Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 30


__ADS_3

Di dalam rumah sederhana kak Citra melihat lihat rumah tersebut dengan sesekali dia mencari foto orang yang ia cari selama ini. Sania pergi ke dapur untuk membuat teh.


''Maaf tante, hanya ada teh saja,'' Ucap Sania menaruh teh hangat di meja kayu yang sudah mulai usang.


''Nggak apa apa, ini sudah cukup kok? iya kan Ma,'' sahut Andrian dan meminta persetujuan dari sang Mama.


''Iya sayang? makasih ya tante sudah merepotkan kamu,'' sambung kak Citra melangkah kan kakinya ke kursi kayu jati yang sudah kusam, mungkin sudah di makan usia.


''Lumayan jauh juga ya Sania rumah kamu dari sekolah, apa kamu nggak capek jalan kaki setiap hari ke sekolah,'' tanya Riana seraya menyesap teh hangat nya.


''Mau bagaimana lagi kak? Sania kan harus mengejar cita-cita dan ingin membanggakan orang tua Sania yang hanya tersisa Ibu saja, Sania juga berjanji suatu saat akan menjadi orang yang sukses, agar orang yang selalu menghina kami di kampung tidak lagi meremehkan orang miskin seperti kami ini,'' Gumam Sania, Sania menampakkan senyum manisnya walau di dalam dadanya terasa sesak mengingat penghinaan yang di lakukan Pak Lukman dulu pada dirinya dan juga kakak nya.


''Kalian pasti bisa sayang? kalian akan menjadi orang hebat di kemudian hari,'' kata kak Citra mengelus punggung Sania. Tiba-tiba ponsel kak Citra berdering.


''Halo Mas?'' sapa kak Citra pada seseorang di seberang telfonnya.


''Sayang, kamu di mana sekarang? kenapa dokter Rike mengatakan kamu belum sampai ke rumah sakit?'' tanya Mas Arzan khawatir.

__ADS_1


''Citra masih ada di rumah Karan Mas? tadi Citra mengantarkan mereka berdua pulang, ya sudah kalau gitu Citra langsung ke rumah sakit sekarang,'' Ucap kak Citra pada sang suami, dan dia menutup telfonnya.


''Sayang? kalian nggak apa apa kan tante tinggal, tante harus ke rumah sakut sekarang?''


''Tante sakit?'' tanya Sania terkejut.


''Bukan sakit Sania, tapi Mama mau memeriksakan adek yang ada di dalam perutnya,'' sahut Andrian melipat kedua tangan ke dadanya.


''Och... Selamat ya tante?'' jawab Sania polos.


Sania nampak melambaikan tangan ke arah kak Citra, kak Citra pun membalas lambaian tangan Sania.


Sepeninggal kak Citra dan kedua anak kembar nya, Karan berpamitan pada sang adek untuk berangkat kerja ke restoran tempat ia biasa bekerja.


''Adik? kakak berangkat kerja dulu ya, do'ain kakak,'' pamit Karan, tak lupa Sania mencium punggung tangan sang kakak.


''Iya kak? hati hati di jalan,'' pesan Sania pada Karan.

__ADS_1


''Iya, kamu juga hati hati di rumah, jangan lupa kunci pintu nya,'' Karan mengingat kan sang adek.


''Iya kak? ya sudah, kakak berangkat gih nanti telat lho?'' perintah Sania pada sang kakak yang masih asik nyerocos pada sang adek.


''Ich...! kebiasaan dech kalau kakak ngomong,'' elak Karan mencubit pipi Sania adek nya.


''Auww....! sakit kali kak?'' dingin Sania saat Karan mencubit pipinya. ''Kebiasaan kakak tuh harus di rubah, jangan cubit pipi Sania terus,'' oceh Sania yang terus mengusap pipinya yang terasa sakit.


''Ach lebay lho dek, ya sudah kakak berangkat dulu kalau githu,'' jawab Karan dan melangkah keluar rumah, diapun mulai berjalan menuju restoran tempat ia bekerja.


Sania langsung mengunci pintu rumah nya, dan dia pergi ke dapur untuk membuat makan siang nya, walau hanya mie rebus namun Sania begitu bahagia sudah bisa makan, ketimbang orang orang yang kurang beruntung lainnya, sampai sampai ia harus melewatkan sarapan pagi, makan siang nya, mereka hanya bisa makan satu kali saja yakni makan malam. Sungguh kasian sekali mereka semua nya.


''Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas rezeki mu yang engkau berikan pada keluarga hamba,'' Gumamnya ketika mie instan nya sudah tandas.


Sania pun masuk ke dalam kamarnya untuk mengerjakan tugas tugas sekolah nya yang belum selesai tadi. Namun tiba-tiba Sania teringat ucapan teman kelasnya yang mengatakan bahwa Andrian dan Andriana bukan orang sembarangan, dan terkenal dingin sama siapa saja.


''

__ADS_1


__ADS_2