
Bu Wati kini sedang duduk di teras rumah nya tengah menunggu kedatangan puteri yang ia kangenin selama beberapa hari ini, karena menginap di rumah saudara Ayah nya.
Tit tit tit
Karan membunyikan klakson mobilnya agar sang satpam membuka gerbang di rumah kediaman nya.
Pak Awi yang membuka pintu gerbang pun membungkuk setelah tuan mudanya memasuki halaman rumah nya, Bu Wati beranjak dari duduk nya menghampiri mobil yang baru berhenti di depan nya.
''Assalamu'alaikum Bu?'' Ucap Sania mengembangkan senyuman nya.
''Waalaikum salam sayang?'' jawab nya memeluk puteri nya, ''Sekarang kamu kurusan, kenapa nak?'' tanya Bu Wati melepaskan pelukan nya dan memutar tubuh puteri nya yang lumayan kurus.
''Kemarin Sania tidak enak badan, jadi malas makan nya Bu? tapi kak Rian dan juga kak Riana jagain Sania dengan baik kok,'' jawab Sania panjang lebar agar sang Ibu tak lagi memikirkan dia lagi.
''Lebih baik kamu istirahat di kamar ya, ayo Ibu antar kamu sekarang?'' ajak sang Ibu menuntun Sania menapaki rumah besar nya yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan.
''Terima kasih ya Bu?'' sela Sania ketika sudah sampai di kamar nya, kamar yang begitu rapi dan terlihat sangat nyaman untuk di tempati.
''Ya sudah kamu istirahat lah dulu, Ibu tinggal ya?'' pamit sang Ibu yang cuma di angguki oleh Sania.
Bu Wati menutup tubuh Sania dengan selimut tebal nya, agar sang puteri bisa beristirahat di kamar nya, setelah menyelimu Sania, Bu Wati beranjak dari tempat tidur nya dan berjalan keluar dari kamar puteri nya tersebut.
__ADS_1
''Adek sudah tidur?'' tanya Karan ketika melihat Ibu nya menuruni anak tangga.
''Sudah? ada apa dengan adekmu, kelihatan nya dia sangat lelah dan juga kurang sehat,'' tanya sang Ibu pada Karan putera sulung nya.
''Mungkin dia masuk angin saja Bu? paling besok sudah baikan lagi,'' sahut Karan menatap sang Ibu, dan sesekali Karan menelusuri punggung Ibu nya pelan.
''Ibu jangan khawatir, nggak akan terjadi sesuatu kok sama Sania?'' gumam Karan dan mengembangkan senyuman nya, agar sang Ibu tak terlalu menghawatirkan Sania adik nya.
''Pinky akan menjaga adik kok Bu, lebih baik Ibu juga istirahat juga, ini sudah malam juga kan?'' tutur sang menantu ramah.
''Emangnya kalian nggak mau makan malam dulu?'' tanya Bu Wati.
''Kami sudah makan tadi Bu, bukankah Karan sudah memberi tahu Ibu kalau adik minta makan malam di luar,'' jelas Karan ketika Ibu nya bertanya demikian.
''Kamu juga istirahat, Ibu juga sudah ngantuk mau tidur,'' gumam Bu Wati menepuk punggung tangan menantu nya pelan.
''Iya Bu, selamat malam dan selamat beristirahat juga,'' sahut Pinky mencium punggung tangan mertuanya.
Bu Wati mengangguk dan merebahkan tubuh lelah nya karena seharian harus mengurus restoran, dan di tambah lagi dengan capek karena memikirkan puteri bungsunya yang pergi tanpa kabar selama beberapa hari lalu, yang membuat Bu Wati harus memeras otaknya, dan dalam hatinya selalu berdo'a agar di beri keselamatan untuk puteri kecilnya itu.
