Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 212 Cerita Andrian kepada sang Papa


__ADS_3

Andriana yang di ledekin oleh kakak nya segera pamit kepada tuan Arzan dan juga Mama Citra untuk ke kamar nya dengan alasan sudah ngantuk, padahal sebenarnya dia tidak mau mendengar ocehan kakak kembar nya yang nyerocos kayak kereta api tanpa palang pintu saja.


''Ma, Pa? Riana balik ke kamar dulu ya, sudah ngantuk nich dan besok pagi Riana juga mau bantuin adik Sania untuk jaga si kembar di rumah nya, karena Bunda mau pergi restoran nya, sedangkan kak Pinky mau ke butik nya karena sudah beberapa hari dia tidak datang ke butik nya,'' pamit Riana kepada sang Papa dan juga Mama nya, Riana juga memberi alasan mau nemenin adik sepupu nya di rumah dengan membantu menjaga si triple.


''Baiklah dek, selamat malam,'' jawab tuan Arzan dan juga Mama Citra dengan mencium pipi puteri nya.


''Kak Rian nggak mau tidur juga,'' tanya Riana setelah berpamitan kepada Papa Mama nya.


''Kakak masih ingin mengobrol dengan Mama sama Papa juga dek, kamu tidur saja dulu,'' jawab nya dengan lembut.


''Mau ngomongin tentang apa kak? atau jangan jangan kamu mau ngadu sama Papa dan Mama masalah tadi di rumah kak Karan ya,'' tebak Riana yang membuat Rian terkekeh mendengar nya.


''Untung adik ngingetin kakak, jadi kakak ingat sekarang apa yang ingin kakak adukan ke Papa dan juga Mama,'' balas nya dengan senyum smirk nya.


''Kak Rian nyebelin sich?'' Ucap nya dan berlari menaiki anak tangga yang berada tak jauh dari mereka duduk tadi.


Rian masih terkekeh, sampai akhirnya tuan Arzan menatap outera nya karena masih terkekeh setelah kepergian Riana adek nya yang membuat dia tertawa terus kalau sedang bersama nya, karena Rian suka sekali meledek sang adek yang suka cemberut layak nya anak kecil. Mikaela saja kalah dengan sikap kakak sepupu nya itu.


Sikap Mikaela lebih dewasa walaupun ukur nya masih beberapa belas tahun, dan dia sekarang masih menempuh pendidikan di Negeri Paman Sam.


''Memang nya kakak mau ngomongin apa sama Papa dan Mama,'' tanya tuan Arzan tho the poin kepada putera nya.


''Sebenarnya mau bahas proyek yang kita kerjakan bareng Pa, apa bisa kalau proyek itu Rian saja yang kerjakan sendirian tanpa adek? apa mungkin Papa mau ngijinin Rian pegang proyek itu sendirian gitu maksud Rian Pa?'' ucap nya dengan perasa'an takut, karena sang Papa orang yang paling tegas dan juga keras kalau sudah menyangkut pekerja'an.


''Lebih baik kalian bahas di ruangan kerja nya saja Mas, Mama mau ke kamar juga sudah ngantuk,'' sela Mama Citra kepada suami dan juga putera nya.


''Ya sudah kalau githu Mama, istirahat saja? kakak dan Papa masih ada yang mau di omongin dulu,'' Ucap Rian dengan mencium pipi sang Mama yang mau beranjak dari tempat duduk nya.

__ADS_1


''Iya, Mama istirahat dulu ya, tapi kalian jangan malam malam tidur nya? besok kan kalian harus pergi ke kantor juga kan?'' pesan Mama Citra kepada tuan Arzan dan juga Rian, kedua nya mengangguk dan menatap Mama Citra yang sudah berjalan menuju kamar nya.


''Ayo ke ruangan kerja Papa saja, biar kamu lebih leluasa bercerita,'' ajak tian Arzan kepada Rian.


