Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 113 Senyuman Sania


__ADS_3

Tuan Arzan membawa Sania ke rumah sakit yang dekat dari desa, letaknya ada pinggiran desa, dengan menggendong tuan Arzan membawa Sania masuk ke dalam, sedangkan Riana sudah memberi tahu suster yang sedang bertugas di sana, Sania di bawa ke ruang IGD untuk menindak lanjuti, seorang dokter wanita masuk kedalam IGD untuk memeriksa keadaan Sania sekarang, sedangkan sangat tante tengah menangis di pelukan suaminya mengingat penyakin ponakan nya yang begitu serius.


''Lebih baik Mama berdo'a saja ya, kasian Sania kalau Mama nangis terus,'' Ucap tuan Arzan pada sang istri.


''Mas? tapi aku takut terjadi sesuatu pada Sania, aku belum siap kehilangan dia Mas? cukup ka Candra yang ninggalin aku untuk selamanya,'' jawab nya dengan suara lirihnya.


''Hus...? kamu ngomong apa sich Ma, Sania akan baik baik saja sayang, aku akan berusaha untuk mencari obat agar dia kembali sehat dan berkumpul di tengah-tengah kita lagi,'' sela tuan Arzan di saat sang istri mengucapkan kata-kata seperti itu.


''Berdo'a lah, minta sama yang maha Pencipta agar Sania di beri kesembuhan, dan penyakit nya segera di angkat dari dalam tubuhnya.'' tambah nya lagi mengingat kan sang istri agar menyambung do'a pada ponakan tersayang nya.


''Mas? lebih baik kamu telfon Karan sekarang,aku takut terjadi sesuatu sama dia Mas?'' pinta Mama Citra pada suaminya.


''Jangan Pa? kalau Sania tau kak Karan pulang sebelum masa Hanymon nya habis, dia akan sedih Pa, lusa kak Karan pulang kok, Riana yakin Sania nggak akan kenapa napa? karena dia sangat kuat,'' sambung Riana menghentikan Papa nya yang ingin menghubungi Karan kakak nya.


'''Baiklah, kita berdo'a saja untuk kesembuhan Sania?'' gumam tante Citra memeluk puteri nya.


''Ma bagaimana keadaan Sania sekarang?'' tanya Rian yang baru datang dengan nafas tersengal sengal.


''Belum tau kak, dokter nya saja belum keluar dari dalam,'' sahut Riana lirih.


''Emang kak Sania sakit apa sich Pa, kok dia sampai pingsan githu,'' tanya Roni yang baru sampai di depan IGD.


''Kita do'a kan yang terbaik buat kakak kamu ya dek, semoga dia kuat?'' jawab sang Mama mencoba untuk tegar, namun air mata yang ia tahan meluncur begitu saja di kedua pipinya. Tuan Arzan kembali memeluk istri nya yang mungkin saat ini sangat down, melihat ponakannya yang tak baik baik saja.

__ADS_1


''Kita berdo'a saja ya, kita sambung do'a jangan menangis terus seperti ini, paling nggak kita harus pura pura tegar di hadapan Sania nanti, agar dia tidak merasa bersalah pada kita semua di sini,'' gumam tuan Arzan mengelus punggung istri nya yang bergetar, sesekali tuan Arzan mencium kening sang istri agar lebih tenang sedikit.


''Emangnya Sania sakit apa Ma? Rian masih belum mengerti apa yang terjadi pada dia, aku di sini bagaikan orang begok yang tak tau apa apa?!'' Gumam Rian yang duduk di samping Riana sang adik.


''Kak? Sania kena kanker darah,'' Ucap Riana yang menangis kembali karena dia tak bisa menahan rasa sedih nya.


''Jangan bercanda kamu dek, Sania hanya mimisan biasa kan?'' balas Rian tak percaya.


''Kak Rian, Riana tak bohong? Sania emang punya penyakit itu, dia tak baik baik saja di dalam,'' lirih nya dengan deraian air mata.


Rian menjambak rambutnya kasar mendengar kenyataan yang sesungguhnya, ''Kenapa kamu baru kasih tau aku sekarang dek, kenapa?'' Rian juga mulai menangis, sejak dulu dia tak menangis dan sekarang? setelah dia mengetahui kalau adik sepupu nyanterkena kanker darah, dia tak bisa menahan air matanya lagi.


