Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 180 Mengigau


__ADS_3

Semenjak Arlan kecelaka'an, Karan lebih sering diam di rumah sakit. Di mana Karan akan melakukan balas budi nya terhadap adik ipar nya karena dia sudah begitu baik kepada adik nya selama ini.


''Adek, kamu pergi kemana sich? kakak sangat merindukan kamu sayang,'' gumam Karan dengan lirih. Tiba tiba Karan terkejut ketika mendengar rintihan dari ranjang adik ipar nya.


''Sania, aku mencintaimu, sangat mencintai mu? jangan pernah kau tinggalkan aku lagi Sania, aku akan mati kalau kamu tidak ada di samping ku,'' rintihnya dengan mata yang masih terpejam.


Karan yang panik segera menekan tombol yang ada di tembok diatas nakas.


Pintu ruangan di buka dari luar, dan nampak lah di sana dokter dan dua suster yang mengikuti nya.


''Dokter, tolong dia? dia barusan mengigau,'' kata Karan khawatir.


'''Tuan, lebih baik anda keluar dulu, biar kami periksa keada'an tuan Arlan,'' Ujar sang suster ramah.


Karan mengangguk pelan dan melangkah keluar ruangan nya, Karan memilih untuk menjaga Arlan karena rasa bersalah nya.


Di dalam ruangan Dokter dan kedua suster tengah memeriksa keada'an Arlan, ''Dia sudah melewati masa kritis nya, dan kita akan menunggu perkembangan selanjutnya,'' kata sang Dokter kepada salah satu suster nya agar dia mencatat perkembangan Arlan sekarang.


Di luar ruangan Karan sedang menunggu Arlan dengan perasa'an yang semakin khawatir, dia takut terjadi sesuatu dengan adik ipar nya, sedangkan Adiknya sendiri belum ada kabar di mana dia sekarang.


''Karan?'' sapa seseorang yang sudah berdiri di depan nya, dia adalah Ibu dan juga besan, yang tak lain Ayah nya Arlan.


''Ibu kok bisa barengan sama Ayah Arlan sich,'' tanya Karan heran.

__ADS_1


''Sebenarnya Ibu tidak bareng sama besan Ibu Karan? tadi Ibu bertemu beliau di parkiran, jadi Ibu ajak masuk sekalian,'' jawab nya menepuk bahu Karan dengan pelan.


''Iya Tuan, yang di bilang Nyonya itu benar?'' sambung Ayah Arlan merasa tak enak hati.


''Jadi Bapak nggak jadi pulang? kan sudah di suruh pulang sama Karan. Ingat Pak? di sini sudah ada Karan yang menjaga Arlan, lebih baik baik Bapak istirahat saja di rumah dengan nyaman,'' Ucap Karan kepada Ayah Arlan dengan lembut, layaknya dia tengah berbicara dengan mendiang Ayah nya.


''Saya, tidak bisa meninggalkan putera saya Tuan, saya khawatir terjadi sesuatu dengan putera Bapak, biar Bapak saja yang menjaga dia di rumah sakit ini. Tuan Karan lebih baik mencari tau Nona Sania agar dia tahu kalau suami nya tengah mengalami kecelaka'an,'' Ucap Ayah Arlan dengan lembut dan sopan dengan cucu majikan nya dulu.


''Sudah jangan di pikirkan lagi, lebih baik kamu makan saja dulu, sejak tadi kamu belum makan kan? makan lah dulu Bunda ingin masuk sebentar untuk mengetahui keada'an menantu Bunda?'' sela Bu wati kepada Karan putera nya.


Karan hanya mengangguk dan membuka bekal yang di bawakan Bunda nya, awalnya Karan hanya menatap makanan nya saja sampai akhir nya ayah Arlan berujar. ''Lebih baik tuan Karan makan dulu,''


''Ayo makan bareng Karan Pak?'' ajak nya mempersilahkan Ayah Arlan.


''Bapak tidak kecewa dengan yang di lakukan sama adik Karan Pak?'' tanya Karan penasaran karena dia tau adik nya di sini yang bersalah, karena pergi tanpa pamit dan sampai sekarang belum pulang juga.


''Bapak tidak pernah kecewa dengan menantu Bapak Tuan, mungkin dia pergi dengan membawa luka di hati nya karena kata kata Rika yang menurut bapak sangat menyakitkan di hati nya,'' Ucap nya panjang lebar.


''Maafkan adik Karan Pak, karena adik Karan pergi? Arlan mengalami kecelaka'an ini,''


''Sudahlah Tuan, ini semua musibah dan ini semua bukan salah Tuan ataupun Nona Sania juga, mungkin ini sudah takdir Allah SWT yang ia kasih kepada putera saya, agar lebih berhati hati lagi ke depan nya. Dan Bapak berharap juga Nona Sania cepat pulang dan bertemu dengan putera saya di rumah sakit ini.


Karan mengangguk dan mulai menyiapkan makanan nya ke dalam mulut. ''Bagaimana nanti setelah Arlan sadar kita pindah saja ke rumah sakit di kota saja Pak, agar semua keluarga yang ingin menjenguk Arlan menjadi dekat tidak jauh seperti sekarang ini?'' gumam Karan memberi gagasan kepada Ayah mertua dari adik nya.

__ADS_1


''Memang nya tidak merepotkan Tuan?'' tanya nya lirih, karena merasa tak enak hati dengan keluarga menantu nya.


''Tidak ada yang repot untuk ini Pak, Arlan juga adik Karan, sejak dia melakukan ijab kabul dengan adikku Sania, Arlan juga sudah menjadi adik Karan juga, jadi Bapak jangan punya pikiran seperti itu lagi, kami semua adalah keluarga di sini,'' balas Karan mengelus punggung tangan Ayah Arlan yang sudah berkeriput.


''Baiklah,'' Ucap nya pasrah.


Bu Wati yang sudah lama di dalam ruangan menantu nya memilih untuk keluar menemui putera dan juga besan nya.


''Sudah selesai belum makan nya,'' tanya Bu Wati dengan lembut, dan mendarat kan boking nya tepat di samping sang putera.


''Sudah Bunda, apa mau pulang sekarang?'' tanya Karan yang tengah menutup tempat bekal nya. Bunda nya memang selalu menaruh makanan di dalam wadah yang selalu ia pakai kalau membawakan bekal untuk anak anak nya.


''Bagaimana keada'an Arlan sekarang Bunda,'' tanya Karan yang belum melihat lagi, tadi ketika dokter nya keluar dari ruangan Arlan lebih memilih mengobrol dengan Bunda dan juga Ayah Arlan.


''Arlan belum sadar juga, tapi dia sudah melewati masa kritis nya, semua alat yang di pasang ada sebagian di buka oleh dokter tadi,'' jawab nya.


''Kalau githu saya masuk dulu Nyonya,'' panit Ayah Arlan beranjak dari tempat nya.


Bu Wati mengangguk dan mempersilahkan besan nya untuk masuk keruangan putera nya yang tak lain adalah menantunya.


''Apa sudah ada kabar dari adik kamu,'' tanya Bu Wati menatap Karan.


''Belum Bunda, tapi anak buah Karan dan beserta anak buah dari Om Arzan dan juga Om Fabian juga terus mencari keberada'an adik nya saat ini,'' sahut nya dengan nada sedih, mengingat adik nya yang masih sakit, sebenarnya Karan tidak rela dengan kepergian Sania yang begitu buru buru dalam mengambil keputusan, mungkin Sania berpikir kalau Arlan akan mencari wanita lain karena dia yang tak kunjung hamil.

__ADS_1


__ADS_2