
Keesokan hari nya Karan menghadiri acara di waktu sudah menjelang siang, semua koleganya sudah pada datang ke restoran yang sebelum nya sudah di rekomendasi kan oleh salah satu dari mereka berlima, mereka membahas pekerja'an seraya makan siang bersama istri istri tercinta mereka semua nya,
Sedangkan Mikhael memakai baju yang sudah di siapkan oleh sang Mama sebelum nya, dia terlihat sangat lucu dan menggemaskan dengan baju yang ia kenakan saat ini. Mikhael sangat anteng di gendongan sang suster, Karan, Pinky dan lainnya sedang makan siang bersama di satu meja, namun setelah makan siang para laki-laki memilih pindah tempat untuk membahas pekerja'an nya yang saat ini sedang mengalami masalah, ya walaupun masalah hanya hal sepele tapi semua orang tidak mau kalau mereka sampul mengalami kerugian.
Karan yang sedang mengadakan rapat dadakan sesekali menatap sang putra kecilnya Mikhael, dia begitu sayang kepada dua orang yang saat ini menjadi bahan perbincangan antara kelima laki-laki yang ada di depan nya, Mikhael dan juga Pinky istri cantik nya.
Pinky terlihat mengeluarkan ponsel nya dari dalam tas branded nya, Pinky segera menekan tombol deal di ponsel nya setelah menemukan nomor Sania adik ipar nya, nada panggilan pun tersambung dan tak perlu waktu yang sangat lama Sania sudah mengangkat sambungan telepon dari kakak ipar nya.
-''Hallo kak? ada apa,'' tanya Sania setelah menggeser warna hijau di ponsel nya.
-''Nggak ada apa-apa kok dek, cuma ingin mengetahui kabar nya triple saja?'' jawab Pinky di seberang telepon yang tak kalah lembut nya.
-''Kabar si kembar sih baik-baik saja kak, apalagi dia sekarang sudah bisa dilihat dari dekat, mungkin kalau kak Pinky dan kak Karan sudah pulang ke rumah. Si kembar sudah boleh di gendong, tapi? yang paling kecil belum bisa di gendong terlalu lama- dia masih sangat membutuhkan perawatan kak, karena dia kemarin pernah mengalami keracunan sebelum nya?'' balas nya. ''Itupun Sania juga baru tahu tadi kak itu aja Sania tanpa sengaja mendengar nya ketika semua orang sedang ngumpul di ruang keluarga? sebelum nya Mas Arlan, Bunda dan lain nya tidak pernah memberitahukan secara langsung kepada Sania, soal bayi Sania yang nomor 3. Pantas saja kemarin yang nomor 3 langsung dibawa keluar begitu saja oleh suster, tanpa memperlihatkan terlebih dahulu kepada Sania, hanya dua bayi yang sempat Sania lihat di dalam ruangan operasi sebelum Sania pingsan,'' jelas Sania, dia menceritakan semua nya kepada kakak ipar nya yang sekarang entah ada di mana bersama si kecil Mikhael.
Pinky terlihat mengerutkan kening nya mendengar penuturan dari adik ipar nya. Sang kakak juga tidak tahu apa yang terjadi dengan ketiga ponakan nya kemarin, karena Pinky dan Karan sudah pergi sebelum Sania dan bayinya keluar dari ruangan operasi.
-''Memang nya ponakan aku keracunan kenapa dek?'' tanya Pinky kepada Sania, karena dia sangat penasaran kenapa si kecil yang nomor 3 bisa keracunan? sedangkan yang dua lainnya tidak mengalami apa-apa.
-''Kata dokter dia sempat meminum air ketuban kak, mungkin kalau sampai terlambat di operasi? semuanya tidak akan ter selamatkan, dan itu pasti membuatku gila dan merasa gagal menjadi Ibu, karena secara tak langsung telah membunuh ketiga bayiku sendiri,'' ucap Sania dengan suara lirih nya, Pinky lagi-lagi mengerutkan kening nya mendengar jawaban dari sang adik.
__ADS_1
-''Kenapa bisa dia sampai meminum air ketuban Mama nya? sedangkan dia kan di operasi, kata Mas Karan kamu kan di operasi dek? tapi kenapa sampai si kembar meminum air ketuban gitu,'' tanya Pinky penasaran.
-''Entahlah kak mungkin karena dia keluar belakangan, jadi dia sempat meminum air ketuban yang ada di dalam, tapi kata dokter mereka bertiga sudah tidak apa-apa kok, dan dia juga sangat sehat kak, apalagi yang laki-laki gembul banget. Makanya kak Pinky segera pulang dan kak Karan juga, Sania sudah kangen banget tahu sama kalian semua nya? belum lagi sama Mikhael, memang nya kalian kapan pulang nya sich,'' tanya Sania kepada Pinky sang kakak ipar.
-''Mungkin nanti akan langsung pulang ke rumah dek? ini aja masih ada acara di sebuah restoran, tapi kakak males gabung sama Mas Karan, semua kolega nya membawa istrinya masing-masing dan bahkan tanpa membawa anak-anak mereka, tapi kakak mala membawa si kecil, kan malu jadinya,'' kata Pinky memberitahu kepada sang adik.
