
Di dalam kamar terlihat Sania masih tertidur sangat pulas, tuan Arzan dan juga Riana menatap wajah tenang Sania, seakan tidak merasakan sakit sama sekali.
''Pa??''
''Biarlah kita pura-pura tidak mengetahui semua ini, agar dia tidak berpikiran yang macam macam?'' Ujar tuan Arzan pada puteri nya.
''Lebih baik kamu temani dia tidur, lagian ini juga sudah sangat larut? besok katanya mau jalan jalan, iya kan,'' tambahnya lagi mengelus puncak kepala Riana.
Riana naik ke atas tempat tidurnya, diapun membenarkan selimut ke badan sepupu nya. Riana malam ini tak bisa tidur? dia tetap terjaga sembari mengelus puncak kepala Sania yang emang sangat lelap dalam tidur nya.
Tatkala jam sudah menunjukkan pukul 2 malam Sania terbangun dari tidurnya, Riana yang emang belum tertidur terpaksa pura pura tidur di kala Sania beranjak dari tempat tidurnya, Sania melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya dari lengket keringat yang ada, setelah nya dia mengambil air wudhu dan keluar dengan memakai mukenah nya, mukenah nya emang sengaja di tinggal di rumah Riana, tepatnya ditaruh walk in closet.
Sania menggelar sajadah nya dan dia langsung melaksanakan sholat tahajjud dan juga sholat sunnah lainnya, di sambung dengan baca'an surah Ar-Rahman dan surah Al-Waqiah, dia bermunajat meminta kesembuhan agar dirinya tidak merepotkan orang orang di sekitar nya.
''Ya Allah, hamba berharap kesembuhan menghampiri ku, namun hamba juga hanya bisa berusaha dan bertawakal padamu, misalnya hamba tidak mendapatkan kesembuhan itu, hamba sangat ikhlas ya Allah, namun saya berharap engkau melindungi seluruh keluarga besarku dari orang orang yang ingin berbuat dzalim pada mereka. Hamba sudah sangat bersyukur hanya dengan melihat senyuman dari mereka semua, hamba tidak mau apa apa lagi ya Allah, yang hamba inginkan saat ini hanya lah kesembuhan. Aku juga sudah tak memikirkan lagi tentang jodoh, hamba takut dia akan menderita karena penyakit ku yang semakin hari semakin semakin tambah tambah parah ini,'' tutur Sania dalam do'a nya, Riana hanya menutup mulut nya ketika mendengar semua keluh kesah sang adik.
'Apa yang harus perbuat sekarang ya Allah, aku sungguh tak tau harus berbuat apa, namun yang aku ingin sekarang adalah menyembuhkan Sania dari penyakit nya.' gumam Riana dengan deraian air mata di kedua pipinya.
Sania membuka mukenah nya ketika melihat ada noda darah yang sudah terjatuh. ''Astaghfirullah, yang hamba takutkan hanya saat darah ini keluar dari hidungku, dan keluarga ku tau yang sebenarnya, dosakah hamba jika mereka bersedih hanya gara-gara memikirkan penyakit ku ini,'' gumam Sania pelan, seraya mengambil tissu yang ada di atas nakas, dia juga meraih beberapa obat di dalam tasnya.
Riana yang melihat tentu dalam kegalauan, ingin menghampiri sang adik? takutnya dia tambah merasa sedih, sedang di biarkan begitu saja dia nggak tega dengan penderitaan sang adek. Riana hanya menutup rapat rapat mulut nya agar tak mengeluarkan isak tangisnya.
Sania kembali membaringkan tubuh nya ke batas tempat tidur setelah dia meminum obatnya barusan.
...****************...
Pagi yang cerah secerah hati Sania di pagi hari ini, dia tengah mencuci mukenah nya yang terkena darah nya semalam, dia sesekali bersenandung dan juga bersholawat di lantai dasar.
''Nona Sania biar Bibi saja yang membersihkan ini,'' pinta sang Bibi yang ingin mencucikan mukenah Sania.
__ADS_1
''Nggak usah Bi, ini hampir selesai kok?'' jawab Sania menolak permintaan sang asisten di rumah tante nya.
''Papa...? Papa lihat Sania nggak, dia nggak ada di kamar Pa?'' teriak Riana ketika melihat sang Papa yang tengah menyesap teh manis nya.
