
Bu wati memukul putera nya Karan, karena dia sudah kelewatan sama adik nya.
''Ayo kita pergi sekarang, takut nya kemaleman sampai di rumah tante kamu,'' ajak Bu Wati pada putera nya.
Karan mengangguk dan beranjak dari kursinya seraya berpamitan pda semua pegawai yang ada di restoran nya.
Namun sebelum pergi Karan berpasangan pada Ailee agar makanan dan minuman nya di masukkan ke dalam bil.
''Makanan sama minuman ku masukkan ke dalam bil saja dulu,'' pesan nya sembari berjalan mengikuti sangat Ibu yang sudah ada di parkiran.
''Ibu akan pulang sama pak Udin saja, lebih baik kamu bareng adek kamu? jangan bikin dia marah lagi, kalau kamu tak ingin semua gunung meletus karena kemarahan Sania,'' Ucap Bu Wati agar kedua anak nya tidak lagi bertengkar satu sama lain nya, padahal kan mereka berdua hanya bercanda saja bukan bertengkar seperti apa yang di ucapkan oleh Ibu nya barusan.
''Emang nya adik bisa membuat gunung gunung meletus Bu,'' tanya Karan yang di abaikan oleh sang Ibu, bahkan beliau sudah masuk ke dalam mobil nya. Karan di landa kebingungan dengan perkataan sang Ibu barusan, akhirnya dia memantapkan langkah nya menghampiri sang adik sang sudah berdiri di samping mobil nya Karan.
''Ayo masuk?'' Ujar Karan membuka pintu mobil untuk diri sendiri.
''Nggak peka banget sich nie cowok,'' gumam Sania pelan, namun masih terdengar oleh Karan.
''Nggak peka kenapa? kalau nggak mau ikut kakak, kakak pergi sekarang lho,'' jawab Karan mengangkat satu alisnya ke atas. Sedangkan Sania menghentak kan kakinya karena kesal dengan tingkah kakak nya yang nggak mau membukakan pintu mobil untuk nya.
'Enak saja, mau nyuruh gue buat bukain pintu mobil, emang nya dia pacar gue yang harus gue layani,' gerutu Karan dalam hati seraya menyunggingkan senyuman jahat nya.
Karan melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Jakarta yang begitu ramai, untung n saja hari ini tidak lah terlalu macet jadi? mereka berdua dengan cepat sampai di rumah besar nya.
Di rumah kini sang Ibu sudah menunggu mereka di teras rumah nya dengan gamis yang beda warna dengan yang ia kenakan tadi.
''Wah... Ibu sudah siap rupanya? sudah wangi dan sudah berganti baju juga,'' goda Karan pada Ibu nya.
__ADS_1
''Sudah lebih baik kalian cepat mandi dan ganti baju, entar malah kemaleman sampai di sana nya,'' jawab Bu Wati menyuruh kedua nya untuk segera bersiap dan segera berangkat ke rumah kakek Sanjaya.
Kedua nya menganggukkan kepalanya dan berjalan masuk ke dalam untuk mempersiapkan diri mereka masing-masing.
Sania masih marah dengan kakak nya, dia mengabaikan panggilan sang kakak dan dengan cepat masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya juga.
''Adik...? dengar nggak sich!'' teriaknya didepan kamar.
''Bodo amat, mending gue mandi dan bersiap ke rumah kakek, aku akan aduin semuanya pada kakek nanti, biar tau rasa dia?'' gumam Sania berjalan ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri nya dari keringat yang menempel di badan nya.
''Ach... sial!'' Gumam Karan meninju ke udara. Karan pun berjalan ke kamar nya untuk melakukan ritual mandi nya.
Tak lama kemudian Karan sudah selesai dengan celana jeans dan juga kaos oblong nya yang berlengan panjang, Karan selalu berpenampilan biasa namun karena ketampanan nya membuat apa yang biasa pakai terlihat kuat biasa di mata perempuan perempuan luar sana.
