
''Nggak ada tapi tapian,'' balas Bu Wati menggiyang goyangkan telunjuk nya pada Pinky. Mau tak mau Pinky mengiyakan ucapan Bu Wati yang sudah menyuruh nya menginap.
''Kalian sudah makan malam?'' tanya Bu Wati setelah berafa di dalam rumah nya. Keduanya menggeleng secara bersamaan.
''Kenapa belum makan malam? emangnya kalian dari mana saja jam segini kok pada belum makan malam sich,'' ujar Bu Wati menatap Pinky dan juga Sania.
''Dan Sania! ini baju siapa, dan kamu juga pakek high heels?'' tanya Bu Wati setelah menyadari penampilan puteri nya yang tampak berbeda dari biasa nya.
''Tadi Sania pergi ke pesta ulang tahun teman Bu, kalau gaun ini pemberian kak Pinky, sedangkan...? sepatunya pinjam punya kak Pinky?'' jawab Sania menundukkan kepala nya karena takut sang Ibu memarahinya, apalagi sekarang ada Pinky di sampingnya.
''Pesta...! kamu nggak berbuat macam macam kan Sania, kamu...''
''Kita berdua kok Bu, tadi kita sudah makan tapi sekarang lapar lagi, kan... di sana cuma makan sedikit? habis nya malu mau ambil banyak makanan di sana,'' potong Pinky.
''Ya sudah kalian makan saja dulu, habis itu kalian tidur. Bibi sudah menyiapkan makanan nya di meja makan, Ibu masuk ke kamar dulu ya,'' pamit Bu Wati pada keduanya.
Sania dan juga Pinky hanya menggangguk kan kepala nya saja, mereka berdua menuju meja makan yang sudah tersedia hidangan yang menggugah selera, ''Silahkan nona? ini nyonya yang masak semua nya,'' ujar sang Bibi yang menuangkan air ke dalam gelas kedua gadis itu.
''Makasih ya Bi?'' Ucap Pinky pada Bibi yang sudah mau menuangkan airnya ke dalam gelas.
''Sama-sama nona, kalau githu Bibi ke belakang dulu?'' pamit nya.
__ADS_1
''Bibi istirahat saja, biar saya yang membereskan semua ini,'' Ujar Sania menghentikan langkah kaki sang Bibi.
''Tapi nona?''
''Nggak ada tapi tapian Bi, Bibi istirahat saja? lagian ini juga sudah malam,'' sambungnya lagi.
''Terima kasih nona, kalau githu Bibi permisi dulu,'' jawab nya melangkah pergi menuju kamar nya yang berada tak jauh dari dapur.
Pinky mulai menyuapkan nasi ke dalam mulut nya, tanpa terasa Pinky mengerutkan keningnya ketika mengubah makanan yang ia suap barusan. ''Rasanya aku pernah merasakan makanan ini, tapi... di mana ya,'' gumam Pinky pelan, namun masih terdengar oleh Sania. dia sembari mengingat ingat kapan dia memakan masakan yang ia makan sekarang.
''Iyalah pernah makan masakan seperti ini, kan kak Pinky makan di restoran waktu itu,'' gumam Sania mengingat kan Pinky.
''Iyalah sama, lawong kamu makan di restoran Ibu waktu itu,'' Gumam Sania pelan, namun gumaman Sania terdengar oleh Pinky hanya gumaman semata.
''Apa kamu bilang sesuatu?'' tanya Pinky makin penasaran.
''Eng...enggak kok, mungkin kak Pinky salah denger kali,'' jawab Sania dengan gelagapan.
''Ya sudah lah kak, cepat habisin makanan nya, aku sudah ngantuk banget?'' Ujar Sania mengalihkan pembicaraan nya.
''Iya,'' jawab Pinky singkat.
__ADS_1
Kini Sania mulai membereskan piring piringnya kotor nya dan membawa ke dapur untuk ia cuci, sedangkan Pinky mengelap meja makan yang terkena jatuhan makanan nya barusan.
