Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 157 Drama telur ceplok


__ADS_3

Arlan keluar dari kamar nya sudah rapi dengan celana jeans dan juga kaos berwarna putih di padu padan kan dengan kemeja kotak-kotak nya.


''Waw- tampan sekali pagi ini,'' puji Sania kepada suami nya.


''Yah, dia baru sadar hari ini kalau aku tampan?'' balas Arlan dengan menatap ke arah istri nya. ''Kamu nggak mandi?'' tanya Arlan setelah nya.


''Mandi, tapi setelah sarapan saja Mas? aku sudah sangat lapar,'' sahut Sania yang sudah mendudukkan diri di kursi nya. Sedangkan Arlan masih terus menatap sang istri yang kini masih memakai celemek di tubuh nya, Arlan pun berinisiatif menghampiri Sania dan dengan sengaja menempelkan tubuh nya ke tubuh Sania, Sania mengerutkan kening nya melihat sikap suami nya pagi ini.


''Kenapa Mas? kan sudah Sania ambilkan makanan nya,'' tanya nya yang tak mendapatkan jawaban dari suami tampan nya.


Arlan membuka celemek yang masih menempel di tubuh istri nya, serta berkata. ''Kalau mau makan seharus nya ini di buka dulu,'' jawab nya menyunggingkan senyum jahat nya.


''Maaf Sania lupa karena sudah sangat lapar Mas'' aku Sania menundukkan Kepala nya.


Arlan yang melihat sang istri menunduk pun segera mencium pipi nya, ''Makan lah, Mas hanya ingin membuka celemek ini saja kok, dan kamu hari ini sudah melakukan banyak hal, dan sekarang biar Mas yang melakukan nya untuk mu sayang?'' bisik nya, Arlan kembali duduk di samping istri nya dan Arlan juga memulai menyuapi istri kecil nya.


''Sania bisa sendiri kok Mas, jadi lebih baik Mas makan juga,'' sela Sania ketika suami nya malah terus menyuapi nya, layak nya dia anak kecil yang belum bisa memakan makanan nya sendiri.


''Sudah lah, Mas bisa makan setelah kamu makan, jangan bicara lagi? bilangnya sangat lapar tapi masih terus mengoceh,'' papar nya membuat Sania terdiam dan menerima suap demi suap yang di berikan oleh suami tampan nya.


''Tambah lagi ya,'' Ucap Arlan tiba-tiba ketika nasi di piring Sania sudah tandas tak tersisa sama sekali.


''Sudah Mas, aku sudah kenyang?'' jawab nya yang masih mengunyah suapan terakhir nya.

__ADS_1


''Ya sudah kamu habiskan dulu yang ada di dalam mulut nya, Mas akan ambil obat kamu di kamar,''


''Biar Sania saja Mas, sekalian Sania ingin mandi juga,'' cegah Sania dengan memegang lengan suami nya yang sudah mulai beranjak dari tempat duduk nya.


''Mas nggak mau kamu buang obat nya lagi sayang? Mas hanya ingin kamu kembali sehat dan seperti dulu lagi yang ceria setiap hari nya, biar Mas saja yang ambil kan obat nya, kamu tunggu di sini sebentar dan setelah itu Mas akan mulai sarapan,'' kata sang suami yang kini melangkah menuju ke kamar nya.


Sania tak menampik kalau suami nya terlalu baik, apa mungkin dia tega menyakiti nya dengan membuang obat obatan nya seperti kemarin sebelum menikah, pikir Sania.


Arlan memberikan obat ke tangan Sania, dengan segelas air putih untuk bisa menelan obat obat nya yang lumayan banyak.


Setelah drama minum obat kini Sania berpamitan kepada suami tampan nya untuk segera membersihkan tubuh nya yang mungkin saja bau asap karena bergelut di dapur dan juga tadi berjalan kaki hanya untuk membeli beberapa sayur di ujung jalan.


Arlan menghabiskan makanan nya sambil menunggu sang istri yang tengah bersiap untuk pergi ke rumah sakit, karena hari ini jadwal cek up nya di salah satu rumah sakit.


...****************...


