
Andrian dan juga Andriana keluar dari mobilnya dan berjalan menuju ke kelasnya, karena sebentar lagi upacara akan segera di mulai.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua Mas Arzan mendatangi kantor kepala sekolah, dia menanyakan tentang Karan dan juga adeknya yakni Sania. Sang kepala sekolah pun menjelaskan perihal Karan dan juga Sania.
''Karan dan Sania adalah murid yang pandai dan juga cerdas tuan, mereka sekolah di sini, karena rekomendasi teman saya yang kebetulan mengajar di kampung, dan Karan adalah anak didik dari teman saya tuan,'' jelas Pak kepala sekolah.
''Boleh saya meminta data data mereka berdua Pak?'' pinta Mas Arzan pada Pak kepala sekolah, sang kepala sekolah tak menolak permintaan Mas Arzan, beliau dengan segera mencari data data Karan dan juga Sania untuk di berikan kepada Mas Arzan, karena Mas Arzan sendiri adalah salah satu dari orang yang ikut menyumbang di sekolah SMP Negeri 1.
''Ini data data mereka berdua tuan?'' Pak kepala sekolah memberikan dua lembar kertas yang berisi data data Karan dan Sania.
Mas Arzan memeriksa kertas kertas itu, Mas Arzan begitu fokus memeriksa dua kertas itu dan setelah di lihatnya barulah Mas Arzan menyerah kan dua kertas kepada sekretaris nya yang kebetulan juga datang ke kantor kepala sekolah.
Sang sekretaris mengangguk dan berpamitan pada kepala sekolah, dan juga Mas Arzan, sekretaris nya langsung pergi ke alamat Karan dan Sania sekarang tinggal, dan juga berencana mendatangi desa kelahiran Karan dan Sania. Semua anak buah nya di kerahkan untuk mencari informasi Karan dan juga Sania, Mas Arzan berpikir kalau Karan dan Sania adalah benar anak dari Candra. Di data tersebut di jelaskan kalau nama ayah mereka adalah Muhammad Candra, bukan Candra putra Sanjaya.
Setelah urusan meraka selesai, Mas Arzan langsung menuju ke kantor nya, yang lumayan jauh dari sekolah Andrian dan juga Andriana anak-anaknya.
Di dalam kelas 8-A Andrian dan Riana nggak fokus mengikuti pelajaran nya, mereka memikirkan Papa nya yang keluar dari kantor kepala sekolah nya.
''Adek? kira kira Papa ngapain ya di kantor kepala sekolah tadi,'' tanya Andrian pelan karena masih jam pelajaran.
Riana hanya menaikkan bahu nya saja, Riana tak terlalu memikirkan Papa nya, yang di pikirkan sekarang hanya lah Sang Mama, terbersit di dalam fikiran Riana yang ingin mengajak Sania ke rumahnya, namun dia berpikir kembali, karena apa mungkin di ijinkan oleh Karan sang kakak.
Bel sekolah berbunyi yang menandakan kalau sudah waktunya istirahat, setelah sang guru keluar dari dalam kelas, semua siswa siswi berhamburan keluar kelas, namun tidak dengan Sania yang masih sibuk membereskan buku bukunya yang masih ada di atas meja.
''Adek, ayo makan?'' ajak Karan pada Sania yang masih sibuk dengan buku bukunya.
''Iya sebentar kak, Sania masih merapikan buku buku Sania dulu ya,'' jawab Sania memasukkan buku pelajaran nya ke dalam tas sekolah nya.
__ADS_1
Karan dan Sania membuka bekal makanan nya di dalam kelas 7-B, tepatnya kelas Sania. Mereka begitu lahap menyantap makanan yang mereka bawa dari rumah nya.
Andrian dan Riana melintas di depan kelas Sania, mereka berdua melihat kakak, adek yang sedang menyantap makanan dengan begitu lahap nya.
''Apa mereka berdua tidak membawa uang saku ya, sehingga mereka berdua membawa bekal seperti itu,'' gumam riana.
