
Karan membuka pintu ruangan yang Sania tempati saat ini, dia menundukkan kepala nya menuju kedua sahabat nya yang sedang duduk di kursi tunggu. Karan melewati sahabat nya dan memilih duduk sendiri yang agak jauh dari kedua sahabat nya.
''Siapa yang berani melakukan ini semua sama adik ku,'' lirih nya dan ia pun menjambak rambut nya.
''Arlan? sebenarnya apa yang terjadi pada Sania, kenapa dokter bilang dia belum sadar juga sampai sekarang,'' tanya Karan datar, dia menatap sahabat yang tadi membawa adik nya ke rumah sakit.
''Aku juga nggak tau? tadi aku sampai di sana Sania sudah tidak sadarkan diri, tapi petugas di sana mengatakan ada seseorang yang mengantar Sania ke UKS, dan dia bilang kalau menemukan Sania sudah tidak sadarkan diri githu!'' jawab Arlan mengingat ngingat apa yang tadi petugas UKS katakan padanya.
''Alex lhonharua selidiki kejadian ini, aku nggak mau tau? lho harus nemuin pelaku yang membuat adikku menjadi seperti ini!'' titah Karan pada tangan kanan nya.
Alexander menatap ke arah Arlan sejenak, dan mengiyakan perintah dari tuan muda nya.
''Baiklah?!'' jawab nya mengangkat salah satu alis nya ke atas.
''Aku ikut, aku ingin lihat siapa dalang dari semua ini,'' ujar Arlan yang membuat Karan mengerutkan keningnya.
''Serius!'' tanya Karan dingin.
''Ya serius lah?'' jawab nya tak kalah dingin.
Mereka bertiga melihat Sania di dorong menuju ke ruang rawat nya, mereka bertiga pun mengikuti dokter dan beberapa suster yang kini tengah mendorong brankar.
''Karan? lho harus beritahu Bunda dan juga yang lain nya, agar mereka semua tidak menyalahkan kita semua karena sudah menyembunyikan hal yang se genting ini,'' suruh Arlan yang tak ada sopan sopan nya pada Karan.
Karang mengangguk dan melangkah pergi untuk menelfon keluarga nya yang lain, sedang sang Ibu, Karan memilih menghubungi sopir pribadi Ibunya, untuk mengantarkan kerumah sakit, tanpa harus membuat sang Ibu mengetahui terlebih dulu.
Di sisi lain, Pinky sedang bermalas malasan di butik nya, dia memainkan Firefayer untuk mengisi kebosenan nya.
Tiba-tiba handphone nya berdering, dan Pinky melihat nomor tak di kenal itu lagi yang nelfon. ''Orang gila itu lagi yang nelfo?'' Gumam Pinky dan menggeser layar handphone nya, dan menampakkan sosok laki-laki yang tampan yang terlihat di layar handphone Pinky.
-''Assalamu'alaikum,'' Ucap Karan, ketika melihat wajah bantal gadis yang badan di layar handphone nya.
-''Waalaikum salam?'' jawab Pinky lembut dan mengembangkan senyum manis nya. 'Ternyata orang yang ngejailin aku adalah Karan,' Gumam Pinky dalam hati.
-''Maaf Pinky? kalau aku mengganggu waktu istirahat kamu,'' lanjut Karan ketika melihat Pinky termenung.
-''Nggak apa apa kok, ada apa kok telfon?'' tanya Pinky ragu.
__ADS_1
-''Aku hanya ingin bilang? kalau Sania di rawat di rumah sakit,'' jawab Karan dengan rasa sedih nya.
-''Iya, aku ke sana sekarang?'' balas Pinky merubah posisi nya menjadi duduk, sekilas Karan melihat aset pribadi Pinky, karena Pinky hanya memakai singlet berwarna hitam yang memperlihatkan buah da*da nya terlihat.
-''Aku matiin?'' seru Pinky yang sudah menurunkan kaki nya dari ranjang mini nya. Panggilan pun terputus, kini wajah Karan menjadi merah karena mengingat apa yang di lihat barusan.
