
Karan dan Pinky menuruni tangga dengan bergandengan, maklum lah pengantin baru serasa dunia milik berdua sajo.
''Assalamu'alaikum, pagi Bu?'' sapa Pinky ketika melihat Ibu mertua nya sudah merapikan sarapan pagi di meja makan.
''Waalaikum salam, pagi juga,'' jawab sang mertua lembut. ''Kok sudah rapi semua, pada mau kemana,'' tambu Bu Wati menatap putera dan juga menantu nya.
''Karan mau ke kantor Bu, dan Pinky mau pergi ke butik nya?'' sahut Karan menjawab pertanya'an Ibu nya.
''Iya Bu, sudah sangat lama sekali Pinky nggak pergi ke butik,'' sambung Pinky tersenyum.
''Ya sudah lebih baik kalian sarapan dulu,'' suruh Bu Wati pada kedua nya.
''Adek kemana Bu?'' tanya Karan yang celingak celinguk mencari keberada'an sang adik.
''Adik kamu masih di kamar nya belum turun,'' jawab Bu Wati menoleh ke arah tangga.
''Adik nggak apa apa kan, penyakit dia nggak kambuh?'' tanya Pinky dengan nada khawatir nya.
''Adik kamu baik baik saja, barusan Ibu dari kamar nya mungkin dia masih di kamar mandi, lebih baik kalian sarapan dulu? entar malah kena macet lagi,'' Bu Wati mengambilkan anak dan menantu nya nasi goreng dengan telur ceplok yang ia masak tadi.
Kedua nya menurut saja apa yang di katakan oleh Ibunda nya. Selesai makan mereka berdua berpamitan pada Bu Wati, tak lupa juga Karan dan Pinky mencium punggung tangan Bu Wati.
''Hati hati di jalan?'' pesan nya lalu melambaikan tangan kanan nya.
Karan dan Pinky sudah berangkat ke kantor dan juga ke butik nya, kini giliran Sania yang menuruni anak tangga menuju Bunda nya yang tengah membereskan piring kotor Pinky dan Karan, Sania melihat ke sekeliling tak menemukan kakak dan juga kakak plipar nya di sana.
''Bunda kak Karan dan juga kak Pinky pada kemana?'' tanya nya setelah mendarat kan bokong nya di kursi yang sudah ia tarik.
__ADS_1
''Kakak kamu sudah berangkat ke kantor, sedangkan kakak ipar kamu pergi ke butik nya,'' jawab sang Bunda yang tengah mengambilkan makanan untuk Sania.
''Kamu sarapan dulu, setelah itu baru minum obat kamu,'' lanjut Bu Wati memberikan piring yang sudah terisi dengan nasi goreng.
''Bunda,maafin Sania? Sania salah sama Bunda,'' Ucap Sania lirih.
''Sudah nggak apa apa kok, sudah Bunda maafin juga?'' sambungnya lalu tersenyum pada puteri kecil nya itu. ''Kamu berapa hari ke kantor cabang kamu nak?'' lanjut Bu Wati yang kini memilih duduk di samping Sania.
''Paling Sania di sana hanya dua hari saja Bun, Sania ingin mengecek keada'an disana saja,'' sahut Sania menyuapkan nasi goreng nya ke dalam mulut nya.
''Apa Bunda ngijinin Sania pergi ke sana?'' tanya Sania hati hati.
''Iya, Bunda akan ijinin kamu pergi ke sana, tapi dengan satu syarat. Kamu tidak boleh terlalu capek dan jangan lupa minum obat nya juga,'' pesan Bu Wati pada puteri kecil nya.
''Beneran Bunda? Bunda ngijinin Sania pergi ke sana?'' ujar Sania senang, dia mengembangkan senyum termanis nya pada Bunda nya.
Bu Wati mengangguk seraya berkata, ''Ingat pesan Bunda,'' sekali lagi Bu Wati mengingat kan Sania agar tidak lupa dengan pesan nya.
''Aku harap penyakit ku nggak akan kambuh di sana, Sania mohon ya Allah,'' gumam Sania seraya berdo'a kepada sang Maha pemilik seisi alam semesta ini.
