
Di tempat lain Bu Watibdan juga mama Citra tengah berkonsultasi dengan dokter yang selalu menangani Sania.
''Dokter, apa ada jalan yang membuat puteri saya sembuh total?'' tanya Bu Wati pelan.
''Beberapa pasien leukemia masih bisa sembuh, namun pada kondisi tertentu, leukemia bisa sulit di sembuhkan?
Sehingga pengobatan yang di berikan hanya untuk mengendalikan penyakit
serta memperpanjang angka hidup pasien itu sendiri," terang sang dokter.
"Apa nggak bisa sembuh total dokter? " tanya mama Citra dengan kekhawatiran nya.
"Kini penanganan terhadap leukemia kini semakin baik. Di mana penderita dapat sembuhpunya harapan untuk sembuh, dengan terapi rutin sehingga kanker darah bisa sembuh, terapi rutin yang umum nya di lakukan adalah kemoterapi," tambah nya lagi, membuat Bu Wati merasa kecewa dengan penjelasan dari dokter yang merawat Sania puteri kecil nya. Mama Citra hanya bisa menggenggam erat tangan kakak ipar nya, dia memberikan kekuatan lewat jemarinya.
''Berdo'a lah Nyonya, hanya dengan berdo'a kita bisa membantu penyembuhan Sania, karena ketika Allah sudah berkehendak maka tidak akan ada orang yang bisa berkata-kata apapun, saya hanya bisa membantu dengan kemampuan saya, namun yang menyembuhkan semua penyakit adalah Allah SWT bukan saya atau dokter yang lain nya,'' lanjut nya, ketika melihat Bunda Sania sangat dokter merasa teriris di dalam hatinya, Sania sangat lah baik untuk menderita penyakit ini. Namun Allah sudah memberi coba'an kepada Sania lewat penyakit yang derita, pikir sang dokter.
''Terima kasih Dokter? kalau begitu kami permisi dulu,'' Ucap Mama Citra beranjak dari duduk nya, sedangkan Bu Wati tidak berucap sepatah katapun, dia masih dengan tangisan nya, mengingat rambut puteri nya yang semakin rontok jika melakukan kemoterapi.
Mama Citra dan juga Bu Wati melangkah kan kakinya menuju ke parkiran rumah sakit, di mana di sana sangat sopir masih setia menunggu nya. Pak Udin yang melihat dia Nyonya nya mendekat, dengan segera Pak Udin membuka pintu mobil nya.
__ADS_1
''Langsung ke rumah saja Pak?'' Ujar Mama Citra ramah.
''Maaf Nyonya, langsung ke rumah Nyonya Citra,'' tanya Pak Udin memastikan lagi, takut nya beliau salah mendengar dengan ucapan sangat Nyonya, sedangkan Pak Udin sendiri adalah supir pribadi nya Bu Wati.
''Ke rumah saya sebentar Pak,'' terang Mama Citra yang langsung di angguki Pak Udin.
Dalam perjalanan ke rumah Mama Citra Bu Wati hanya terdiam menatap oonselnya dengan layar wajah puteri kecil nya yang tengah tersenyum bahagia.
''Ada apa mbak? kenapa saat dokter mengatakan harus melakukan terapi kemoterapi mbak Wati kayak nya nggak senang githu,'' cecar Mama Citra kepada kakak ipar nya.
Bu Wati menggeleng pelan dan dia berkata, ''Apa Sania akan mau melakukan kemoterapi, sebenarnya aku nggak tega melihat Sania harus melakukan kemoterapi lagi,'' sahut nya masih dengan tangisan nya.