-''Ya nggak apa-apalah, kamu katakan saja Mikhael anak kakak, dan juga anak kak Karan? kenapa harus malu, memang nya kakak sama siapa di sana?'' tanya Sania dengan heran, secara Pinky bilang tidak berkumpul dengan sang kakak.
-''Kakak bersama suster di sini kok dek? dia yang selalu menemani Mikhael, tapi kakak juga males bertemu dengan mereka, mereka semua orang nya terlihat sombong? dan gayanya yang sok sosial media banget, bikin kakak males untuk gabung dengan mereka semua. Biarlah kakak di sini saja toh mereka sudah tahu sama kakak? kalau kakak istrinya Mas Karan, dan kalau mereka berani macam-macam dengan kakak, kakak kamu tidak akan tinggal diam begitu saja dong? melihat istrinya di perlakukan begitu,'' jawab nya santai.
Sania yang mendengar nya, hanya berdiri dan menggeleng kan kepala nya pelan? karena kakak ipar nya tidak mau bergabung dengan istri istri dari kolega kakaknya.
-''Kak pinky memang aneh, ya sudah?kalau gitu cepat pulang ya, Sania tunggu? awas jangan lupa oleh-olehnya oke, eit lupa! oleh-oleh buat si kembar juga ya kak,'' Ujar Sania mengingatkan kakak ipar nya agar tidak lupa membawa kan dia dan juga si kecil oleh-oleh dari kota yang di datangi hari ini, bukan hari ini sih? tapi sudah beberapa hari kemarin dia berangkat.
Setelah menutup telepon dari Pinky sang kakak ipar, tiba-tiba pintu kamar nya dibuka dari luar, dan nampak lah dua kepala yang melongo ke dalam kamar Sania dan tiga bayi nya.
''Bunda dan tante? kenapa diam di situ,'' tanya Sania setelah menatap keduanya.
''Tante takut ganggu kamu,'' jawab sang tante yang begitu perhatian, dan super baik kepada Sania dan kepada keluarga yang lain nya juga.
__ADS_1
''Tante takut mengganggu si kembar sayang, makanya tante dan Bunda hanya melongo dari ambang pintu saja tadi, melihat-lihat siapa tahu si kembar sedang bobok,'' jawab Sania dengan lembut.
''Enggak kok tante? si kembar sedang main cuman si kecil saja yang masih betah tidurnya sampai siang ini,'' jawab nya lagi, Bunda Wati dan tante Cinta akhirnya masuk kedalam kamar nya Sania, dengan mendorong kursi roda sang kakek, yaitu kakek Sanjaya. Sania mengambil tangan tua kakek Sanjaya dan mencium punggung tangan nya dengan hikmat seperti biasanya.
''Kamu baik-baik saja Nak?'' tanya kakek Sanjaya kepada Sania cucunya.
''Sania baik-baik saja kakek? kakek sendiri apa kabar,'' tanya Sania kepada sang kakek.
''Ya beginilah? keada'an kakek sekarang masih sama, sama sama memakai kursi roda seperti biasanya, pakai tongkat juga sudah tidak kuat berjalan lagi kalau terlalu jauh, hanya saja? kakek tidak mau merepotkan tante kamu, tapi tante kamu yang maksa kakek datang ke sini? untuk melihat cucu beserta cicit kakek Sania,'' Jawab nya panjang lebar, Sania yang mendengarkan penjelasan dari kakek Sanjaya pun hanya mengulas senyum di bibir manisnya, seraya berkata.
''Kakek? mungkin tante Cinta berpikir kalau kakek ingin bertemu dengan Sania, makannya tante Cinta memaksa kakek untuk datang ke rumah Sania, untuk itu kakek tidak boleh marah sama tante Cinta oke,'' pesan Sania kepada kakek Sanjaya.
''Kakek ingin melihat cicit nya kak? tapi maaf kek, masih belum bisa di keluarkan dari box nya karena masih membutuhkan perawatan,'' gumam Sania dengan mendorong kursi roda sang kakek.
''Biar tante saja yang doronga kursi roda kakek nya sayang, kamu masih belum pulih kan?'' kata sang tante menghentikan gerakan tangan Sania yang ingin mendorong kursi roda yang di duduki oleh Papa nya.
''Ini hanya di dorong nggak bakalan berat kok tante, Sania juga sudah kangen pengen mendorong kursi roda kakek lagi seperti dulu sebelum kakek tahu kalau Sania terkena kanker?'' jawab nya dan mencegah tangan tante nya mendekat ke kursi roda yang di pakai sang kakek.
Kakek Sanjaya mengulas senyum mendengar penuturan dari Sania, dan kakek Sanjaya pun menatap wajah bayi yang ada di dalam box sembari bergumam pelan namun masih di dengar oleh Sania dan juga yang lain nya. ''Semuanya lebih mirip dengan Arlan, tidak ada yang mirip dengan Sania,''
__ADS_1
''Itu yang bikin aku kesal dengan Mas Arlan kek, dia nggak ikut susah? tapi mereka bertiga malah lebih mirip dengan Mas Arlan,'' sambung nya.
Kakek Sanjaya menggeleng kan kepalanya mengetahui Sania sang cucu yang sedang cemburu dengan suami nya karena wajah sang baby lebih dominan kepada Arlan Ayah dari ketiga cicit nya.