
Setelah acara selesai, semua nya pulang ke rumah masing masing, begitu pula dengan Ibu Ibu majlis dan adik adik Yayasan yang ia undang juga sudah di antar pulang oleh anak buah Arkan menggunakan bus yang ia sewa sebelum nya untuk mengangkut adik adik tersebut ke rumah baru nya.
Semua orang nampak begitu senang di hari bahagia itu, ''Sania, apa kamu sudah tau jenis kelamin anak kamu?'' tanya Gita yang juga hadir di acara sahabat nya itu.
''Aku dan Mas Arkan belum memeriksakan kembali, maksudnya belum melakukan USG sejak beberapa bulan yang lalu, cuma aku memeriksakan kesehatan dia saja dan sesekali konsultasi juha sama sang dokter,'' terang Sania yang tak ingin mengetahui jenis kelamin anak nya, biarlah semua nya menjadi kejutan untuk dia besok.
''Apa kamu tidak penasaran dengan jenis anak kamu Sania?'' tanya Gita lagi.
''Penasaran sich iya, tapi aku dan Mas Arlan sudah membicarakan ini semua nya, jadi aku menghindari yang namanya USG,'' sahut Sania lagi seraya tersenyum ke arah saudara nya yang akan pulang ke rumah nya. Sania melambaikan tangan nya dan mengulas senyuman kepada saudi saudara nya yang akan balik, mereka semua adalah saudara yang paling solid bagi Sania, di waktu apapun mereka selalu hadir? walau meski kadang tidak menginap di rumah nya tapi Sania salut dengan saudara dari kakek Sanjaya, anak anak mereka, bahkan sampai cucu cucu nya selalu hadir ketika keluarga nya mengadakan acara.
Cukup di kasih tau saja mereka bakalan datang dan hadir dalam acara tersebut. ''Mereka dari mana Sania?'' tanya Gita tiba-tiba yang dari tadi Sania tidak menatap wajah nya ketika mengobrol dengan Gita.
''Och itu saudara sepupu ku dari kakek Sanjaya, aku sangat senang karena semua keluarga besarku turut ikut mendo'akan aku juga,'' jawab Cinta pelan seraya terus mengembangkan senyuman mu.
''Sania, aku boleh pegang perut kamu nggak?'' tanya Gita tiba-tiba yang begitu takjub, ketika melihat perut Sania yang bergerak gerak di balik gamis nya.
''Boleh kok pegang saja,'' kata Sania membuat kedua teman nya tersenyum senang, mereka pun sama sama memegang perut Sania yang lumayan besar, namun saat itu bersama'an dengan sang baby tengah bergerak.
__ADS_1
Kedua nya kemudian sama sama berawru kegirangan mengetahui anak yang di kandung Sania merespon pegangan kedua teman nya.
''Dia nendang tau San?'' ujar Gita dengan sangat antusias.
''Ia, emang nya nggak sakit di tendang seperti itu Sania?'' tanya teman yang satu nya.
''Ya lumayan nyeri sich? tapi ya di nikmati saja, kapan lagi bisa menikmati momen momen seperti ini lagi sich,'' jawab Sania dengan kekehan nya.
''Iya juga sich? tapi apa kamu nggak heran heran dengan anak Sania Gita?'' tanya teman nya lagi, membuat Gita menghentikan elusan tangan yang ada di perut Sania.
''Kayak nya anak yang lho kandung bukan cuma satu dech San? melainkan seperti kembar atau pokoknya lebih dari satu dech,'' Ucap nya tegas, mengingat dia yang tengah mengelus perut Sania yang hampir bergerak bersama'an, namun rasa dari ada benjolan di perut Sania bukan cuma satu saja, makanya teman nya berani bilang kalau anak Sania bukan ada satu di dalam perut nya sekarang.
''Alhamdulillah banget dong kalau di kasih kembar oleh Allah SWT, apalagi sepasang jadi lengkap sudah kebahagiaan ku saat ini,'' balas Sania merasa sangat bersyukur kalau seandainya nya di kasih anak kembar.
''Ada apa, kayak nya heboh banget,'' sapa Bu Wati yang menghampiri Sania dan kedua teman nya yang sedang duduk di teras rumah nya.
''Ini Bunda, kayak nya anak Sania bukan ada satu di dalam sini,'' jawab nya mengelus perut besar Sania.
__ADS_1
''Alhamdulillah, tapi bener apa yang di katakan teman kamu itu sayang?'' tanya sang Bunda memastikan kebenarannya kepada Sania puteri nya.
''Nah itu dia Bunda, Sania tidak pernah melakukan USG lagi sampai sekarang, dia hanya memeriksakan kesehatan nya saja,'' sela Gita dengan menggembungkan pipi nya, mengingat Sania tidak pernah lagi melakukan USG kembali, sedangkan orang lain nya gencar setiap periksa bahkan setiap bulan melakukan USG, tapi tidak dengan Sania. Sania malah tidak mau kalau di ajak melakukan USG oleh Arlan suami nya.
''Ya sudah nggak apa apa kok, yang penting bayinya sehat dan juga sempurna tanpa kekurangan satu apapun nanti kalau sudah waktu nya lahiran, masalah mau kembar dan nggak nya kita akan menerima kehadiran dia di dunia ini dengan sangat bahagia,'' gumam Bu Wati ikut mengelus perut puteri nya.
Gita yang sudah gelisah melihat jam tangan yang melingkar di lengan kanan nya, di sana menunjukkan pukul 18:50 dan sebentar lagi waktu Isya tiba.
''Kalau gitu kita balik dulu ya Sania, Bunda? tadi kebetulan aku langsung ke sini dari kantor, mungkin kini ayah sedang mencari ku karena tak kunjung pulang sampai malam,'' kata Gita mengambil tas selempang nya.
''Iya, terima kasih banyak ya, kalian sudah menyempatkan waktu kalian untuk datang ke rumah ku,'' jawab Sania masih dengan senyuman nya.
Sepeninggal mereka berdua Arlan lebih leluasa berdua'an dengan istri kecil nya. ''Mas? apa kita sebaiknya kita melakukan USG besok, aku berharap hasil nya adalah benar?'' jawab nya memandang Arlan dengan tatapan sendu nya.
''Memang nya kenapa sayang? bukan nya kamu bilang, kalau pun tidak melakukan USG tidak akan kenapa napa?'' sela Arlan yang mulai di landa kegalauan, karena di satu sisi Sania akan tau jenis kelamin.
''Tapi aku mulai penasaran kepada mereka semua nya Mas,' gumam nya pelan, sambil mengkubkan wajah nya.
__ADS_1