Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Pipi Merah Merona


__ADS_3

Suara kumandang Adzan magrib membangunkan Eca dari tidur siangnya yang kebablasan. Badannya masih terasa sakit sekali. Ia kemudian berlajan ke kamar mandi untuk mandi dan wudhu kemudian sholat magrib. Plus ashar yang terlewat.


Saat ia keluar kamar mandi, Indra sudah ada di kamar Eca, dan duduk di atas tempat tidur Eca.


"Ish.... ngagetin aja." kata Eca sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


 


"Udah, sholat dulu sana. Nanti kakak mau bicara. Dibawah ya." kata Indra beranjak dari kamar Eca.


 


"hem..." jawab Eca.


Selesai mengeringkan rambut, Eca kemudian sholat yang "di rapel". Setelah itu, dia buru-buru kebawah untuk menemui kakaknya. Dia tau Indra sangat tidak suka menunggu terlalu lama.


"Ada apa kak ?" kata Eca duduk disebelah Indra.


"Gini ya dek. Kakak tau kamu pengen mandiri. Kamu pengen explor sana sini. Tapi, ayolah. Jangan **** gitu. Kamu harus ijin sama kakak. Ingat ! kamu disini tanggung jawab kakak. Kalo sampe kamu kenapa-kenapa, kakak juga yang kena. Whatever dengan segala alasanmu kepada ayah bunda. Tetap yang salah kakak kalo sampe kamu secuil aja cidera. " Jelas Indra dengan mimik seriusnya.


"Iya kak... maaf...." kata Eca penuh sesal.


"Assalamualaikum..." teriakan dari luar itu mengagetkan mereka berdua. Indra buru-buru membukakan pintu.

__ADS_1


Pas dibuka ternyata Mutia yang datang sambil menenteng sesuatu.


"eh kamu Mut. Masuk masuk" kata Indra.


"Eca ?" tanya Mutia sambil berjalan mengikuti Indra.


"Tuh diruang tengah. Ca.... dicari kesayanganmu nih..." Teriak Indra dari ruang tamu. Sesaat kemudian Eca muncul dan langsung duduk di sofa ruang tamu.


"Ada apa ? tumben kesini bawa sesuatu. Biasanya juga kamu yang minta sesuatu." kata Eca melihat Mutia yang membawa sebungkus buah-buahan.


"Kan kamu lagi sakit Ca..." Kata Mutia duduk di sebelah Eca dan memberikan bungkusan itu kepadanya.


"Ha ? pear ? apel ? jeruk ? banyak amat !" kata Eca memilah-milah buah yang dibawa Mutia.


"Kalo gak mau sini. Biar kakak aja yang makan." Kata Indra.


Indrapun meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


"Mut, anak laki-laki tadi siapa sih ?" tanya Eca antusias.


"Siapa ?" tanya Mutia.


"Yang tadi itu loh... yang nganter kerumah." Kata Eca masih menggebu.

__ADS_1


"Adit ? Anak kelas F. Kenapa ?" tanya mutia balik.


"Kok aku gak pernah lihat ya ? Kamu punya nomor teleponnya gak ?" tanya Eca.


"ada. eh nanti dulu. Kamu ngapain minta nomornya ? buat apa ?" tanya Mutia dengan senyum devilnya.


"hem.... enggak. enggak. Mau makasih aja tadi udah ditolongin." kata Eca salah tingkah.


"Yakin mau makasih aja ? gak ada yang lebih ?" Goda Mutia.


"Gak kok... beneran mau makasih aja." Eca semakin salah tingkah.


"Kamu naksir ya ? Hayo ngaku." Mutia semakin semangat menggoda Eca.


pipi Eca tiba-tiba merah merona.


"Tuh kan merah pipinya..." Kata Mutia sambil tertawa.


"Ish... apaan sih." Eca mencubit bahu mutia.


"Ca, siapa sih yang gak pengen punya cowok kayak Adit gitu ?. putih, glowing, tinggi, baik, pinter." kata Mutia.


"Jangan jangan kamu yang naksir ya ?" Eca gantian menggoda Mutia.

__ADS_1


"Apaan ? mana ada ?. Tadi tuh dia cerita banyak pas dimobil." Kata Mutia.


"Oh... . " jawab Eca.


__ADS_2