Karan keluar dari kamar nya dengan menenteng paperback di tangan nya, lalu Karan mengetuk pintu kamar Sania, namun Karan ketika menempelkan tangan nya ke pintu, pintu itu sudah terbuka lebih dulu, dan keluarlah gadis tomboy dengan pakaian casual nya.
Karan mengangkat tangan yang kini sedang memegang paperback, Sania mengerutkan keningnya dan bertanya lagi. ''Kenapa?'' tanya nya dingin, dia melipat kedua tangan ke dadanya.
''Buat orang terkasih,'' jawab Karan mengambil tangan Sania dan memberikan paperback tersebut pada adik nya, Karan pun berlalu kembali ke kamar nya lagi, karena barang yang akan ia bawa lupa di kamar nya.
Sepeninggal Karan Sania membuka paperback yang kini ia pegang, matanya melotot melihat barang yang di berikan oleh kakak nya, gaun cantik lengkap dengan high heels, dan beberapa aksesoris lain nya berada di dalam satu paperback tersebut. Sania tersenyum melihat kakak nya yang kini sudah keluar dari kamar nya, dengan menenteng beberapa paperback di tangan nya.
''Terima kasih ya kak? kakak baik dech,'' ucap nya sembari mengedip ngedip kan mata genit nya.
''Sudah taroh saja di dalam kamar dulu, kita berangkat sekarang, kasian Ibu sudah menunggu kita di luar,'' Ucap Karan memperingatkan sang adik agar menaruh dulu paperback yang ia pegang saat ini.
...****************...
__ADS_1
Sore hari mereka bertiga sampai di rumah kakek Sanjaya, Mikaela yang sedang bermain dengan sang adik di taman depan menghentikan main nya sejenak, Mikaela menatap mobil yang ia kenal karena mobil yang ia kendarai saat ini, adalah mobil yang selalu di bawa Pak Udin keneumah besar kakek Sanjaya.
''Adek...? coba lihat ke sana, itu bunda sama kak Sania,'' Ujar Mikaela pada sangnadik menunjuk ke arah mobil yang baru berhenti tepat di depan pintu rumah nya.
Mikaela menutup mulutnya ketika melihat siapa yang keluar dari dalam mobil nya, selain Sania dan Bu Wati ternyata ada orang yang sangat ia rindukan selama ini.
''Kak Karan?'' seru Mikaela dan berlari menghambur ke pelukan Karan, sedangkan sang adik ia tinggal begitu saja.
''Ternyata kamu sudah sangat besar ya, dan cantik,'' pungkas Karan menurunkan Mikaela dari gendongan nya.
''Sudah, sekarang kamu sudah besar? membuat kak Karan ngap gendoy Mikaela,'' lanjutnya lagi, membuat Mikaela terkekeh geli, karena dia lupa saking bahagia nya bertemu dengan saudara sepupu yang sudah sangat lama tidak bertemu dengan nya.
''Nah kalau ini kak Karan mau menggendong nya, iya kan sayang?'' Ujar Karan menggendong adik Mikaela yang sudah ada di depan nya Karan.
Karan menghampiri kakek nya yang sedang duduk di kursi roda nya, Karan mencium punggung tangan kakek nya.
''Bagaimana kabar kakek,'' tanya Karan dan diapun menurunkan adik Mikaela yang Karan belum tau namanya itu.
Karan mendorong kursi roda yang di duduki kakek Sanjaya saat ini, ''Ternyata kamu masih ingat sama kakek Karan?'' jawab kakek Sanjaya memegang tangan Karan.
''Ya ingat lah kek? masak ia Karan lupakan sich,'' balas Karan tersenyum, walau senyuman itu tak terlihat oleh kakek nya.
''Bagaimana? apa sekarang kamu sudah siap meneruskan usaha Ayah kamu Karan?'' tanya kakek Sanjaya lembut dan pastinya dengan suara tuanya.
.
.
__ADS_1
.