Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 175 Kesedihan Arlan


__ADS_3

Di dalam rekaman Sania terlihat duduk santai dan sedang menunggu antrian untuk bertemu dengan Dokter Karin, sampai akhirnya Sania menatap ke depan dengan sangat terkejut dan tak lama kemudian dia berjalan menuju ke arah yang ia lihat, Sania terlihat menemui seseorang yang berada tak jauh dari dia duduk tadi.


''Pak geser ke arah yang di tuju istri ku,'' suruh Arlan kepada satpam yang membantu Arlan untuk melihat isi rekaman tadi siang.


''Seperti nya istri Tuan menemui seorang wanita di depan poli kandungan,'' kata Pak satpam menatap lurus ke arah depan.


''Poli kandungan?'' gumam Arlan. ''Pak bisa perbesar wanita yang ada di depan istri ku,'' titah nya menunjuk wanita yang tengah mengobrol dengan Sania.


Arlan membulatkan matanya ketika melihat siapa wanita yang di temui oleh istri kecil nya, ''Rika,'' gumam nya.


Arlan terus saja menatap layar di depan nya, Sania dan Rika terlihat lama mengobrol sampai ada seorang suster menghampiri Sania karena sudah giliran untuk masuk ke ruangan dokter Karin.


Wajah Sania nampak sangat sedih dan terlihat tertekan ketika dia menatap suster yang memanggil nya, Sania berjalan mengikuti suster yang tadi memanggil nya, Arlan masih setia menatap layar sampai Sania keluar dari ruangan dokter Karin dengan yaitu wajah yang sangat sedih, bahkan dia juga mengusap matanya dan berlari keluar rumah sakit.


''Cukup Pak!'' kata Arlan dengan nada lirih nya. ''Terima kasih Pak bantuan nya,'' ucap nya lalu menyodorkan beberapa lembar kepada pak satpam yang sudah membantu nya.


Arlan menuju ke parkiran dan segera masuk ke dalam mobil nya, Arlan pergi untuk mencari istri nya yang entah ada di mana malam ini.


Sedangkan di desa Sania tengah terbaring di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, Sania mengerjapkan matanya. Dia menatap ke sekeliling tempat yang ia tempati saat ini, nampak seorang nenek menghampiri nya dan bertanya.


''Kamu sudah sadar Cu?'' tanya sang nenek membuat Sania merubah posisi nya menjadi duduk.


''Apa nenek yang menolong Sania?'' tanya Sania yang sadar kalau saat ini dia tengah berada di rumah gubuk.


''Iya, tadi nenek melihat kamu pingsan di dekat kuburan, jadi nenek bawa ke rumah? kamu nggak apa apa kan Cu?'' jawab nya melihat keada'an Sania yang sudah tidak panas lagi.

__ADS_1


''Terima kasih nek sudah membawaku kemari, tapi mobil--,''


''Mobil kamu ada di depan, tadi ada seseorang yang ikut membantu juga dan membawa mobil nya ke mari,'' potong nya yang langsung di angguki Sania.


''Lebih kamu makan dulu, ini juga sudah malam? kalau mau pulang besok saja,'' ujar nya dengan rambut dan juga penuh perhatian kepada Sania, padahal mereka tidak saling mengenal satu sama lain nya.


''Terima kasih banyak nek? oiya nenek tinggal sama siapa di sini?'' tanya Sania penasaran, karena di rumah ini terlihat sangat sepi.


''Nenek tinggal sendirian di sini Cu,'' jawab nya dengan sedikit senyuman di bibir tuanya yang sedikit di paksakan.


''Memang nya nenek tidak punya anak atau saudara gitu?'' tanya Sania yang semakin penasaran.


''Dulu nenek sempat memiliki anak? tapi setelah berumur 4 tahun anak nenek meninggal, dan tidak bisa memiliki anak lagi sampai suami nenek meninggal, jadi nenek mau tak mau tinggal di sini sendirian,'' cerita si nenek membuat Sania merasa sedih.


Mungkin dia juga akan merasakan hal yang sama seperti nenek ini ketika tua nanti, tidak memiliki anak dan juga di tinggal oleh suami nya, nenek ini masih beruntung di tinggal meninggal oleh suami nya.


'Kamu kenapa menangis Cu?'' tanya sang nenek ketika melihat Sania menangis pilu di depan nya.


