Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 133 Titik lokasi keberada'an Sania


__ADS_3

Pagi pagi sekali di penginapan yang ia tempati saat ini Sania tengah melakukan olahraga dengan berlari kecil, agar tubuh nya kembali sehat dan juga nggak gampang lemas.


Sania tengah berlari dan sedang mengitari taman yang ada halaman penginapan. Sania yang dulu bisa menyelesaikan 50 putaran dengan cepat, namun hari ini malah berbanding terbalik, dia hanya bisa melakukan 2 kali putaran saja, itupun nafas nya sudah ngos ngosan di buat nya.


Sania memilih mengistirahatkan tubuh lelah nya di kursi yang emang sengaja di taruh di bawah pohon besar, agar semua orang bisa menduduki nya di saat rasa lelah tengah melanda selesai olah raga.


Sania memejamkan mata indah nya, merasakan hembusan angin yang cukup sejuk di pagi hari. Orang suruhan tuan Arzan memantau Sania dari jarak yang lumayan dekat.


Sania menenggak habis air mineral nya, lalu kemudian Sania memakan beberapa obat nya yang sengaja ia bawa tadi. ''Di sini sangat nyaman, aku ingin sekali membangun rumah di daerah ini,'' Gumam Sania yang masih duduk santai tanpa mau beranjak dari kursi yang ada si bawah pohon besar tersebut.


Sania melihat jam yang melingkar di lengan nya, dan dia sangat terkejut ketika melihat jam nya, jam nya menunjukkan pukul 8 pagi, dan dia juga belum mandi dan juga masih malas untuk beranjak dari tempat duduk nya.


Dengan rasa malas nya Sania beranjak dari tempat nya menuju ke kamar yang ia pesan kemarin, dengan buru buru Sania membersihkan tubuh nya dari keringat karena dia selesai dengan olahraga nya. Dengan memakai hem putih dan di padu padan kan dengan rok panjang bercorak bunga bunga menambah aura kecantikan Sania, Sania begitu cantik dengan hijab pasmina berwarna hitam yang kontras dengan kulit putih nya.


''Assalamu'alaikum, Pak,'' Ucap Sania ramah kepada tukang satpam yang berdiri di samping pintu lobby kantor nya.


''Waalaikum salam Nona?'' jawab sang satpam tak kalah ramah.


''Assalamu'alaikum Nona,'' sapa semua karyawan ketika berpapasan dengan Sania.


''Waalaikum salam,'' jawab nya dengan senyuman termanis nya.


''Pemimpin sekarang cantik dan juga ramah dengan semua karyawan,'' bisik sang resepsionis.


''Iya, kamu emang benar? dia cantik namun tidak berulah sama sekali, seperti anak pemilik kantor ini sebelum nya,'' balas nya menatap Sania yang kini menunggu pintu lift terbuka.

__ADS_1


Banyak di sana yang tengah menunggu di depan lift, untuk menuju ke ruangan nya masing-masing. ''Ayo, masuk?'' ajak Sania kepada beberapa karyawan nya yang tengah menunggu lift juga.


''Tidak usah Nona, kami akan menunggu lift untuk karyawan saja,'' jawab salah satu karyawan mewakili semua nya.


''Tak usah sungkan begitu, saya lebih suka kalau kalian tak menolak permintaan ku,'' sela Sania lalu dia pun tersenyum menatap semua karyawan nya yang sedang saling menatap satu sama lain nya.


''Saya tak suka dengan kata penolakan, atau kalian mau saya adukan ke HRD sekarang?'' gumam Sania menakuti karyawan nya agar mereka masuk ke dalam lift yang sama.


''Baiklah Nona,'' balas nya dan ke lima karyawan nya pun masuk ke dalam lift yang sama dengan Sania sang atasan.


''Kalian sudah lama kerja di sini?'' tanya Sania yang memulai obrolan nya terlebih dulu.