''Riana juga baruntau semalam kak, Riana mengambil obat yang ada di dalam tas selempang Sania, dan di bawanya ke apotik untuk menanyakan obat apa yang di konsumsi Sania selama ini, dan setelah aku tau tentang itu, aku juga merasa hancur mengetahui fakta kalau Sania mengidap penyakit ganas itu kak?'' jelas Riana panjang lebar.


Krieett... suara pintu di buka, mereka semua menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka itu. Dengan serempak mereka bangun dari duduk nya menghampiri dokter yang keluar dari IGD tempat di mana Sania berada.


''Sekarang pasien sudah sadar, namun lebih baiknya pasien harus dirawat inap di sini,'' jawab sang dokter menatap semua orang. ''Dan saya ingin membicarakan sesuatu pada bapak Ibu, lebih baik anda ke ruangan saya saja, agar lebih nyaman ngobrolnya,'' tambah nya lagi sebelum sang dokter benar-benar pergi dari hadapan keluarga tuan Arzan.


Tuan Arzan mengangguk seraya berkata, ''Baiklah saya akan ke ruangan dokter, tapi kami bisa menjenguk ponakan saya di dalam sekarang,'' jawab tuan Arzan dan juga bertanya pada dokter wanita tersebut.


''Boleh, silahkan saja? tapi jangan bikin dia tertekan atau memikirkan hal yang akan membuat dia down kembali,'' sela dokter mengingat kan dan segera melangkah pergi menuju ruangan nya kembali.


Semua nya mengangguk, tuan Arzan dan tante Citra masuk lebih dulu menemui Sania yang masih terbaring di bangsal rumah sakit.

__ADS_1


Sania nampak tersenyum melihat tante dan Om nya yang menemui lebih dulu.


''Om, tante?'' sapa Sania dengan lirih.


''Sudah, lebih baik kamu istirahat saja dulu ya, tante akan belikan kamu makan siang di kantin rumah sakit?'' Ucap tante Citra berbohong.


Sania mengangguk dan lagi lagi dia hanya mengembangkan senyum termanis nya, agar Om dan tante nya tidak khawatir padanya.


Tuan Arzan dan tante Citra keluar dari IGD, dan Riana, Rian dan juga Roni masuk untuk menjaga Sania di dalam, karena mengingat orang tuanya akan menemui dokter di ruangan nya sekarang.


''Kakak?'' sapa Sania, lagi lagi di mengembangkan senyuman nya.


''Kamu nggak apa apa kan?'' tanya Riana memegang tangan Sania.


''Sania nggak apa apa kok kak, mungkin Sania anemia karena sering mimisan seperti tadi,'' jawab Sania masih berbohong pada saudara sepupu nya.


''Makanya kak Sania lebih banyak lagi makan sayuran, agar anemia nya segera minggat,'' sela Roni dengan kekehan nya.


''Bener tuh yang di katakan Roni Sania, masak iya kamu betah anemia lama lama di tubuh kamu sich? kan nggak asik,'' sambung Rian agar Sania kembali tersenyum.


''Kakak sama adik apa'an sich, masak ia secara tak langsung Sania memelihara anemia gitu sich,'' cetus Sania cemberut.


''Jangan cemberut gitulah dek? nanti cantiknya ilang lho?'' ledek Riana memegang pipi Sania gemas.

__ADS_1


''Kak Sania nggak makan yang teratur ya, badan kakak kurusan gini sekarang? bagaimana kalau kita masakin kak Sania makanan apa saja yang bisa bikin kak Sania gemuk kak?'' Ucap Roni dan meminta pendapat kedua kakak nya.


Mereka bertiga tertawa mendengar ocehan Roni barusan, Riana sangat bersyukur melihat Sania yang mengembangkan senyuman nya begitu lepas, Riana mencoba untuk tetap tegar dan sesekali dia menghela nafas panjang agar dia merasa tenang dan tak memangis di depan Sania. Mereka bertiga terus mengajak Sania untuk bercanda tawa agar dia sendiri melupakan beban yang ada di pikiran saat ini.


__ADS_2