''Akhirnya selesai juga Sania?'' keluh Pinky yang emang baru kali ini membantu membereskan tempat makan ny sendiri.
''Iya kak, kalau githu kuy lah kita kita lanjut tidur, besok Sania harus kuliah pagi. Takutnya Sania telat bangun nya,'' ajak Sania, ia menggandeng Pinky untuk di bawa ke kamar nya yang berada di lantai atas.
''Sania...? aku boleh nanya nggak?'' tanya Pinky takut takut.
''Tanya saja kak, siapa tau Sania bisa jawab pertanyaan kakak,'' jawab Sania yang terus melangkah menuju kamar nya.
''Sania ini kamar siapa?'' tanya Pinky, karena dia tak sengaja melihat kamar yang pintunya tertutup rapat.
''Och ini kamar kak Karan kak? coba kakak perhatikan nama pintunya,'' tunjuk Sania memperlihatkan pintu kamar di depan nya.
''Och... tadi aku nggak lihat nama itu, jadi aku bertanya dech,'' ujar nya menatap nama yang tergantung di depan pintu. Gantungan nama nya emang tidak terlalu besar, tapi masih bisa di baca.
Sania membawa Pinky ke kamar nya, dan di dalam kamar Sania terdapat banyak foto foto Karan bersama nya, Pinky melangkah menuju ke arah tembok yang terpajang foto Karan bersama Ibu dan juga Sania dengan ukuran sangat besar.
'Karan, apakah kamu masih mengingat ku, sudah sangat lama sekali semenjak kita tidak satu sekolah, dan kini kamu yang berada sangat jauh di negeri orang? kamu tau nggak, aku sangat merindukan kamu Karan, ketika hidupku hancur karena kesalahan Papa yang memilih wanita lain ketimbang aku puteri nya, kamu malah nggak ada untuk ku Karan. Saat itu hatiku sangat hancur ketika tau perselingkuhan Papa dengan wanita lain, dan dia juga menuntut mama untuk bercerai dari nya, sungguh aku sangat tetpuruk Karan? tapi aku nggak tau mau bercerita dengan siapa kala itu, karena aku nggak mungkin menceritakan semuanya pada adik mu yang sedang sibuk dengan kuliah nya, tapi aku masih bisa tersenyum ketika aku bertemu dengan adikmu dan aku juga selalu menyibukkan diri dengan kuliah dan dengan usahaku sekarang? kamu tau nggak, usahaku sekarang sudah mulai berkembang dan orang yang ingin memesan gaun padaku juga sudah mulai banyak, semoga kamu juga sukses di negeri orang ya, aku tau kamu laki laki yang sangat bertanggung jawab, atau kamu juga sedang bekerja di sana di sela sela kuliah mu Karan, karena yang aku lihat, rumah kamu sudah bagus seperti ini dan juga sangat mewah, Ibu mu juga tidak kalaha baiknya sama aku Karan, walau dia sudah tau tentang keluarga ku seperti apa saat ini,' Ucap nya dalam hati.
Sania yang sedang duduk di tepi ranjangnya hanya memperhatikan Pinky yang sedari tadi hanya mengusap usap foto Karan kakak nya. 'Mungkin kak Pinky kangen dengan kak Karan, tapi kak Karan melarang ku untuk memberikan kak Pinky nomor handphone nya, aku nggak tau apa yang akan di lkukan kak Karan untuk kak Pinky yang selama ini sudah sangat baik padanya dan juga sama aku juga, terutama pada Ibu, sikap kak tak pernah berubah pada kita semua, walau awal awalnya dia tau aku dan jak Karan dari keluarga miskin, tapi dia yang menawarkan pekerjaan pada kak Karan waktu itu, aku salut pada kak Pinky yang memandang orang bukan dari kelas nya, tapi dari kebaikan nya,' Sania juga membatin ketika mengingat kebaikan Pinky waktu dulu.
__ADS_1