'Kenapa Pinky sembrono begitu sich dalam berpakaian, kalau orang lain yang melihat nya bagaimana,' ucap Karan dalam hati.
Sania berada di ruangan VIP. Dan kini semua keluarga besar nya sedang berkumpul di ruangan tersebut. Ya saat ini Sania sudah sadar pingsan nya, dan dia malah bingung ketika melihat ruangan yang serba putih ketika dia pertama kali membuka mata nya.
''Kenapa semua nya serba putih sich? apa jangan jangan aku sudah meninggal, nggak? nggak, aku nggak mau mati secepat ini!'' seru Sania tanpa melihat ke arah keluarga nya yang sedang duduk di sofa yang berada tak jauh dari ranjang nya.
''Apa'an sich lho dek? lho masih hidup dan masih segar bugar kayak gini malah omongan nya ngelantur kayak githu, gimana sich?'' jawab Karan dan menghampiri sang adik, namun siapa sangka? Karan menghampiri adiknya hanya untuk menyentil nya doang! gila nggak sich, baru sadar sudah mendapatkan senyilan seperti ini, pikir Sania.
''Aaaww... sakit tau kak?'' Ucap Sania mengelus dahinya yang baru sentil dahi oleh Karan kakak nya.
''Lagian lho lama banget tidur nya, ech bangun bangun nya malah berkata belum mati? kan nggak jelas banget Saniaaaa,'' jawab Karan. ''Noh! tengok di sana? semua orang pada berkumpul di sini, dan kamu nya malah asik molor dan berkata yang bukan bukan juga, meng kesel!!'' Ujar Karan yang duduk di samping sang adik.
''Karan...?!'' ujar kakek Sanjaya yang berjalan tertatih tatih dengan tongkat nya menghampiri kedua cucu nya yang sedang berdebat.
''Kakek? kak Karan menyentil dahiku,'' adu Sania merengek pada sang kakek.
''Karan? kamu seharusnya memberi kan kasih sayang pada adik kamu, ini malah menyakiti nya,'' seru kakek Sanjaya pada cucu cucu nya.
''Tapi kek? kakek dengar sendiri kan tadi dia bilang apa, aku marah mendengar nya kek??'' bela Karan.
''Tapi kan Sania nggak tau dan nggak sadar juga kak? kalau Sania berada di rumah sakit saat ini,'' Gumam Sania memainkan jari jari lentik nya.
''Kamu bahkan tidur hampir 10 jam lamanya, dan kita sedang sedih melihat kamu yang terbaring seperti tadi,'' sambung Karan dengan nada sedih nya, aku mendongakkan kepalaku, agar air mata yang sudah menggenang tidak sampai terjatuh.
''Assalamu'alaikum,'' Ucap Pinky dari luar dan membuka pintu ruangan di mana Sania di rawat.
''Waalaikum salam,'' jawab semua orang yang ada di dalam ruangan yang hampir barengan.
Namun tidak dengan Karan dan juga Sania, dia saling melemparkan tatapan ke satu sama lain. 'Kedatangan Pinky sungguh tidak tepat sekali, dia datang di saat keluarga besar ku sedang berkumpul,' Gumam Karan dalam hati.
'Kalau seperti ini, bisa bisa kak Pinky tau identitas ku yang sebenarnya,' Ucap Sania dalam hatinya juga.
__ADS_1
Pinky mencium punggung tangan keluarga besar Karan. ''Bunda juga di sini,'' sapa Pinky ketika bersalaman dengan Ibu Sania.
''Iya nak Pinky? kamu tau dari mana kalau Sania di rawat di rumah sakit ini,'' tanya Bu Wati lembut.
''Karan tadi nelfon Pinky Bunda, kalau dia nggak nelfon Pinky nggak mungkin tau kalau Sania sedang di rawat di rumah sakit ini,'' jelas Pinky mengembangkan senyum manis nya.