Kedua nya pun berjalan saling beriringan, mereka berdua terlihat masih sangat cocok sebagai teman karena tuan Arzan yang terlihat awet muda, sehingga ketika tuan Arzan dan Rian sedang berjalan bersama seperti adik dan juga kakak, apalagi ketika tuan Arzan memanggil Rian dengan sebutan kakak kepada putera nya, semua orang terperangah tak percaya kalau tuan Arzan bisa juga bersikap lembut kepada keluarga nya, tuan Arzan di kenal sangat garang dan tempramen ketika ada salah satu karyawan nya yang berbuat kesalahan, apalagi kesalahan yang bisa merugikan perusaha'an nya.


Sampai saat ini tuan Arzan masih meng-handle semua pekerja'an di CG grub, karena dia belum bisa melepas begitu saja keponakan nya mengelola perusaha'an itu sendiri. Mengingat itu adalah pesan dari istri tercinta nya karena dia sangat sayang dengan ayah dari kedua ponakan nya tersebut.


''Sebenarnya kakak mau ngomong apa tadi, dan kenapa kakak juga mau kerjakan proyek itu sendirian tanpa adik kamu, ada masalah kah,'' tanya tuan Arzan yang langsung dengan beberapa pertanya'an kepada putera nya yang ada di depan nya.


''Sebenarnya Rian berkata begitu tadi karena masih ada Mama Pa, Rian takut Mama belum siap mendengar cerita Rian saja,'' jawab nya dengan nada yang serius.


''Apa ada masalah di proyek yang kamu kerjakan sekarang, sampai kamu tidak ingin Mama kamu mengetahui nya,'' tebak tuan Arzan seraya mengangkat satu alis nya ke atas.


''Pa, sebenarnya ini bukan masalah proyek itu sich, tapi apa Papa tidak akan marah setelah Rian mengatakan semua nya kepada Papa?'' tanya nya dengan yang sudah khawatir, takut nya dia marah kepada adek nya yang selama ini ia sayangi. Tapi selama ini tuan Arzan tidak pernah kepada putera dan juga puteri nya, dia lebih ke menegur saja tanpa mau mau memarahi anak anak nya.


''Sebenarnya dokter Michael itu kemarin sudah melamar adek di cafe dekat rumah sakit kakek, tapi adek menolak nya dengan alasan masih ingin menyelesaikan proyek yang kita tangani sekarang Pa, makanya Rian mau ambil alih semua proyek itu,'' Ucap nya dengan nada yang sedikit rendah, agar sang Papa tidak terkejut dengan penuturan Rian.


''Terus masalah nya ada di mana nya, kan hrus nya dokter Michael datang ke sini menemui Papa, setelah adek kamu menerima dia kan?''


''Tapi Pa, adek tidak menjawab mau atu nggak nya, adek masih ragu dengan dokter Michael yang melamar nya secara tiba-tiba begitu, mengingat dokter Michael yang selalu di kejar kejar para wanita wanita membuat adek tidak yakin dengan perasa'an nya saat ini,''


''Terus?'' tanya tuan Arzan mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari bibir putera nya.


''Dan tadi dokter Michael juga mengutarakan semua isi hati nya di depan Rian, orang tuanya dan juga keluar Bunda, Papa tau kan di sana ada siapa saja kalau sudah keluarga Bunda,'' ucap Rian yang tidak mau mengatakan satu persatu nama yang ada di keluarga bunda Wati, karena Papa nya pasti sudah tau nama keponakan dan juga istri dan suami ponakan nya. Tuan Arzan mengangguk sebagai jawaban dari ucapan yang di sampaikan oleh Rian putera nya.


''Maksud kakak di rumah Bunda nya ada kedua orang tua dokter Michael?'' tanya tuan Arzan ketika sudah menyadari ada kata kata yang terlewati tadi.

__ADS_1


Rian mengangguk dan berkata, ''Papa nggak tau orang tua dokter Michael?'' tanya Rian kepada Papa nya karena tuan Arzan nampak terkejut ketika mendengar kata orang tua dokter Michael.


tuan Arzan menggeleng pelan, karena selama ini tuan Arzan tidak pernah mencari tau dengan jelas siapa orang tua dari dokter Michael itu sendiri, dia hanya mengobrol membahas penyakit keponakan nya waktu itu.


