Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 171 Rasa kesal


__ADS_3

Sania tiba tiba melihat seorang laki-laki yang tengah menggendong puteri kecil nya di punggung nya dengan menggunakan selendang untuk pengait agar puteri kecil nya tidak terjatuh dari gendongan nya. Tanpa di duga air mata Sania menetes ketika menatap seorang laki-laki yang sempat berjalan di samping mobil nya.


''Sayang, kamu kenapa menangis?'' tanya Arlan, ''Apa ada yang sakit, apa kita harus pergi ke rumah sakit juga sekarang,'' tambah nya lagi dengan nada khawatir.


Sania hanya menggeleng pelan sebagai jawaban dari pertanyaan suami nya. ''Kamu kenapa sayang? cerita sama suami kamu ini, siapa tau suami mu ini bisa membantu dan mengabulkan apa yang sedang kamu inginkan sekarang,'' sela Arlan mengelus puncak kepala istri kecil nya yang tertutup oleh hijab nya.


Mereka sekarang masih berada di jalan raya menuju ke perusaha'an CG Grub, namun baru di pertengahan jalan mereka berdua terjebak macet, sampai akhirnya Sania melihat laki-laki yang tengah menggendong puteri kecil nya, Bapak itu membawa puteri kecil nya untuk berjualan di pinggir jalan, apa dia tidak ada seseorang untuk menemani puteri kecil nya sehingga di ajak berjualan juga di tepi jalan Raya.


''Sania nggak apa apa Mas? Sania hanya kangen sama sosok almarhum Ayah saja, apa Mas melihat Bapak tadi yang sempat melewati mobil kita?'' tanya Sania lirih, masih dengan air mata nya yang terus mengalir di kedua pipi nya.


Arlan menggeleng, ''Aku juga selalu di gendong seperti itu dulu ketika masih kecil? namun ketika usia ku bertambah satu tahu aku sudah tidak bisa lagi melihat ataupun menatap wajah Ayah Sania Mas?'' cerita nya sedih, Arlan merengkuh istri kecil nya untuk di bawa ke dada bidang nya agar tangisan dia mereda.


''Sekarang kamu mau apa?'' tanya Arlan yang tidak tau lagi ingin berkata apalagi kepada istri kecil nya yang masih tetap menangis.


''Sania ingin menghampiri mereka Mas, tapi Sania tidak memiliki uang cash di dalam dompet, apa Mas Arlan punya uang cash?'' tanya Sania merasa sangat malu kepada suami nya, karena dia harus meminta uang kepadanya.


''Ada beberapa kok, kalau kurang lain kali kita samperin ke rumah nya saja bagaimana,'' bujuk nya dengan menyerahkan 5 lembar berwarna merah dan bergambar Soekarno Hatta. ''Apa ini cukup?'' tanya Arlan lagi.


''Insya Allah cukup Mas,'' jawab nya mengulas senyum kepada suami nya sebelum turun dari mobil nya.

__ADS_1


''Hati hati, Mas tunggu di depan?'' pesan nya yang langsung di angguki oleh Sania, Sania segera menghapus sisa sisa air mata nya di kedua pipi nya dengan hijab yang biasa kenakan saat ini, mungkin inilah guna hijab bisa berguna untuk yang lain nya juga.


Sania melangkah kan kakinya menuju Bapak Bapak yang tengah duduk tak jauh dari mobil nya, Sania mengernyit kan dahunya ketika melihat puteri kecil Bapak tersebut tengah tertidur dengan sangat pulas.


''Assalamu'alaikum Pak?'' sapa Sania dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.


''Waalaikum salam neng?'' jawab nya tak kalah ramah dari Sania.


''Bapak minuman ini berapa'an?'' tanya Sania mengambil botol minuman yang ada di ranjang yang tadi di bawa Bapak ini.


