
Riana pulang ke rumah setelah menenangkan diri dulu di taman dekat kota, dia tak mau pulang sebelum tangisan nya mereda dan dia juga tak mau pulang ke rumah nya dengan penampilan yang seperti sekarang ini.
''Bagaimana aku harus bersikap pada adik sepupu ku, dan kenapa juga dia harus berbohong dan menutupi sakitnya pada semua keluarga nya,'' gumam Riana yang mulai menangis kembali memikirkan sang sepupu yang kini tengah menderita penyakit kanker tersebut.
''Riana...?'' sapa seseorang yang membuat Riana mau tak mau harus menoleh ke asal suara.
''Sedang apa kamu di sini malam malam?'' tanyanya lagi yang kini sudah duduk di samping Riana.
''Ach, aku nggak apa apa kok? cuma ingin menangis saja kok,'' jawab nya seraya mengusap air matanya yang masih mengalir di kedua pipi mulusnya.
''Aku tau kamu Riana? nggak mungkin kamu seperti ini kalau kamu nggak ada masalah yang sangat serius?'' Ucap nya yang memang mengerti tentang Riana, karena selama 7 tahun ini mereka hampir bersama bahkan setiap hari harus bertemu di kampus.
Laki-laki yang sedang mengajak ngobrol Riana adalah sang dosen killer di kampus Sania, tempat di mana dia mengajar sekarang, sebut saja Michael Yusman.
''Cerita saja padaku Riana? ada apa sebenarnya,'' desak Michael pada Riana.
''Michael, kamu kan seorang dokter? pasti kamu tau kan penyakit kanker tak bisa di sembuhkan?'' tanya Riana yang mulai meneteskan kembali air matanya.
''Kanker?'' Ucap Michael terkejut, ''Siapa yang terkena kanker Riana, kamu nggak apa apa kan?'' tanya Michael khawatir.
''Bukan aku yang terkena penyakit itu, tapi adik sepupu gue yang tengah mengalami penyakit ini sekarang?''
''Ach syukurlah, itu bukan kamu Riana?'' jawab Michael lega.
''Gitu jawab nya sich?'' sela Riana tak puas dengan jawab Michael.
__ADS_1
''Ya karena aku tau sepupu kamu begitu kuat dengan penyakit nya sekarang ini. Aku juga punya mahasiswa yang punya penyakit sama dengan sepupu kamu itu, tapi dia kuat masih memikirkan kebahagiaan keluarga nya, dia lebih memilih untuk menyembunyikan penyakit nya hanya untuk sebuah senyuman di dalam keluarga besarnya, dan dia juga mengatakan senyuman keluarga besarnya adalah semangat dia untuk tetap hidup, mungkin bagi kita dia sangat lah kuat, namun ternyata dia rapuh karena tak ada yang menyemangati untuk diri nya,'' jelas Michael panjang lebar.
''Siapa mahasiswa itu Michael?'' tanya Riana penasaran.
''Kalau nggak salah namanya Sania, tadi dia sempat pingsan di kelas ketika baku ngajar di sana,''
''Apa? Sania,'' tanya Riana kembali memastikan kalau nama itu benar milik adik sepupu nya.
''Iya, Sania? kamu kenapa kaget gitu dengar nya,'' tanya Michael kembali.
''Michael, dia adik sepupu aku, yang kamu ceritakan utu Sania adik sepupu aku Michael?'' seru Riana luruh ke tanah, dia kembali menangis mengetahui fakta sang badik menutupi penyakit nya. 'Kenapa kamu harus menyembunyikan penyakit kamu Sania, sejak kapan dia punya penyakit seperti itu,' gumam Riana dalam hati.
''Michael, tanda tanda dari penyakit itu seperti apa,'' sela Riana di tengah isak tangisnya.
''Gejala awal mungkin sering sakit kepala, emangnya kenapa kamu tanya gitu.'' tanya Michael mengerutkan kening nya.
