Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 46


__ADS_3

''Och githu ya, jadi kalau githu karena mbak sudah baik sama dia, biar saya bayar uang mbak, yang nalangin buat ponsel anak kecil itu?'' Ucap laki-laki itu pada pegawai toko.


Laki-laki itu ternyata orang suruhan dari Mas Arzan untuk menjaga ponakan nya tanpa sepengetahuan Karan.


''kok githu sich pak, aku ikhlas kok?'' jawab nya tak mau menerima uang pemberian laki-laki tersebut.


''Sebenarnya aku pengawal anak kecil itu mbak? namun aku di tuntut untuk tidak ketahuan sama anak tersebut,'' ucap nya menjelaskan.


''Kalau githu anak kecil tadi orang kaya?'' tanya nya terkejut.


''Iya, dia anak dari pemilik perusahaan CG,'' balasnya dengan santai.


''CG...? Candra Grub?!'' tanya nya lagi, namun kali ini tatapan nya penuh dengan tanda tanya. Laki-laki itu mengangguk pelan dan memberikan kartu kredit pada pegawai toko yang masih menutup mulut nya dengan telapak tangan nya.


'Jadi adik kecil tadi thu, anak orang kaya, tapi kenapa dia seperti anak orang tak punya. Penampilan nya biasa biasa saja, dan dia juga bekerja di restoran sebelah, itu artinya dia hanya menyamar untuk menjadi orang biasa yang tak menampakkan harta kekaya'an dari keluarga nya dong?' batin pegawai toko, dengan segala keterkejutan nya.


''Sudah jangan di pikirkan lagi, ank kecil itu tak mau menjadi pewaris dari almarhum ayah nya, yakni Candra Putra Sanjaya,'' jelas nya, karena pegawai toko masih memikirkan apa yang di ucapkan oleh pengawal Karan.


''Oiya satu hal yang perlu kamu ingat, jangan beri tau siapa siapa soal ini semua Oke, atau kamu akan mendapatkan masalah dari tuan kami Arzan malik Narendra,'' peringat nya, pegawai tersebut mengangguk paham.


'Lagian buat apa juga aku bilang sama orang lain, tak ada guna juga kan?' pegawai toko membatin.


*********

__ADS_1


Pagi hari Karan berangkat ke sekolah nya seperti biasa, sedangkan Sania, Riana dan juga Rian sudah berada di sekolah nya karena tadi di antar oleh sopir pribadi keluarga Narendra.


''Kak Karan kemana Sania kok belum nongol juga, sudah jam segini?'' kata Rian menengok jam di pergelangan tangan nya.


''Nggak tau kak, mungkin dia telat bangun kali, makanya belum berangkat juga ke sekolah,'' jawab Sania pelan, seraya menoleh ke arah kiri dan kanan mencari keberada'an sang kakak.


''Bagaimana nanti kak? kalau kak Karan nggak mau di ajak ke rumah kakek,'' tanya Riana galau.


''Sudah kita akan menelfon tante entar siang, agar tante Cinta sendiri yang jemput kita, dan minta ijin sendiri sama Bunda wati juga, kalau cuma kita yang langsung bawa kak Karan dan juga Sania, kayak nya nggak sopan banget pada Bunda wati kan,'' jawab Rian menjelaskan. Sang adik pun mengangguk pelan.


''Kak? bagaimana kalau kakek nggak mau bertemu dengan Sania dan juga kak Karan kak? kan kakek dulu sudah mengusir ayah juga dari rumah besar nya, hanya karena ayah memilih Ibu saja,'' kata Sania dengan nada sedih nya, takut takut kehadiran nya nggak di arepin sama kakek Sanjaya.


''Sudah nggak usah mikir kayak githu lagi, kalau kakek nggak terima kamu dan kak Karan, kita juga akan membenci nya oke, karena tanpa sengaja kakek juga sudah mengusir Mama juga dari rumah besar nya!!'' sambung Riana, mengingat pembicara'an mereka semua waktu itu.