''Nggak apa apa nek, Sania hanya sedih mendengar nenek bercerita tadi?'' jawab nya dan mencoba untuk tersenyum walau senyuman yang sangat di paksakan oleh nya.


''Kamu yang sabar ya, oiya nenek menemukan ponsel ini tergeletak di dekat kamu tadi, jadi nenek pegang,'' Ucap nya menyodorkan sebuah ponsel kepada Sania.


Sania mengambil ponsel nya dari tangan sang nenek, dan melihat ada banyak panggilan dari suami nya dan juga dari kakak nya, mungkin sekarang keluarga nya sudah kalang kabut mencari Sania kemana mana, tapi sudahlah? yoh dia tidak akan menjawab semua panggilan dari semua orang.


Sania lebih memilih mengeluarkan kartu SIMcard nya dan langsung membuang begitu saja, '' Nek? di sini ada Conter yang berada tak juh dari sini nggak?'' tanya Sania kepada sang nenek.

__ADS_1


''Ada Cu? tapi kalau malam seperti nya sudah tutup, kalau mau besok nenek antar ke sana, mau nggak?''


''Boleh nek,''


''Sekarang kamu makan dan istirahat lah dengan baik agar kondisi kamu cepat pulih,'' kata sang nenek memberi sepiring masih dengan lauk tempe dan juga ikan tongkol.


Sania mencoba menghabiskan makanan yang sudah di sodorkan kepada nya, sebenarnya dia tidak ada selera untuk makan malam ini, tapi dia memaksakan untuk mengunyah makanan nya agar sang nenek tidak merasa kecewa kepada nya, karena sudah menolak masakan nya yang hanya dengan lauk seadanya.


...****************...


Arlan kelimpungan mencari Sania, semua tempat sudah ia datangi dan Arlan juga mendatangi rumah Rika untuk bertanya kepada nya, namun Rika hanya bungkam dan tak mau menjawab semua pertanya'an dari Arlan. Rika hanya terus menerus menggoda Arlan yang datang ke rumah nya.


Tiba-tiba ponsel Arlan bergetar tanda ada notif pesan masuk ke ponsel nya. Arlan terlihat sangat senang ketika melihat nama pengirim pesan adalah istri nya, dengan segera Aelan membuka pesan yang di kirim istri nya.


📩-''Aku baik baik saja, dan aku harap Mas Arlan tidak mencari Sania dalam waktu yang cukup lama, Sania ingin menenangkan diri terlebih dulu. Kalau Mas Arlan ingin menikah lagi dengan seseorang? menikahlah jangan tunggu Sania pulang, jangan menunggu wanita yang ber penyakitan ini untuk pulang, dan Sania tak kan punya anak untuk membahagiakan mu,'' isi pesan Sania sebelum membuang SIMcard nya.


Arlan merubah wajah senang nya dengan wajah sedih, dia memejamkan matanya sejenak.


''Sudahlah Arlan? jangan cari wanita mandul itu lagi, lebih baik kamu bersama aku sekarang dan selama nya, kita akan hidup bahagia dan akan memiliki anak untuk menjaga kita di hati tua nanti. Percuma punya istri tapi mandul buat apa?'' kata Rika panjang lebar, Arlan tak menanggapi ocehan Rika. Arlan mengabaikan semua yang di katakan Rika kepada nya, Arlan lebih memilih pergi dari rumah Rika.


Tiba di mobil nya Arlan menaruh kepalanya ke body mobil, dia sudah sangat frustasi saat ini, di tambah ocehan Rika barusan yang bilang kalau Sania mandul.


Arlan tidak akan sedih kalaupun istri kecil jua tidak bisa mengandung anak nya, Arlan lebih senang tinggal bersama Sania ketimbang seperti ini.


''Aku tak mungkin akan menikah lagi sayang? kenapa kamu pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan ku dulu, aku lakukan agar kamu cepat pulih dari sakit nyadar an tak ada maksud lain lagi?'' gumam Arlan memilih untuk datang ke taman, di mana tempat itu adalah tempat kesuka'an istri kecil nya sejak pindah ke apartemen nya.

__ADS_1


Keceriaan Sania membuat senyum Arlan mengembang, namun kini hanya tinggal kesunyian saja.


__ADS_2