Tanpa sadar di belakang mereka ada seorang laki-laki paruh baya sedang mengupinh obrolan mereka berdua, dengan berlinang air mata dia mendengar tentang penyakit sang ponakan yang selama ini terlihat baik baik saja di luar nya, namun dia ternyata sangat rapuh dengan penyakit yang ia derita sekarang.
''Bagaimana kamu tau penyakit Sania sayang?'' Ucap tuan Arzan yang sudah membuka suara nya.
Mereka berdua menoleh ke asal suara, di mana tuan Arzan sedang berdiri tak jauh dari sana. Riana terkejut setelah melihat wajah Papa nya di sana.
''Papa? Papa di sini sejak kapan?'' tanya Riana menghapus air matanya dan beranjak dari tempat nya, berjalan menghampiri sang Ayah.
''Dari tadi, sejak kamu duduk sendirian dan Papa ingin menghampiri kamu, namun teman kamu lebih dulu duduk di samping anak Papa ini, namun Papa lihat kamu menangis jadi Papa memutuskan untuk mendengar kan semua obrolan kamu di sini.''
__ADS_1
Jelasnya, Riana menghambur ke pelukan Papa nya dengan tangisan makin menjadi.
''Papa ngikutin Riana pergi ya?'' tanya Riana lirih, mengetahui Papa nya sudah mengetahui nya.
''Papa nggak harus capek capek membuntuti anak gadis Papa, karena Papa sendiri punya banyak mata di sekitaran sini,'' jawab nya. Tuan Arzan mencoba menenangkan sang puteri dengan terus mengelus elus punggung Riana, puteri kecilnya yang sangat cengeng menurut tuan Arzan.
''Jadi kamu seorang dokter?'' tanya tuan Arzan datar.
''Iya Om, alhamdulillah?'' jawab Michael sopan.
''Jadi kamu tau untuk menyembuhkan penyakit kanker seperti apa?''
''Dengan melakukan kemoterapi dan tanpa telat minum obat nya, insya Allah akan menekan pertumbuhan kanker tersebut. Namun untuk bisa sembuh total hanya Allah yang tau, segala penyakit bisa disembuhkan dengan kesabaran dan nju gantian keikhlasan, karena ini semua sudah rencana dari Allah untuk menguji semua Ummat nya,'' Ujar Michael yang di angguki oleh tuan Arzan dan juga Riana.
''Dia tak boleh capek, dan harus banyak beristirahat agar tubuhnya tidak down.''
''Iya, kamu benar? segala penyakit itu datang nya dari yang maha Kuasa, dan kembali juga ke sang Khalik.'' sambung tuan Arzan.
''Ya sudah, ayo pulang sekarang? nggak baik anak gadis malam malam berbuat di sini,'' sela tuan Arzan yang langsung di cubit oleh Riana puteri kecil tuan Arzan.
''Yang dikatakan Papa kamu ada benar nya Riana,'' sambung Michael tersenyum.
''Kalau gitu aku pulang dulu Michael? kapan kapan kita ngobrol lagi,'' kata Riana yang di angguki Michael.
Riana di bawa pergi oleh Papa nya, sedangkan Michael kembali menjatuhkan bokong nya ke kursi yang tadi ia duduki bersama Riana, sebenarnya Michael menyukai Riana yang tegas dan nggak cengeng. Namun tebakan Michael salah besar, Riana tak sekuat pemikiran Michael selama ini.
__ADS_1
''Aku kita kamu tak pernah menangis Riana? karena aku selalu melihat keceria'an di dalam diri kamu selama ini, kamu yang tegas dalam bersikap danncuek dengan orang lain, namun setelah aku tau kamu menangis malam ini, aku mengerti? seorang gadis periang seperti mu bisa menangis juga,'' gumam Michael setelah kepergian Riana dan juga tuan Arzan Papa Riana.