''Ayo masuk ke kelas kita masing-masing, nanti keburu bel berbunyi lagi?'' ajak Rian menarik tangan Sania dan juga tangan Riana, adek kembar nya itu.


'Aku janji Sania, kamu dan kak Karan akan di terima dengan baik di sana, kalau tidak kita semua akan marah pada kakek karena dia sudah melakukan 2 kesalahan yangakan berakibat fatal.' Gumam Rian pelan seraya berjalan menuju ke kelas nya yang berada di lantai 2. Sedangkan kelas Sania berada di lantai dasar.


Sania masih saja celingukan mencari kakak nya yang akan lewat di depan kelas nya. Tak lama setelah itu Karan terlihat melewati kelas sang adik, Sania menghela nafas lega setelah melihat sang kakak di sekolah nya, ''Satu malam nggak bersama kak Karan? aku rasanya sangat kangen sama dia, apalagi nanti kalau dia terpisah jarak yang begitu jauh di antara mereka berdua, bisakah Sania melewati hari harinya sendirian tanpa sang kakak di samping nya.


Kini jam istirahat pun tiba dan semua siswa berhamburan menuju ke kantin sekolah nya. Begitu juga dengan Sania? karena saat ini dia tidak membawa bekal makan siang nya, tapi Sania di beri uang saku sama tante nya, yakni tante Citra Mama Riana dan juga Rian.


''Kak Rian? Sania nunggu kak Karan saja ya, kalian berdua duluan saja ke kantin nya, nanti aku nyusul,'' kata Sania lembut.

__ADS_1


''Baiklah, kami tunggu di kantin ya,'' balas Rian, Sania mengangguk dan berjalan ke arah tangga untuk menunggu kakak nya turun.


Karan yang sedang menuruni anak tangga tersenyum melihat sang adik yang sedang menunggu nya, Karan pun mempercepat langkah kakinya untuk segera menghampiri Sania adiknya.


''Ayo dek?'' ajak Karan ketika sudah di depan Sania.


''Kita ke kantin saja ya kak? kak Rian dan juga kak Riana sudah berada di sana sekarang, meraka menunggu kita untuk makan bersama.


''Tapi Ibu bawain ini buwat kamu, tadi kakak telat makanya nggak memberikan bekal kamu dulu, melainkan langsung masuk ke kelas?'' jelas Karan.


''Iya kak? Sania lihat kok, kak Karan tadi buru buru masuk kelas nya. Tapi kok sampai telat githu sich kak?'' tanya Sania lagi sembari menggandeng tangan Karan dan berjalan menuju kantin sekolah nya.


''Nggak tau, mungkin kecape'an saja kali ya dek? soalnya kemarin tuh banyak banget pengunjung yang datang ke restoran tempat kakak bekerja, sampai kualahan githu,'' jawab Karan sambil memperlihatkan senyum manis nya.


''Oiya kak? kak Pinky nggak masuk sekolah ya, kok nggak keliahatan,'' tanya Sania seraya menegedarkan pandangan nya mencari keberada'an Rian dan juga Riana.


Riana melihat Sania dan Karan kakak sepupu nya, segera melambaikan tangan nya, agar mereka berdua menghampiri nya. Karan dan Sania membalas lambaian tangan Riana dan dengan segera menghampiri mereka berdua juga.


''Kalian kok lama banget sich datang nya,'' tanya Riana cemberut.


''Kak Karan yang lama turun nya nich kak?'' balas Sania menunjuk sang kakak.


''Sudah kita makan saja, nggak usah banyak debat lagi,'' jawab Karan santai dan memberikan satu kotak bekal nya pada kedua saudara sepupu nya yang duduk di depan nya itu. Mereka berdua mengerutkan keningnya tak mengerti apa maksud Karan sang sepupu.

__ADS_1


__ADS_2