''Adik kamu ada di belakang?'' jawab tuan Arzan mendongak ke atas.
''Kamu cepetan mandi, setelah ini kita jalan jalan, Papa sudah men cancel semua kerjaan Papa hari ini,'' Ujar tuan Arzan.
''Beneran Pa? Papa nggak lagi bohong kan?'' tanya Riana nggak percaya dengan ucapan Papa nya.
''Iya, apa perlu Papa mandiin kamu sekarang,'' tuan Arzan menggoda puteri kecilnya yang tak pernah mempercayai nya.
''Oke Riana akan mandi sekarang juga, awas saja kalau Papa bohong,'' ancam Riana menatap tajam ke arah Papa nya. Riana lebih dekat dengan sang Papa di bandingkan dengan Mama nya.
Emang benar yang di katakan setiap orang, cinta pertama seorang anak perempuan adalah Ayah nya.
Riana kini sudah rapi dengan celana jeans dan kaos pendek, sedangkan rambutnya ia memilih untuk di cepol agar terlihat lebih muda lagi, hehehe.
''Sania mana Ma?'' tanya Riana yang kini tengah duduk di meja makan, sedang Mama nya merapikan barang barang yang ia bawa piknik pagi ini.
''Lebih baik kamu makan dulu, semua nya sudah ada di teras rumah?'' jawab sang Mama yang sudah siap siap untuk keluar juga.
''Emangnya mereka semua sudah sarapan Ma?'' tanya Riana bingung.
''Sudah, coba kamu lihat sendiri sudah jam berapa sekarang?'' sang Mama menunjuk ke arah jam dinding yang menempel di tembok ruang makan.
''Rupanya Riana yang bangun kesiangan ya Ma?'' jawab nya mulai menyantap nasi goreng yang ada di meja makan, dengan telur ceplok di tambah dengan susu coklat nya membuat Riana menjadi kekenyangan di pagi hari.
Riana menuju keluar menghampiri semua keluarga nya yang sudah siap dengan bawaanya masing-masing.
__ADS_1
''Kalau sudah selesai semua nya kita berangkat sekarang bagaimana,'' ujar Roni yang tengah memainkan ponsel nya.
''Ayolah, takutnya kesiangan dan di sana cuma sebentar saja kan nggak asik banget?'' sambung Rian dengan memegang pancingan di tangan nya.
''Emang kita mau jalan jalan kemana sich, kok kak Rian bawa pancingan segala?'' tanya Riana bingung melihat semua perlengkapan yang belum masuk semua ke dalam mobil.
''Kejutan? yang penting kita semua happy, iya kan Ma,'' balas Roni menggandeng tangan kakak nya, sedangkan Rian menggandeng Sania untuk memasuki kedalam mobil nya.
''Makin hari kamu makin cantik saja Sania, apa kamu sudah punya calon?'' sela Rian.
''Dari dulu Sania sydah cantik kali kak? kak Rian saja yang nggak pernah merhatiin Sania, iya kan tante?'' balas Sania dan meminta pendapat tantenya yang kini tengah melamun.
''Kenapa sayang?'' tanya sang tante menoleh ke belakang menatap wajah cantik sang ponakan.
''Mama ngelamun terus kerjaan nya, emangnya Mama mikirin apa sich?'' tanya Roni si bungsu.
''Mama nggak apa apa kok, mungkin lagi banyak pikiran saja, makanya ayang beb ngajak Mama jalan jalan juga,'' jawab nya dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
'Ya Allah, kenapa harus ponakan aku yang menderita penyakit ini, semoga engkau memberikan obat agar dia bisa sembuh dari sakit nya,' gumam Mama Citra yang sudah meneteskan air matanya, tuan Arzan menggenggam tangan istri nya erat, agar dia lebih kuat dan tidak membocorkan kalau dia sudah tau penyakit Sania saat ini.
Sania nampak bahagia bercanda tawa dengan kakak serta sang adik sepupu nya. Riana memilih duduk di samping sang sopir agar kakak serta adiknya bisa membuat Sania terus tersenyum, untuk mengalihkan rasa sakitnya walau sejenak.
'Aku sangat bahagia melihat tawa'an mu dek, aku berharap waktu berhenti agar aku bisa tetap melihat senyuman kamu yang manis itu dek,' Ucap Riana dalam hati, dia mengusap pipinya yang sudah basah dengan tetesan air matanya.
.
.
.
__ADS_1