
Arlan membaringkan Sania di tempat tidur nya, sedangkan Arlan sendiri tidak bisa tidur memikirkan perkataan yang selalu di lontarkan oleh Karan sahabat nya.
''Kenapa semua orang tidak pernah percaya kepada ku, kalau aku sungguh sungguh mencintai Sania, kenapa semua orang masih ragu sama aku,'' gumam Arlan menjambak pelan rambut nya. Arlan memilih duduk di balkon kamar istri nya, dia menatap langit di atas sana dengan taburan bintang bintang yang berkelip di langit biru.
''Ya Allah aku hanya ingin membahagiakan Sania tak lebih, aku hanya ingin hidup bersama Sania sampai nafas terakhir ku, aku juga nggak akan maksa dia untuk mempunyai seorang anak, yang aku mau hanyalah hidup bersama Sania sampai kapan pun,'' Gumam nya dengan nada dingin nya.
Di rasa sudah sangat lama Arlan berada di balkon kamar Sania, dia pun akhirnya memutuskan untuk masuk dan berbaring di samping istri kecil nya, di peluk nya dengan erat tanpa mau melepaskan tubuh kurus Sania di hadapan nya. Sania yang merasa terganggu dengan tidur nya membuka mata nya dan mendapati suami nya yang tengah memeluk tubuh nya.
''Kenapa kamu bangun, apa aku mengganggu tidur mu?'' tanya Arlan menelusup kan wajah nya di curuk leher putih istri nya, Arlan sengaja membuka hijab Sania tadi, karena menurut Arlan di dalam kamar nya hanya ada dia dan juga Sania.
''Nggak kok Mas, Mas Arlan sendiri yang kenapa? ada masalah apa sama kak Karan, soal nya tadi kamu sangat lama di ruangan kerja kakak,'' tanya Sania menatap wajah suami nya dengan sendu.
''Aku nggak apa apa kok sayang? tapi aku sungguh sungguh mencintai mu dan juga menyayangi mu dengan ikhlas, dan perlu kamu ingat? aku nggak akan pernah menyesal karena sudah menikahi kamu, apa kamu percaya dengan ucapan ku ini,'' tanya Arlan dengan nada sedih nya.
''Aku percaya kok Mas, biarkan saja orang berkata apa sama Mas Arlan, yang penting aku percaya dan juga sayang sama Mas Arlan, abaikan semua perkata'an orang orang yang menurut Mas Arlan tidak baik,'' sahut Sania mengusap wajah tampan suami nya.
''Ayo bangun sayang? malam ini kamu belum minum obat nya,'' Ujar Arlan membuat Sania mendengus mendengar ujaran dari suami nya.
''Mas Arlan mah gitu, lagi asik asik nya ngobrol? malah ngingetin minum obat,'' seru Sania tak senang.
Arlan mencium pipi Sania dengan lembut dan menarik tangan istri kecil nya agar ia terduduk di ranjang nya, semenjak Arlan tau kalau istri kecil nya tidak bisa terkena benteruan atau sentuhan kasar dia pun tak lagi melakukan nya, sekarang dia hanya akan mencium pipi istri nya dari pada harus mencubit dan akan meninggalkan bekas setelah nya.
Arlan beranjak dan melangkah menuju nakas, di mana tas selempang Sania berada, diapun mengambilkan obat istri nya, sedangkan tangan kanan nya sudah mengambil segelas air putih yang ada di atas nakas di dekat tas selempang itu berada.
''Terima kasih suami ku?'' Ucap Sania dengan senyuman khas nya.
__ADS_1
''Sama sama istri cantikku?'' balas Arlan yang kini memilih duduk di samping Sania. Sania memberikan gelas yang sudah kosong kepada suami tercinta nya.
''Apa Mas Arlan nggak ngantuk?'' tanya Sania tiba-tiba, mungkin Sania sudah mengantuk akibat meminum obat malam ini.
''Tidur lah sayang? Mas akan menjaga mu dari nyamuk nyamuk nakal yang suka mengganggu mu,'' jawab nya santai, namun tidak tertawa sama sekali, sedangkan Sania sudah menutup mulut nya karena sudah tak tahan dengan jawaban dari suami nya, yang menurut Sania paling konyol.
'Apa apa'an Mas Arlan ini sich, masak iya menjaga ku dari nyamuk nyamuk nakal sich,' batin nya dan mengalihkan pandangan nya ke arah lain, dia sudah tidak tahan untuk tidak tertawa.
''Kalau mau tertawa, ya tertawa saja? jangan di pendam yang akan menjadi penyakit hati,'' sela Arlan membuat Sania menoleh wajah nya dan kembali menatap wajah suami nya.
''Sudah ach, Sania mau tidur ngantuk,'' balas nya dan menutup seluruh tubuh nya dengan selimut yang ada di tubuh nya.
