Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 126 Keluarga besar Sanjaya


__ADS_3

''Lebih baik kak Arlan mencari gadis lain saja, Sania nggak pantas dengan kak Arlan,'' sahut Sania lirih, mengingat dirinya sudah tak mungkin ada harapan lagi untuk bertahan hidup lebih lama lagi, penyakit nya semakin parah dan dia juga berpikir pasti Arlan melakukan ini semua bukan karena cinta? melainkan hanya merasa kasihan saja melihat hidup nya yang sudah tak bisa bertahan lama lagi, pikir Sania.


''Bisakah kamu memikirkan lagi kata kata ku barusan,'' mohon Arlan setengah mengiba.


Namun Sania menggelengkan kepala nya pelan seraya berkata, ''Maaf kak? Sania nggak bisa, dan Sania juga tak mau di kasihani oleh orang lain. Hanya karena penyakit yang aku derita saat ini,'' balas Sania pelan, ''Sudah lah kak, kita sudah sampai,'' lanjut Sania ketika mobil yang ia tumpangi memasuki gerbang rumah nya.


'Ya Allah, serasa aku menjadi wanita paling jahat sama kak Arlan, namun aku juga nggak mau menjadi beban untuk dia di kemudian hari kalau aku menerima cinta nya,' Gumam Sania dalam hati.


Di luar mobil sudah ada Karan yang tengah menunggu adik nya untuk keluar dari mobil Arlan. ''Lama banget sich dek? Ibu dari tadi sampai di rumah nya,'' sela Karan memegang tangan sangat adik yang terasa dingin. ''Kamu nggak apa apa kan?'' tanya Karan khawatir ketika telapak tangan adik nya dingin layak nya seperti mayat, mungkin.


''Sania nggak apa apa kok kak, emangnya Sania kenapa? lawong Sania juga sudah sehat seperti ini,'' jawab Sania mengembangkan senyum termanis nya kepada kakak serta kakak ipar nya yang sudah rela menunggu kedatangan ku.


Sania di papah oleh sang kakak untuk memasuki rumah yang sudah 4 hari ia tinggal. ''Kak Sania ingin duduk di ruang keluarga saja dulu, banyak keluarga Sania datang ke rumah? masak ia Sania harus angrem di kamar sich,'' celwtyk Sania yang di susul kekehan Riana dan juga Rian.


Di rumah Karan dan Sania emang banyak keluarga nya yang datang hanya sekedar silaturahmi dan menjenguk Sania yang baru pulang dari rumah sakit, si sana juga sudah ada kakek Sanjaya yang sudah stay dari tadi siang di rumah nya.


''Kamu baik baik saja kan nak?'' tanya kakek Sanjaya dengan nada tuanya.


''Sania baik kok kek, kakek apa kabar?'' tanya balik Sania namun setelah menjawab pertanyaan dari sang kakek.


''Kakek sehat dan seperti biasa kakek akan membunuh lawan lawan kakek yang berani mengganggu cucu cucu kakek?'' celetuk kakek Sanjaya yang di susul kekehan dari keluarga yang lain nya.

__ADS_1


''Kalau kakek nya garang seperti ini, mana ada laki laki yang mau sama cucu cucu kakek?'' sela saudara sepupu dari Cinta.


''Tak usah segitu nya kakek, cucu perempuan kakek hanya ada dua saja yang beranjak dewasa, sedang kan super hero yang akan menjaga mereka ada 3 orang yang gagah selalu berada di samping nya,'' balas keluarga lain nya.


Kakek Sanjaya hanya mendengus mendengar ocehan ocehan anak dari saudara nya itu.


''Ya sudah silahkan di minum kopi dan teh nya, sekalian kita menunggu makan malam. Chef kita sudah mulai memasak di dapur,'' kata Cinta meledak kedua kakak nya yang sudah sibuk dengan peralatan masak di bantu oleh asisten rumah tangga di sana.


''Sania, kamu terlihat lebih cantik dengan hijab yang kamu kenakan sekarang?'' Ujar kakak sepupu nya.