''Tapi kenapa kedua orang tua dokter Michael tidak langsung datang ke rumah Papa saja untuk membicarakan itu semua, tapi kenapa mereka malah datang ke rumah Bunda kamu, sedangkan orang tua kalian berdua bukan Bunda kan? tapi Mama dan juga Papa,'' sela tuan Arzan yang sudah mulai salah paham dengan cerita Rian barusan.


''Kan tadi kakak sudah bilang, kalau orang tua dokter Michael sedang melihat triple di rumah kak Karan, dan dia juga rekan bisnis kak Karan juga,'' jawab nya masih belum menjelaskan secara rinci kepada Papa nya.


Tuan Arzan mengweutkan kening nya sembari memutar otak mengingat putera pernah bilang kalau kedua orang tua dokter Michael datang untuk menjenguk triple cucu nya.


''Jangan bilang, kalau kedua orang tua dokter Michael adalah Tuan Bagas dan juga Nyonya Helena,'' tebak tuan Arzan dengan benar.


Rian menjentikkan jari nya mendengar jawaban dari Papa nya, ''Papa memang cerdas?'' puji Rian kepada Papa nya.


''Jadi orang tua dokter Michael adalah tuan Bagas? Papa baru tau kalau ternyata pewaria tunggal dari perusaha'an Wijaya Grub adalah dokter Michael,'' Ucap nya dengan keterkejutan nya.


''Iya, tapi dokter Michael tidak tertarik dengan semua perusaha'an nya itu Pa, dokter Michael lebih memilih bekerja sebagai dokter spesialis kanker yang bayaran tak seberapa di bandingkan mengelola perusaha'an Papa nya,'' jelas Rian.


''Terus masalah itu ada di mana kak?'' tanya tuan Arzan dengan sudah kembali ke mode kalem nya.


''Adek masih menolak dengan alasan yang sama, Bunda juga sudah menasehati adek juga sich Pa, Bunda bilang suruh pikir pikir dulu sebelum mengambil keputusan, dan jangan pernah memberikan harapan palsu kepada laki-laki yang akan membahagiakan nya, Rian sebenarnya sudah berjanji dengan adek tidak akan menceritakan ini kepada Papa, tapi Rian berpikir takut nya dokter Michael dan kedua orang tuanya datang ke sini tiba tiba dan langsung melamar adek secara langsung kepada kalian, makanya Mama tidak boleh tau dulu Pa?'' jawab nya dengan panjang lebar kepada tuan Arzan.


''Jadi maksud kakak seperti itu, ya Papa sudah mengerti sekarang? tapi kakak yakin kalau dokter Michael benar-benar serius dengan adek kamu?'' tanya tuan Arzan menanyakan kepada putera nya, mengingat Puteri nya masih sangat kekanak kanakan.


''Kalau Rian sangat yakin kalau dokter Michael sangat serius ingin meminang adek, tapi adek nya yang tidak serius Pa, dia masih berpikiran jelek dengan dokter Michael, adek takut kalau sewaktu-waktu adek di depak oleh dokter Michael,'' gumam nya pelan.


''Kalau misalkan apa yang di pikirkan oleh adek kamu itu benar, apa yang akan kakak lakukan kepada laki-laki itu?'' tanya tuan Arzan serius dengan menatap tajam mata putera nya.

__ADS_1


''Kalau sampai dokter Michael hanyan ingin memainkan adek Rian saja, Rian akan membuat perhitungan kepada laki-laki itu, atau bahkan Rian akan membunuh laki-laki yang sudah mencoba membuat adek ku sakit hati,'' balas Rian dengan aura menggebu-gebu, adek kesayangan nya tidak boleh di sakiti begitu saja oleh orang orang yang tidak ia kenal, bukan hanya Riana saja yang akan di bela oleh Rian, tapi adek laki-laki nya juga akan di bela ketika dia sedang di sakiti oleh teman ataupun oleh saudara nya sendiri, karena menurut Rian keluarga nya adalah nomer satu ketimbang orang orang lain nya yang hanya menginginkan ketenaran dan juga ke untungan dengan mendekat kepada keluarga besar tuan Arzan.


__ADS_2