
Malam semakin larut dan Sania memutuskan kan untuk pulang sebelum pesta tersebut usai, Gita nampak sedih melihat teman nya yang sedari tadi menjadi bahan bullyan dari sebagian teman dan juga saudara sepupu nya yang kini menjadi artis papan atas. Sania diam bukan dia takut, tapi dia lebih menghargai sang teman karena menurut Sania dia akan membuat kekacauan di dalam pesta teman nya yang selama sebulan ini ia rencanakan.
Gita dan keluarga nya berkali-kali minta maaf pada Sania, atas sikap Arletta yang benar-benar sudah kelewatan pada nya, Sania berjalan keluar restoran setelah berpamitan pada sang manajer di restoran nya.
''Ya sudah kalau kayak githu aku antar kamu saja Sania, atau kamu bawa mobil?'' tanya Arlan pelan seraya menoleh ke kanan dan ke kiri, takutnya ada yang mendengar perkataan nya.
''Mana mungkin aku bawa mobil sendiri mas? Sania kan masih menyembunyikan identitas asli Sania, Sania belum siap untuk mengatakan yang sesungguhnya pada yang lain, karena Sania ingin mencari teman yang tulus yang mau berteman dengan Sania mas, jadi jangan sampai mereka tau identitas Sania sekarang,'' jawab Sania menatap sang manajer yang berada tepat di depan nya.
''ini sudah malam Sania, aku takut terjadi sesuatu sama kamu, aku....''
''Aku nggak mau tuan Arzan kecewa,'' Sania melanjutkan perkataan Arlan yang sempat ia potong.
''Sania?'' seru Arlan sang manajer yang menirukan perkataan nya tadi.
''Mas Arlan? Sania sudah sangat hafal apa yang mas Arlan ingin katakan, karena mas Arlan sudah sering mengatakan perihal itu pada Sania mas, jadi Sania benar-benar hafal kata apa yang ingin mas Arlan ingin ucapkan,'' balas Sania tersenyum, karena dia sudah menang berdebat dengan sang manajer nya.
''Ya sudah kalau githu Sania pamit dulu mas? Sania masih ingin menjemput kak Pinky di cafe sebelah,'' Ujar Sania melambaikan tangan nya.
''Kqlau begitu aku akan mengantar kamu ke sana Sania?'' jawab Arlan yang sudah ada di belakang Sania.
''Mas Arlan? Sania bisa sendiri, lagian nanti ada yang melihat mas Arlan bersama Sania?'' gumam Sania membalikkan tubuh nya ke belakang menghadap ke arah Arlan yang berada tepat di belakang nya.
''Aku nggak mau penolakan, aku takut terjadi sesuatu sama kamu di sana, ini sudah malam Sania,'' balas Arlan yang juga menatap wajah cantik Sania.
__ADS_1
'Sania, kamu sangat cantik malam ini? kamu benar-benar beda dengan penampilan kamu sekarang dengan penampilan sehari hari kamu,' gumam Arlan dalam hati.
Sesampainya di cafe Sania terus menyusuri setiap meja yang ada di sana, namun tak menemukan orang yang ia cari, Sania yang putus asa pun bertanya pada seseorang yang sedang berjaga di meja kasir. ''Mbak maaf mau tanya, apa mbak lihat wanita ini,'' tanya Sania menunjukkan foto Pinky yang berada di galeri handphone nya.
''Och? wanita ini sedang mabuk nona, dia ada di ruangan dalam,'' jawab sang penjaga kasir setelah melihat wajah Pinky dengan jelas.
''Ruangan? maksud ruangan apa ya mbak, dia nggak apa apa kan mbak. Atau jangan jangan dia di paksa untuk menemani pria hidung belang,'' tanya Sania beruntun, dia sangat khawatir ketika mendengar penuturan sang penjaga kasir yang menyebutkan Pinky berada di dalam ruangan. Aku sudah nggak bisa berpikir dengan jelas untuk saat ini, karena ini menyangkut harga diri Pinky teman dari kakak nya.
''Mas ayo kita cari ke dalam?'' ajak Sania pada Arlan, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata nya.
''Sabar dulu ya, Pinky nggak akan kenapa kenapa,'' jawab Arlan menepuk punggung Sania dengan lembut.
''Mbak, tolong antarkan kami ke ruangan yang di maksud mbak tadi?'' Ucap Arlan masih dengan aura dingin nya.
''Iya mbak,'' tanya pelayan yang di panggil sanjlg kasir dengn lambaian tangan nya.
''Antarkan tuan dan nona ini ke ruangan yang ada wanita cantik itu ya,'' titah nya yang langsung di angguki nya.
''Mari tuan dan nona ikuti saya,'' Ucap nya dan melangkah pergi dari hadapan sang kasir yang sudah Sania omelin.
''Sebenarnya kenapa dia harus di bawa ke ruangan sich mbak?'' tanya Sania yang masih khawatir dengan Pinky.
''Och itu, nona? sebenarnya nona yang ada di dalam tadi pingsan, dan kami tidak tau harus bagaimana? dia juga sendirian di cafe ini. Jadi kami memutuskan untuk membawa ke ruangan saja,'' jawab nya yang terus melangkah kan kakinya menuju ruangan di mana Pinky berada.
__ADS_1
Pintu di buka selebar lebarnya dan nampak lah Pinky yang sedang terbaring di sofa panjang di ruangan itu, Sania berlari menghampiri Pinky yang masih memejamoan mata nya.
''Kak Pinky kenapa? kak Pinky nggak apa apa kan?'' ucap Sania seraya menggoyang goyangkan lengan Pinky, Pinky yang terganggu pun membuka matanya dan nampak lah di sana Sania sedang menangis sambil terus menggoyang goyangkan tubuh nya.
''Sania kamua ngapain sich? sakit tau nggak!'' keluh Pinky pada Sania karena tubuhnya masih di goyang goyangkan.
''Kak Pinky sudah bangun? kakak nggak apa apa kan kak, jangan bikin aku khawatir dingin kak?'' jawab Sania menghapus air matanya dengan kasar.
''Kak Pinky sudah bikin aku marah marah pada pelayan di cafe ini, aku takut kak Pinky di paksa untuk melayani om om nggak jelas di cafe ini, jadi aku marahin saja dia?!'' lanjut Sania yang langsung mendapatkan pelototan dari sang empu.
''Jangan aneh aneh dech Pinky, tadi aku pusing dan nggak sengaja pingsan juga, jadi mereka membawaku ke sini,'' ujar Pinky menjelaskan pada Sania agar tak salah faham.
Pinky menepuk jidad nya melihat sikap Sania yang khawatir pada nya, namun sedetik kemudian Pinky terkekeh mendengar Sania marah marah pada sang pelayan yang sudah menolong nya. ''Pokoknya kamu harus minta maaf Sania, aku nggak mau tau? mereka sudah menolong ku dan kamu memarahinya begitu saja,'' Ucap Pinky terkekeh.
''Ini semua gara-gara kak Pinky, harusnya kak Pinky memberi tahu Sania, agar Sania bisa menghampiri kak Pinky dengan cepat, tapi kenapa kak Pinky malah tertawa githu, aku khawatir lho sama kak Pinky? namun yang di khawatirkan malah mentertawakan ku begitu saja,'' balas Sania menghentakkan kakinya ke lantai marmer di dala ruangan itu.
''Jangan hentak hentak kayak githu, entar sepatu ku malah patah lagi gara-gara kamu hentak hentak kan kayak gitu,'' Pinky menasehati Sania yang menghentak hentak kan kakinya.
.
.
.
__ADS_1