''Kamu kenapa sich nak?'' tanya Bu Wati dengan nada lembut nya seraya mengusap bahu sang menantu.


''Pinky hanya minta Mas Karan untuk bikinin Pinky telur ceplok saja Bu, tapi malah di tinggal pergi begitu saja,'' rengek Pinky dengan tangis nya.


''Sudah jangan nangis lagi, bagaimana kalau Ibu yang bikin?'' sela sang mertua menawarkan dirinya untuk bikinin makanan yang di minta sang menantu.


''Nggak usah Bu, Pinky sudah tak ingin lagi kok? Pinky hanya kecewa sama Mas Karan karena langsung di tinggal pergi begitu saja,'' aku nya, ''Pinky ke butik dulu ya Bu, maaf kalau Ibu selalu Pinky tinggal di rumah sendirian,'' tambah Pinky mencium punggung tangan Ibu mertua nya.

__ADS_1


''Nggak apa apa kok, Ibu juga akan pergi ke restoran sebentar lagi, ya sudah kamu hati hati perginya ya?'' sahut Bu Wati mencium pipi menantu nya.


Setelah kepergian menantu nya Bu Wati memikirkan keanehan yang terjadi kepada sang menantu, ''Apa mungkin Pinky hamil,'' gumam Bu Wati yang di dengar oleh asisten rumah nya.


''Mungkin saja nyonya, karena saya rasa nona Pinky pagi ini sangat aneh sekali, masak gara gara nggak di bikinin telur ceplok sama tuan muda, nona kecil nangis seperti itu,'' terang sang asisten yang sempat melihat sendiri kelakuan nona nya.


''Bibi tau Karan pergi tadi?'' tanya Bu Wati menyelidik.


''Saya sempat dengar kalau tuan muda bilang ada meeting penting dengan klien nya, dan sudah di tunggu juga di kantor nya, jadi tuan Karan langsung pergi ketika nona Pinky merengek seperti anak kecil,'' jawab sang asisten rumah tangga nya panjang lebar.


''Ya sudah, terima kasih ya Bi? kalau gitu aku pamit ke restoran dulu sebentar, titip rumah?'' pamit Bu Wati dan berpesan kepada asisten rumah nya yang sudah sangat lama dia bekerja dirumah besar nya.


''Baik nyonya,'' jawab nya sopan, sang Bibi pun langsung mengunci pintu setelah kepergian sang Nyonya.


Tak lupa sang asisten membersihkan sisa sarapan majikan nya, ''Kalau memang benar nona Pinky hamil, sebentar lagi rumah ini akan rame dengan tangisan bayi dong?'' gumam sang Bibi sambil mencuci piring kotor bekas Pinky dan juga Bu Wati.


''Siapa yang hamil mbok?'' tanya salah satu pekerja di sana, yang kebetulan mendengar gumaman Bibi.


''Nona Pinky pagi ini bertingkah aneh, Bibi rasa nona Pinky hamil?'' sahut nya mengelap tangan nya yang basah karena mencuci piring tadi.


''Ya, itu sih masih belum pasti hamil juga Bi? kirain sudah periksa ke dokter, mungkin saja nona Pinky ingin di manjain oleh tuan Karan, secara tuan Karan terlalu sibuk dengan bisnis nya, dan nona Pinky juga sibuk di butik kan?'' sambung pekerja yang lain ikut menimpali obrolan teman nya sesama pekerja di rumah besar Karan.


''Iya juga ya, mungkin Bibi salah kali ya,'' sang Bibi pun merutuki kesalahan nya seraya menabok nabok bibir nya pelan.

__ADS_1


Akhirnya semua yang bekerja di rumah Karan langsung beristirahat setelah semua pkerjaan nya sudah selesai semua nya.


Sedang sang Bibi masih kepikiran kepada nona nya, yang bersikap aneh dan menangis layak nya anak kecil tadi di hadapan suami nya, sedangkan dari kemarin Bibi tersebut tak pernah melihat sikap aneh dari istri tuan muda nya itu, tapi ya sudahlah ngapain juga mikirin sesuatu yang belum tentu benar kebenaran nya.


__ADS_2