''Alhamdulillah sudah lumayan lama Nona, jadi jangan adukan kami kepada HRD? kami masih punya tanggung jawab untuk menafkahi orang tua dan juga istri saya,'' tukas sang karyawan yang mengira ucapan Sania sungguhan.


''Saya tidak akan setega itu kali, mulai sekarang aku akan selalu merepotkan kalian semua, dan aku harap kalian mau membantu aku selama aku beradaptasi di sini,'' tukas Sania membuat para karyawan menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


Ting


Pintu lift terbuka dan ke lima karyawan nya keluar setelah mengucapkan permisi kepada pemilik baru kantor tempat mereka mencari sesuap nasi.


Sania terus mengembang kan senyum nya sampai tiba di ruangan yang terletak di lantai 20, sesampainya di sana Sania merogoh tas dan mengambil ponsel nya dari dalam tas selempang ketika dia mengingat belum memberi kabar kepada Bunda nya di rumah.


''Aku begitu bodoh sekali, ponsel ku dari kemarin aku matikan? semogansaja Bunda tidak menghawatirkan aku dan akan memberi tahu kak Karan di mana aku berada saat ini, aku sudah sangat nyaman di sini sendirian,'' omel nya pada dirinya sendiri, dan benar saja ketika ponsel sudah nyala begitu banyak rentetan rentetan pertanya'an dari kedua teman teman nya, Arkan dan juga keluarga besar nya.


''Astaghfirullah hal adzim? sebanyak ini,'' seru Sania tanpa membaca salah satu dari chat yang mereka kirim. ''Sudah lah abaikan saja mereka semua, aku ingin happy happy dulu di sini sebelum oulangnke rumah dan mendengarkan ceramahan dari mereka yang memperbolehkan kan aku melakukan ini itu, membuat ku bosan saja?'' gerutu Sania, dia mulai membuka laptop yang akan ia pakai untuk mengerjakan semua tugas tugas nya di kantor cabang ini.

__ADS_1


Sedang kan di kota lain Arlan tengah tersenyum bahagia, karena dia sudah menemukan lokasi Sania saat ini berada, namun dia mengernyit dahinya karena lokasi Sania untuk saat ini berada di kantor cabang yang akan di limpahkan pada nya.


''Sania sekarang ada di kantor cabang? tapi kenapa Bunda bilang Sania tengah liburan bersama teman teman nya yang lain?'' cicit Arlan mengangkat satu alis nya, Arlan langsung menuju ke perusahaan tuan Arzan, dia mau kalau dia di tugaskan di kantor cabang di mana Sania berada saat ini.


Arlan melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang mulai di padati mobil mobil lain nya, kini Arlan sudah berada di depan perusaha'an tuan Arzan. Perusaha'an yang menjulang tinggi dengan ribuan pekerjaan di dalam nya.


Satpam di perusaha'an itu sudah sangat kenal dengan Arlan, jadi Arlan langsung melenggang pergi ke ruangan tuan Arzan yang baru saja menduduki kursi kebesaran nya.


Seperti biasa Arlan mengetuk pintu ruangan dan menunggu pemilik ruangan menyuruh nya untuk masuk ke dalam.


''Masuk!!'' Ujar tuan Arzan dengan nada dingin nya. ''Ada apa kamu datang kemari Arlan?'' tanya tuan Arzan yang pura-pura tidak tau tentang dia.


''Maaf tuan? kalau saya sudah mengganggu waktu tuan, tapi saya ingin bertanya? apakah tawaran yang kemarin masih berlaku,'' jawab Arlan yang masih berdiri di depan meja tuan Arlan itu sendiri.


''Menurut kamu sendiri bagaimana? namun kami tidak akan memaksamu kok,,'' balas tuan Arzan menatap lekat wajah Arlan yang tengah tersenyum mendengar nya.


'Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Sania, aku ingin lebih dekat lagi dengan Sania,' gumam Arlan pelan, sehingga hanya dan Tuhan lah tau apa isi dari gumaman Arlan itu.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2