''I...ini siapa Bunda?'' tanya Pinky gugup, melihat keluarga Sanjaya pada berkumpul di ruang rawat Sania.
''Saya Cinta tante Sania dan juga Karan,'' ujar nya memperkenalkan diri pada Pinky.
Sania dan Karan hanya bisa menepuk jidad nya karena terbongkar lah sudah identitas mereka berdua. '''Gimana dong kak? kita sudah ketahuan,'' bisik Sania pada kakak nya.
''Sudahlah, kita pasrah saja. lagian mereka juga akan mengatakan yang sebenarnya sama Pinky,'' balas Karan tak kalah pelan nya.
''Ini semua salah kak Karan? kenapa harus menelfon kak Pinky,'' Sania menyalahkan kakak nya karena dia yang memberitahukan itu semua pada Pinky.
''Kakak juga nggak menyangka, kalau mereka bakalan lama di sini,'' sesal Karan. Namun semua nya percuma karena nasi sudah menjadi bubur.
''Tuan kan...?'' Ucap Pinky menghentikan ucapan nya.
''Jangan panggil aku tuan? panggil saja om, seperti Sania dan Karan. Karena saya adalah suami dari tante Karan.
''Maksud tuan... ech maksud Pinky Om, sebenarnya apa yang terjadi di sini,'' tanya Pinky penasaran.
''Bukan apa apa kok kak Pinky, iya kan Om?'' potong Sania, membuat Pinky bertambah penasaran dengan kata kata Sania.
Pinky menghampiri Sania dan juga Karan, buka hanya Karan saja yang berada di samping Sania, tapi juga ada seorang laki-laki paruh baya terkaya di kota ini.
''Jelasin apa yang saya nggak tau Sania? selama ini saya sudah jujur sama kamu, namun kamu sendiri malah nggak mau jujur,'' tanya Pinky kesal dan juga dengan nada mulai meninggi.
''Maaf kak Pinky, Sania kan pernah bilang sama kak Pinky? kalau Sania nggak wajib menjawab pertanyaan kak Pinky. Sania bukan nya mau menutupi ini semua dari kak Pinky, tapi Sania sudah nyaman menjadi orang sederhana, tanpa memperlihatkan harta yang kini Sania miliki kak?'' jawab Sania lirih, dia bahkan menundukkan kepala nya, sedangkan matanya sudah meneteskan bulir bulir bening yang kini membanjiri kedua pipi nya.
''Ini bukan salah Sania, tapi salah ku Pinky,'' sambung Karan memeluk Sania dengan erat, menopang tubuh Sania yang masih tergolong lemah, karena dia sendiri baru juga sadar dari pingsan nya.
''Sudah biar kakek yang menjelaskan sama nakal Pinky, sebenarnya Karan dan juga Sania adalah cucu kakek, mereka adalah anak dari putera sulung ku yang bernama Candra Sanjaya. Sebenarnya kakek ingin mengumumkan semua ini sejak lama, namun karena permintaan mereka berdua, kakek mengurungkan memberitahu kepada semua kolega kolega kakek. Karena Karan maupun Pinky ingin hidup dengan cara nya sendiri, mereka bilang tak mau kalau semua teman nya yang membenci nya akan bersikap baik pada nya, kalau mereka tau Karan dan juga Sania adalah cucu kakek. itulah sebabnya mereka menyembunyikan identitas aslinya,'' Ucap kakek Sanjaya menjelaskan pada Pinky. Pinky menutup mulut nya karena tak percaya dengan semua ucapan kakek Sanjaya yang menyebutkan Karan adalah cucu dari putera sulung nya.
''Apa benar semuanya Karan,'' tanya Pinky yang melangkah menghampiri Karan. Karan hanya bisa menganggukkan kepala nya, sedangkan tangan nya masih memeluk tubuh Sania sang adik yang kini sudah tak sadarkan diri kembali, semua orang panik memanggil dokter yang merawat Sania.
__ADS_1