit seperti ini? jika kamu memberitahu Ibu dari kemarin?'' pecah sudah tangisan Bu Wati yang sedari tadi mencoba untuk tetap tegar, mungkin tadi hanya linangan air mata saja yang terus mengalir di kedua pipi nya, tapi sekarang Bu Wati menangis histeris sembari memeluk puteri yang masih terlihat lemah namun Sania mencoba terlihat baik baik saja di depan Ibunda nya.


''Maafkan Sania Bu, Sania tidak mau membuat Ibu seperti ini. Kalau misalkan Sania cerita sama Ibu dari kemarin mungkin Ibu akan bertambah sedih lebih dari ini sekarang. Tapi ya sudah lah? pasti semua orang sudah mengetahui penyakit Sania kan?'' Sania mengelus punggung Bu Wati yang bergetar karena tangis nya, sedangkan di luar pintu ruangan Arlan melihat ke dalam kamar rawat Sania melalui kaca yang terletak di pintu ruangan kamar Sania.

__ADS_1


'Mungkin Sania berkata seperti itu kemarin hanya untuk menjauh dari ku saja, dan itu aku lakukan karena ucapan Sania. Aku memang bodoh! pergi tanpa mencari tau kebenaran yang sesungguh nya,' gumam Arlan dalam hati, yang telah menyesal dengan keputusan nya dengan mengundurkan diri dari restoran Sania.


Di dalam kamar kini Sania menghibur sang Bunda, agar tidak berlarut larut dalam kesedihan nya, ''Boleh lah Sania panggil Ibu dengan Bunda?'' tanya Sania pada sang Ibu yang kini tengah menatap nya bingung.


''Kenapa harus di ganti sayang?'' tanya Bu Wati heran, kenapa puteri nya tiba-tiba ingin memanggil dirinya dengan sebutan Bunda.


''Boleh nggak Bu?'' rengek Sania membuat Bu Wati hemas melihat tingkah puteri nya.


Bu Wati mengangguk seraya berkata. ''Boleh dong sayang? apa sich yang nggak boleh untuk puteri tercinta Ibu,'' balas Bu Wati mencubit hidung mancung Sania.


Sania nampak tersenyum melihat sang Ibu sudah tak lagi sedih, Sania sangat bahagia sekali saat ini. Karena sudah di beri Ibu yang sangat baik dan sangat mengerti dirinya.


Sampai akhirnya pintu ruangan di buka oleh orang yang sok tampan. Siapa lagi kalau bukan Karan sang kakak yang tiba-tiba menerobos masuk karena menurut dia Ibu nya sudah sangat lama berada di dalam, sedangkan keluarga yang lain tengah menunggu di luar sembari mengomel membuat telinga Karan menjadi panas dan merasa budek juga, karena ucapan ucapan yang di lontarkan dari kakek nya.


''Orang ganteng nggak usah nunggu perintah, lagian siapa kamu mau memerintah ku seperti itu,'' balas Karan datar.


''Cich,'' Sania berdecih melihat sang kakak yang berujar seperti itu pada nya. ''Ganteng dari mana, lawong jelek juga ngaku ngaku ganteng,'' seru Sania yang langsung mengundang gelak tawa semua orang yang berada di luar ruangan, karena sewaktu Karan masuk ke dalam, dia sengaja membiarkan pintu tetap terbuka, agar mereka semua tidak terlalu mengkhawatirkan Sania lagi.


Sania menepuk jidad nya mendengar kekehan keluarga nya yang ada di luar sana, Sania pun juga ikut tertawa melihat kekonyolan dirinya sendiri.


''Sayang? kalau begitu Ibu keluar dulu ya, kasian semuanya yang sedang menunggu giliran ingin menjenguk kamu di sini,'' kata Bu Wati yang di angguki Sania.

__ADS_1


''Bunda? sebelum Bunda keluar dari sini, bolehkah Sania minta tolong pada Bunda untuk membelikan Sania hijab serta gamis? Sania ingin seperti Bunda yang menutup aurat dari sekarang?'' pintar Sania pada sang Bunda, Bu Wati meneteskan kembali air matanya, namun buru buru dia hapus dan mengangguk.


''Baiklah, Bunda akan belikan untuk puteri cantik Bunda ini,'' ujar nya dan melangkah pergi. Kini hanya tinggallah Karan yang masih berada di dalam, dia mematung mendengar permintaan adik nya pada Bunda nya.


'Semoga ini bukan akhir perjalanan kamu dek? kakak masih belum bisa membahagiakan kamu, dan kamu ingin meninggalkan kakak begitu saja,' Ucap Karan dalam hati.


''Kak Karan kenapa?'' tanya Sania membuyarkan lamunan nya.


''Ach...'' kaget nya, ''Kakak nggak apa apa kok dek, kamu sudah sehat kan sekarang?'' tanya Karan mengalihkan kan pertanya'an dari adik nya.


Sania tersenyum melihat kakak nya yang terlihat bingung di depan nya, Karan yang mengerti kalau dirinya tengah di tatap oleh sang adik memilih untuk menghindar. Dia memilih keluar tanpa mengucapkan sesuatu pada Sania, Sania yang melihat nya hanya terkekeh dengan kakak nya.


.


.


.


.


Terima kasih yang selalu dukung karya receh Al-mahyra, tanpa kalian mayra takkan menjadi seperti sekarang.

__ADS_1


Terima kasih 🙏🙏😘😘😘💕💕💕


__ADS_2