Pinky dan juga Karan berjalan menuju ke kamar nya, setelah tadi lama ngobrol di ruang keluarga yang terletak di lantai dasar. Ketika melewati kamar Sania mereka berdua terpaksa menghentikan langkah nya karena mendengar suara tangisan yang memilukan dan terasa menyayat hati tentunya.
__ADS_1
''Ya Allah, limpahkanlah kebahagiaan untuk keluarga kecil kak Karan dan juga kak Pinky, dan berikan kesehatan kepada Ibu dan juga keluarga besar ku juga, hamba hanya ingin melihat senyuman mereka yang menghiasi di kedua bibir nya, hamba akan senang jikalau hamba melihu senyuman keluarga hamba ya Allah,'' kata kata seperti itu yang tengah di dengar oleh keduanya. Karan dan Pinky sengaja mengintip di mana di sana Sania tengah melakukan sholat malam nya, Karan melirik jam yang tengah melingkat di lengan nya yang menunjukkan pukul satu dini hari.
''Ayo ke kamar, nanti kita ganggu adik yang tengah melaksanakan ibadah nya lagi,'' bisik Pinky pada suaminya.
Karan dan Pinky masuk ke dalam kamar nya setelah menguoing do'a yang di panjatkan oleh Sania di dalam sholat tahajjud nya.
''Mas, kamu merasa ada yang aneh ngy sich pada Sania saat ini?'' tanya Pinky menelisik.
Karan menggeleng pelan, ''Aku juga sepemikiran sama kamu sayang? kayaknya ada yang di tutupi oleh Sania sekarang,'' balas Karan menatap mata sang istri yang tengah menyisir rambut panjang nya.
''Iya, apalagi sekarang adik kurusan dengan alasan nggak enak makan? kan nggak mungkin sekurus itu sekarang.''
''Sudah, lebih baik kita berdo'a yang baik baik saja untuk kebaikan semua keluarga ini, biarlah Sania dengan urusan nya, agar dia tidak merasa terkekang atau sebaliknya kita menjaga dia tanpa sepengetahuan dia,'' sambung Karan yang menepuk kasur di sebelah nya yang masih kosong.
''Iya mas, tapi aku merasa Sania berubah? dia tak seceria dulu lagi,'' tambah Pinky dan membaringkan tubuh nya di samping sang suami yang kini tengah menginginkan pelukan hangat dari istri nya.
''Sudah lebih baik pejamkan matamu agar besok pagi bangun nya Tio kesiangan?'' tutur Karan yang di angguki Pinky, Pinky pun menelusup kan wajahnya di dada bidang suaminya, mencari kenyamanan di sana, dan benar saja tanpa harus menunggu lama nafas Pinky sudah mulai teratur yang pertanda sang istri sekarang sudah terlelap dalam tidur nya. Sedangkan Karan sendiri tak bisa tidur, dia masih terus memikirkan apa yang di ucapkan istri mengenai sang adik yang kurusan, dan kecerian yang dulu hilang setelah kepergian Arlan sang manajer di restoran nya.
''Apa ini semua ada hubungan nya dengan Arlan?'' Gumam Karan pelan sehingga hanya dia sendiri yang mendengar nya.
''Aku harus mencari tau semua kebenatan ini semua, tanpa harus ada orang yang tau termasuk Pinky juga,'' Ucap Karan dalam hatinya.
__ADS_1
Sampai jam menunjukkan pukul 3 dini hari Karan baru bisa memejamkan matanya karena memikirkan tentang adik dan juga pekerjaan kantor nya membuat otak nya lelah dan dengan cepat dia terlelap dalam tidur nya.
Karan terlalu sayang pada Sania adik satu satu nya, apalagi sang adik di tinggal pergi oleh sang ayah masih sangat kecil, sehingga Karan menyayangi Sania layaknya sebagai ayah pada puteri nya, dan dia akan berbuat apapun agar sang adik bisa kembali tersenyum dan keceriaan yang sempat hilang kembali lagi di dalam rumah besar ini.