Sania sengaja memesan taksi online langganan nya, dia sengaja tak mengajak sang supir ke kantor cabang yang sedang dalam masalah besar.
''Bunda, Sania pamit dulu ya. Jangan bilang sama kak Karan kalau Sania pergi ke kantor cabang,'' kata Sania dan mencium punggung tangan Bunda nya. Bu Wati hanya mengangguk dan mencium kening puteri nya yang kini sudah akan berangkat.
''Hati-hati ya di jalan, kalau ada apa apa segera telfon Bunda,'' seru Bu Wati ketika Sania sudah berada di ambang pintu mau keluar.
''Bunda tenang saja, Sania akan baik baik saja kok? Assalamu'alaikum,'' sahut Sania dan segera masuk ke dalam taksi online nya yang tengah menunggu di teras rumah nya.
__ADS_1
''Berangkat sekarang Nona,'' tanya supir taksi tersebut.
''Iya pak?'' jawab Sania singkat. Pagi ini Sania memakai baju berwarna lilac dengan hijab berwarna senada.
''Bagaimana keadaan nona sekarang?'' tanya supir taksi itu basa basi agar tak terlalu sepi di perjalanan nya.
''Alhamdulillah sudah sehat Pak, terima kasih ya Pak sudah membawa Sania ke rumah sakit waktu itu,'' jawab Sania ramah.
''Iya sama sama Nona, untung ada seorang laki-laki yang waktu itu mengikuti taksi Bapak,'' cerita supir taksi membuat Sania terperanjat kaget.
'Laki-laki siapa yang di maksud Bapak supir ini?' gumam Sania dalam hati.
''Kalau boleh tau siapa nama laki-laki itu Pak?'' tanya Sania mengorek informasi pada sang supir yang beberapa hari lalu telah menolong nya.
''Kalau saya nggak salah dia bilang Arlan pada suster yang menangani Nona waktu itu, dan setelah kepergian Bapak dari rumah sakit beberapa mobil juga tiba di parkiran rumah sakit, mery semua kelihatan nya sangat panik sekali,'' sang sopir menjelaskan semua nya kepada Sania.
Lama Sania terdiam memikirkan kenapa Arlan bisa mengikuti nya dari belakang, padahal sewaktu dia menunggu taksi tersebut di jalanan itu sangat sepi, tak mungkin kan dia memata matai aku dari kemarin kemarin, pikir Sania.
3 jam perjalanan untuk sampai ke kantor cabang nya yang dalam masalah, entah itu sudah benar atau akan menambah masalah jika dia sendiri yang turun tangan mengelola kantor tersebut. ''Aku harus yakin dengan kemampuan ku, aku tak mau kerja Ayah dan kak Karan sia sia karena terlalu memikirkan keada'an ku sekarang ini.
''Sudah sampai Nona,'' kata supir taksi itu yang di anggiki Sania.
''Sudah Sania tranfer ya Pak? sekalian buat jajan si kecil juga,'' balas Sania sebelum turun dari taksi online nya.
''Terima kasih banyak Nona, Allah akan membalas kebaikan Nona selama ini kepada keluarga Bapak,'' supir tersebut mendo'akan Sania Sania dalam hati setelah secara langsung mengatakan secara lisan juga.
Sania mengangguk dan membawa tas punggung di tangan nya, karena dia tidak terlalu banyak membawa baju ganti, bagi Sania dua hati adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan masalah yang tengah menimpa kantor cabang nya. Sania diterima dengan ramah oleh semua pegawai di sana, karena Sania juga pernah sekali mendatangi kantor tersebut bersama kakek Sanjaya ketika Karan sang kakak masih berada di Jerman dulu. Sania mengembangkan senyuman nya ketika karyawan nya tengah menyapa nya.
__ADS_1
Terima kasih kakak yang selalu dukung karya receh Almahyra, tanpa kalian apalah aku di dunia novel Toon ini.
jangan lupa like komen kakak terimakasih 🙏🙏🙏😘😘😘💕💕💕