''Kamu nggak tau perasa'an ku saat ini Citra, hatiku hancur saat mendengar anakku mengidap penyakit ini. Dan setelah melihat penderita'an nya hatiku semakin hancur, apa aku harus egois memaksa Sania untuk melakukan terapi itu, disaat semalam dia menunjuk kan dirinya kepada ku dengan terang terangan!'' jawab Bu Wati dengan penuh rasa sesal dan kekecewa'an pada diri nya sendiri. ''Rambut Sania mulai rontok, meski dia tidak menetes kan air mata di depanku, tapi aku tau kalau dia sangat menderita melihat ini, mungkin dia memakai hijab sekarang untuk menutupi rasa sedih nya dari kalian semua, dengan alih alih menutup aurat nya dia menyembunyikan mahkota dari tubuh nya yakni rambut nya itu sendiri. Ketika aku sendiri yang memegang kepalanya tak tau kenapa tubuhku seakan mati, andai penyakit itu bisa di pindah? aku rela menjadi pengganti nya Citra?!'' semakin pecah sudah tangisan Bu Wati ketika menceritakan kisah puteri kecil nya yang tengah melawan rasa sakit itu sendirian.
Mama Citra memeluk kakak ipar nya dengan erat, dia sudah salah sangka karena telah mengira kalau kakak ipar nya, yangbbersikap seperti itu. Sekarang Mama Citra mengerti apa yang di rasakan kakak ipar nya.
''Maaf kan Citra kak, maaf kalau Citra egois dan berkata seperti itu tadi,'' sesal Mama Citra mengeratkan pelukan nya.
...****************...
__ADS_1
Pagi ini Sania akan kembali lagi ke kantor cabang nya, karena dia sudah satu minggu berada di rumah nya bersama keluarga dan juga serta sepupu yang ia sayangi.
Seperti biasa Sania selalu meminta Pak Hasan untuk mengantarkan ke kantor cabang nya, mungkin karena sudah terlalu nyaman dengan di supiri Pak Hasan. Tepat jam makan siang Sania tiba di penginapan dengan di bantu pak Hasan Sania membawa baju beserta beberapa camilan dan juga makanan yang sengaja ia minta pada Bunda nya, karena Sania ingin berbagi dengan para karyawan nya masakan enak Bunda nya, sekalian promosi'in restoran nya juga, pikir Sania lalu dia mengembangkan senyum nya.
''Maaf Nona, yang ini mau di bawa masuk juga,'' tanya Pak Hasan menunjuk kardus yang ada di bagasi mobil nya.
''Itu biarin di sana dulu Pak? ini saja yang di bawa masuk ke dalam,'' kata Sania sopan dan dengan senyuman manis nya tentunya.
Pak Hasan mengangguk dan membawa satu kantong kresek berisi camilan dan juga koper Sania, Pak Hasan sengaja melarang Sania untuk membawa koper nya. Sania hanya mengangguk dan menuruti apa ya di katakan oleh Pak Hasan.
''Kalau sudah kita ke kantor sekarang ya pak,'' ajak Sania seraya mengunci kamar nya kembali.
''Baik Nona? apa Nona tidak mau istirahat saja dulu biar Bapak yang mengantarkan kardus kardus itu ke kantor cabang,'' usul Pak Hasan yang mendapatkan gelengan kepala dari Sania.
''Sania belum lelah kok Pak, Sania ingin beraktivitas seperti orang-orang lain nya Pak? dan Sania masih kuat kok, kan di kantor Sania hanya duduk diam di belakang meja saja,'' Ucap Sania menenangkan Pak Hasan yang sudah menghawatirkan nya sejak tadi.
''Ya sudah kalau gitu Bapak tidak bisa berbuat apa apa lagi, tapi saran Bapak Nona banyakin istirahat, seperti kata dokter tadi pagi,'' tutur Pak Hasan mengingat kan Sania. Ya tadi sebelum berangkat Sania memang menghampiri dokter yang selama ini menangani penyakit nya, hanya untuk konsul saja dan meminta resep obat yang baru. Mungkin karena itulah Pak Hasan mendengar ucapan sang dokter yang dengan sengaja mengantar Sania sampai mobil yang akan mengantarkan ke kantor cabang nya.
Hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai ke kantor cabang nya, di mana di sana sudah menunggu seorang laki-laki yang menunggu di ambang pintu kantor nya. Siapa lagi kalau bukan Arlan yang tengah menunggu kedatangan gadis puja'an nya.
__ADS_1