'''Yang ini 7 ribu, dan yang ini 3 ribu terus yang di pegang neng sekarang 5 ribu,'' Ucap nya menjelaskan harga minuman yang ia jual saat ini.


''Kenapa nggak di tinggal di rumah nya saja Pak puteri nya, kasihan kalau kepanasan apalagi musim hujan kan, bisa bisa puteri Bapak sakit nanti?'' Ujar Sania menatap wajah imut puteri Bapak penjual asongan tersebut.


''Di rumah hanya bertiga dengan kakak nya, sedangkan kalau pagi kakak nya harus berangkat sekolah. Dan siang nya dia membantuku menjual minuman minuman ini,'' terang nya, ada raut kesedihan di wajah Bapak penjual minuman di depan nya.


''Istri Bapak kemana?'' tanya Sania yang mulai penasaran dengan kehidupan Bapak di depan nya, bahkan dia sudah lupa kalau suami nya tengah menunggu nya di dalam mobil.


''Istri bapao sudah meninggal 1tahun yang lalu neng?'' jawab nya singkat namun bisa membuat hati Sania hancur berkeping-keping mendengar bahwa kenyataannya puteri yang berada di gendongan Ayah nya tidak lagi mempunyai seorang Ibu, pantas saja dia begitu anteng dengan Bapak nya di saat di bawa berkeliling jualan dengan terkena sinar matahari dan juga polisi yang di keluarkan dari mobil mobil yang berlalu lalang di depan nya.

__ADS_1


''Sayang ayo cepat? nanti malah telat lagi ke kantor nya,'' Ujar Arlan tiba-tiba. Sania yang merasa di panggil Punde menoleh ke arah suara yang berada tak jauh dari nya.


''Maaf Mas aku lupa,'' jawab nya dengan senyuman manis nya. ''Kalau begitu saya pamit ya Pak, assalamu'alaikum,'' lanjut Sania yang berpamitan kepada Bapak penjual asongan itu, sebelum pergi meninggalkan Sania mengulurkan tangan nya memberikan uang yang tadi ia minta kepada suami nya.


''Ini ada sedikit rezeki buat Bapak dan juga puteri nya,'' Ucap nya pelan seraya mengulas kan senyuman.


''Terima kasih neng, semoga Allah mengganti semua kebaikan yang sudah neng kasih ke Bapak,'' jawab nya mendoa'kan Sania dengan tulus.


Sania mengangguk dan melangkah pergi menuju suami nya yang masih berdiri di tempat nya, sedangkan mobil nya di parkir kan di depan toko yang tengah tutup.


Arlan ngedumel ketika istri kecil nya berada di samping nya. ''Bakalan kena omelan lagi dech seperti kemarin, apes apes?!'' lirih nya menggeleng geleng kan kepala nya pelan.


''Kalau kemarin kan memang salah Mas Arlan, bisa bisa nya ber cinta di pagi hari, mana badan ku di buat sakit semua lagi,'' balas Sania yang tak Terima kalau dia malah di salahkan oleh suami nya.


Adlan hanya terkekeh melihat istri nya yang tengah kesal kepada nya. ''Misalkan Mas di pecat, terus Mas mau kerja apa? apa Mas harus bikin pabrik saja setiap hari ya,'' gumam nya dengan jati yang di taruh di pelipis nya, kayak orang tengah berpikir saja, pikir Sania.


''Memang nya mau bikin pabrik apa githu,'' tanya Sania yang mulai penasaran.


''Pabrik anak?'' Ucap nya singkat dengan kekehan nya, Sania yang mendengar pun langu meninju pelan lengan suami nya yang tidak pernah serius kalau sedang berbicara dengan istri nya.

__ADS_1


''Rasain!'' dengan nya dan meninggalkan Aelan begitu saja, Arlan yang merasa sudah di tinggal pergi segera mengejar langkah istri kecil nya yang terbilang sangat cepat untuk ukuran kaki kecil nya.


__ADS_2