''Terima kasih kak pujian nya, Sania memilih baju longgar agar tidak terlihat kalau Sania tinggal kulit dan tulang saja,'' balas Sania menampakkan deretan gigi putih nya.


''Insya Allah tante, do'ain saja terbaik agar Sania selalu istiqomah memakai hijab ini sampai nafas terakhir Sania,'' sela Sania menunduk.


Sang tante pun menghampiri Sania dan memeluknya dari samping, ''Kamu akan sembuh sayang, percayalah Allah selalu bersama orang orang yang sabar, dan pasti Allah akan segera mengangkat semua penyakit kamu ini,'' bisik sang tante memberi kekuatan pada ponakan nya. Beliau mencium kening Sania dan juga pipi Sania agar terlihat lebih kuat lagi.


''Kita akhiri acara melow marshmello nya, kita pindah ke meja makan sekarang, makanan nya sudah siap di santap,'' Ucap tante Cinta tiba-tiba dan menghampiri Sania yang tengah di peluk saudara sepupu dari Cinta tersebut.


''Tenang saja, ponakan ku orang nya kuat, dan dia akan segera sembuh jadi kita jangan memikirkan hal yang lain nya lagi oke, dan kamu sayang? kamu jangan selalu bilang seperti itu, tante yakin kamu pasti sembuh,'' tante Cinta menepuk pelan punggung Sania. Sedangkan Mama Citra sudah memeluk erat Bu Wati, kakak ipar nya. Dia tidak tega dengan sang ponakan.


''Mbak, kenapa Sania harus mengidap penyakit ganas itu sich?'' bisik Mama Citra pada Bu Wati.

__ADS_1


''Sudah, kamu jangan sedih seperti itu ya? kasihan saniy kalau sampai melihat kita sedih, dia akan merasa sangat bersalah karena sudah membuat kita terbebani dengan penyakit yang ia derita saat ini,'' pesan Bu Wati menepuk nepuk punggung adik iparnya.


Mama Citra menghapus air matanya, dan dia melepaskan pelukannya dari kakak ipar nya. ''Aku ke kamar mandi dulu,'' pamit Mama Citra yang di angguki Bu Wati.


'Kamu tidak tau saja Citra, bagaimana dengan perasa'an yang selama 22 tahun merawat nya,' gumam Bu Wati dalam hati. Dia mendongakkan kepalanya agar air mata yang sudah menggenang tidak jatuh. Beberapa kali Bu Wati menghela nafas panjang sebelum dia keluar dari dapur, Bu Wati nampak melihat Arlan yang masih berada di ruang keluarga nya.


Bu Wati menghampiri Arlan dan mengajak nya ke meja makan, agar dia juga makan bersama dengan keluarga besar dari mendiang almarhum suaminya.


''Nak Arlan kok masih di sini, ayo ke meja makan sekarang? yang lain sudah menunggu,'' ajak Bu Wati dengan nada lembut nya.


''Tidak usah Bunda, Arlan tidak lapar? Arlan di sini saja,'' tolak Arlan lalu tersenyum pada wanita cantik di depan nya, wanita yang selalu bersikap baik pada semua orang, tak terkecuali pada Arlan itu sendiri.


Tak lama kemudian Sania membawakan makanan untuk Arlan, dia tau kalau Arlan tidak akan datang ke meja makan yang sudah di penuhi oleh keluarga besar nya.


''Bunda, kenapa belum makan juga?'' tanya Sania ketika melihat Bunda nya masih berdiri di ruang keluarga.


''Bunda masih mengajak nak Arlan untuk bergabung di meja makan sayang,'' balas sang Bunda.


''Sania sudah membawakan kak Arlan makanan Bunda, dan ini untuk Bunda saja. Biar Sania ambil lagi,'' Sania menyodorkan satu piring nya kepada Bunda nya.


''Tidak usah sayang? Bunda akan ambil sendiri, lebih baik kamu makan dan jangan lupa minum obat kamu ya,'' Bu Wati mengingat kan puteri nya agar tidak pernah lupa dengan obat nya. Sania mengangguk dan menyodorkan satu piring yang berisi makanan pada Arlan, kemudian Sania juga ikut duduk di samping nya yang lumayan jauh dari Arlan itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2