''Jangan seperti itu, kamu akan sulit bernafas kalau memakai selimut sepet ini,'' Aelan menarik selimut yang di pakai istri nya sampai dada nya.
Arlan yang juga merasa lelah dan juga capek pikiran memilih membaringkan tubuh nya di samping tubuh Sania, Arlan oun memejamkan mata nya untuk menjelajahi alam mimpi yang sangat indah, dan tak butuh waktu lama Arlan untuk berada di alam mimpi.
...****************...
Seminggu kemudian Arlan mulai masuk bekerja di kantor Karan, sementara Sania berada di rumah Bunda nya ketika Arlan bekerja, mungkin Arlan berpikiran Sania akan kesepian di apartemen seharian tanpa ada kegiatan yang ia lakukan, jadi Arlan memutuskan untuk menitipkan istri kecil nya di rumah sang Bunda.
Sania sama sekali tidak keberatan kalau dirinya tiap hari ikut dengan nya, mungkin Sania akan meminta kakak nya untuk menerima dia bekerja di kantor nya, agar ketika Arlan pulang dari kantor langsung pulang ke apartemen nya, tanpa harus memutar balik yanga akan lebih jauh dari apartemen nya.
''Assalamu'alaikum,'' Ucap Arlan yang sudah ada di teras rumah nya, lebih tepat nya rumah Sania.
''Waalaikum salam?'' jawab Sania dari dalam, sedangkan sang Bibi sudah melangkah ingin membuka pintu utama yang di ketuk dari luar, tapi Sania mencegah nya, karena dia yakin yang datang adalah suami nya.
__ADS_1
''Bibi, biar Sania saja yang membuka pintu nya,'' cegah Sania dan sedikit berlari ke arah pintu, Bibi yang bekerja di sana hanya mengulas senyum di bibir tuanya.
Pintu di buka dan nampak lah wajah tampan yang sudah seharian ini tidak dia lihat, karena dia sibuk bekerja di kantor kakak nya. Sania mencium punggung tangan suami nya, dan tak lupa juga mengambil tas yang selalu ia bawa ke kantor.
''Sayang, apa kamu selalu meminum obat nya, selama di tinggal pergi ke kantor?'' tanya Arlan setelah mencium kening istri nya.
''Sudah Mas, Mas Arlan nggak usah khawatir lagi? kalaupun Mas Arlan tidak di rumah, tapi ada bodyguard Mas Arlan yang akan setia menjadi CCTV, jadi Mas Arlan tidak usah khawatir lagi oke,'' tutur Sania lembut, mengingat sang Bunda yang selalu mengomel kalau Sania belum minum obat nya, mungkin Sania sedikit kesal dengan sikap Bunda nya yang semakin cerewet kepada nya, namun Sania juga sudah sangat sadar sekarang, yang di lakukan oleh Bunda nya hanyalah untuk demi kebaikan Sania sendiri, agar Sania tetap sehat dan kembali ceria seperti dulu, di tambah lagi Sania yang sudah berkeluarga dan tak mungkin juga Sania garus merepotkan suami nya terus menerus seperti ini, pagi dia harus pergi kerja dan juga menjaga Sania, sedangkan malam nya dia juga akan menjaga Sania sampai terlelap dalam tidur nya.
''Lebih baik mas Arlan mandi dulu sebelum istirahat sebentar, Sania juga sudah membawa baju ganti untuk mas Arlan di dalam tas?'' Ucap Sania yang di angguki oleh suami nya.
Arlan menaiki anak tangga menuju lantai dua, sedangkan Sania memilih pergi ke dapur, Sania membuat kopi untuk suami tercinta nya.
Tepat Sania membuka pintu kamar nya, Arlan juga membuka pintu kamar mandi dan dia hanya membalut tubuh nya dengan handuk. Sania merasa malu melihat tubuh Arlan yang setengah bertelanjang.
''Nggak usah malu seperti itu, kita berdua juga sudah sah jadi buat apa masih merasa malu?'' tukas Arlan berjalan menghampiri Sania yang masih berdiri di tempat nya.
''Kamu bisa bantuin Mas untuk ngeringin rambut nggak,'' pintar Arlan yang di angguki Sania, Arlan mengambil alih nampan yang di bawa istri nya, Sania duduk di atas sofa sedangkan Arlan memilih duduk di lantai hanya berlaskan karpet warna ungu, Arlan menyesap kopi hitam buatan istri nya, dia semakin sayang dengan sikap hangat istri nya kepada nya, Arlan sangat bersyukur sekali? karena tanpa disuruh pun Sania membuatkan kopi untuk nya.
.
.
.
.
__ADS_1
. Terima kasih buat kakak yang selalu dukung karya receh ku, terimakasih 🙏💕🙏💕🙏💕