''Ya sudah kita samperin saja yuck, kakak salut pada mereka yang tak pernah mengeluh pada Ibu dan Ayah-nya,'' ajak Andrian menggandeng tangan Riana adek nya.
Sebelum Andrian dan Riana masuk ke dalam kelas Sania, mereka berdua mengucapkan salam terlebih dulu.
''Assalamu'alaikum,'' Ucap Andrian dan juga Riana kompak.
''Waalaikum salam,'' jawab Karan dan Sania hampir bersama'an.
''Maaf ganggu waktu makan siang kalian,'' Ujar Andrian sopan dan mengembangkan senyum di bibir tipisnya.
''Ayo duduk, maaf kita lagi makan? kalian sudah makan belum,'' tanya Karan pada kedua-nya.
''Kami sudah dari kantin kok, kalian makan saja dulu, dan maaf kalau kami berdua ganggu kamu yang lagi makan,'' Ucap Andrian merasa tak enak hati.
''Kak Karan, mereka berdua siapa?'' bisik Sania yang emang nggak tau mereka berdua siapa.
''Kakak juga nggak tau mereka siapa dek? tapi kemarin kakak bertemu mereka di restoran tempat kakak kerja,'' jawab Karan juga berbisik pada adek nya.
''Hahaha, maaf sebelum nya ya, kalian pasti bertanya tanya kan siapa kamu berdua, iya dek?,'' ucap Andrian dan bertanya pada adek nya. Riana mengangguk dan tersenyum menatap Sania yang kebingungan.
''Kenalkan aku Andrian, dan ini adek aku Andriana, kalian boleh manggil Rian dan juga Riana saja,'' kata Andrian mengenalkan diri.
__ADS_1
''Hallo?'' lanjut Riana mengulurkan tangan pada Karan dan juga Sania yang berada di depannya.
Karan dan Sania menyambut uluran tangan dari Riana dan juga Andrian, sembari berkata.
''Karan,''
''Sania,'' Ucap mereka berdua dan melepas kan uluran tangan masing-masing.
''Kalau boleh tau, kenapa kalian nggak makan di kantin saja?'' tanya Andrian penasaran.
''Nggak, kami berdua lebih enak makan di sini saja, lagian kan kami nggak beli sesuatu di kantin sekolah,'' jawab Sania pelan dan masih melanjutkan sendokan nya.
''Kenapa emangnya kalau tidak beli sesuatu di sana,'' tanya Riana menoleh pada Andrian Sang kakak.
''Ya malulah kak, datang ke kantin sekolah tapi tak beli sesuatu apapun.'' lanjut Sania tersenyum getir, Sania tidak malu mengatakan yang sejujur-nya pada orang yang baru kenal, namun itu semua adalah fakta, jadi ngapain harus malu.
''Kenapa harus malu sich, maaf sebelum nya? apa kalian tidak membawa uang saku,'' tanya Riana hati hati karena takut Karan maupun Sania tersinggung akan ucapan nya.
''Kita bawa uang saku kok kak, tapi Sania tabung agar suatu hari ketika Sania mau beli buku dan membutuhkan sesuatu, tidak lagi meminta pada Ibu?'' jawab Sania dengan senyum manisnya.
''Kami berdua salut banget sama kalian berdua, apalagi sama kak Karan, kalau misalkan besok besok Andrian mengajak kak Karan dan Sania ke rumah Andrian mau nggak?'' Ucap Andrian sungguh sungguh, karena Andrian ingin Mama nya berlama-lama dengan kak Karan di rumahnnya.
''Insya Allah saja ya, kita nggak janji? takutnya Karan ada pekerjaa'n mendadak,'' sahut Karan membereskan tempat makan nya.
''Iya kak, kami tunggu kak Karan?'' ujar Riana memperlihatkan deretan gigi putih nya.
''Hai Karan? ayo ke kelas sebentar lagi belajar masuk lho,'' kata Pinky tiba-tiba masuk ke kelas Sania.
__ADS_1
BERSAMBUNG