Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 36


__ADS_3

Andriana dan Andrian keluar dari warung pak Ilham dengan menenteng kantong kresek yang berisi bebek goreng dan juga nasi yang masih ngebul.


''Adek sama kakak dapat dari mana ini semua,'' tanya sang Mama yang tak lain adalah kak Citra.


''Tadi adik di kasih seorang Ibu Ibu di dalam warung Ma? tapi pas mau adik ganti Ibu nya malah menolak uang adik,'' jawab Andriana memberikan kantong kresek pada kak Citra.


''Mama makan saja dulu, takutnya calon adik Riana ileran lagi, kan malu Riana Ma, Pa?'' ucap-nya cemberut.


Kak Citra terkekeh mendengar ucapan puteri nya, padahal tadi kan Mas Adzan cuma bercanda saja, iya kan thor?.


Kak Citra mengambil bungkusan di dalam kresek dan di bukanya perlahan, bau harum bebek goreng nya menggugah selera bagi yang mencium baunya.


''Wau....? kayaknya enak nich Mas?'' Gumam ku pada Mas Arzan. Saat aku mencium bau bebek goreng yang ada di hadapan ku.


''Makanlah sayang? kalau kurang, kita akan membeli buat mu,'' balas Mas Arzan mengusap puncak kepalaku.


''Terima kasih anak anak ku,'' gumam ku pada kedua anak kembar ku. Namun aku masih fokus pada makanan yang ada di hadapan ku sekarang. Sebenarnya aku tak menyukai makanan ini, tapi entah kenapa sekarang aku sangat menginginkan makanan yang ada di depanku.


Aku makan begitu lahap dengan lauk bebek goreng yang di peroleh si adik barusan. Padahal satu jam yang lalu aku sudah makan begitu banyak di rumah. Tapi setelah datang ke rumah kontrakan Karan dan harus kembali ke rumah dengan kekecewa'an, perutku kembali minta di isi, entah aku saja yang kemaruk atau ini karena aku sedang berbadan dia yang tiap jam selalu merasakan lapar, aku pun tak mengerti.


Kedua anak ku dan suami menataoku dengan aneh karena melihat cara makan ku yang tak seperti biasa nya.

__ADS_1


''Mama baik baik saja kan,'' Andrian membuka obrolan nya ketika tatapan nya tak aku respon.


''Kenapa kak? Mama baik baik saja kok, ada yang salah kah dengan Mama sekarang,'' tanya ku melirik sekilas pada jagoan kecilku yang kini mulai beranjak remaja.


''Bukannya begitu Ma? Mama tadi kan sudah makan banyak di rumah, terus sekarang juga? apa perut Mama nggak merasa begah?!'' tanya dia lagi dengan polos.


''Kak? kakak jangan salah, Mama sekarang kan bukan makan untuk dirinya sendiri, tapi berdua dengan calon adik kalian. Mungkin Mama mulai sekarang akan merasa lapar terus,'' jawab Mas Arzan menatap ku yang sedang asik memakan makanan nya. Aku hanya sesekali melirik mereka yang sedang membicarakan aku, masa bodoh dengan tubuhku yang mulai gemuk kembali, setelah kemarin berhasil menurunkan berat badan hampir 15 kilo. Aku sendiri orang nya gampang gemuk, tapi susah untuk kurus kembali.


''Pa? emang nya Mama nggak takut gemuk ya?'' bisik Riana pada Mas Arzan papa nya. Namun aku masih mendengar nya samar samar.


''Jangan salah, Mama kemarin sempat gemuk juga, ketika mengandung kalian berdua dek?'' Mas Arzan tak kalah berbisik pada Riana.


''Haaa...?'' Riana terkejut mendengar penuturan dari Papa nya. ''Masak sich Pa? tapi Mama sekarang langsing banget,'' ujar nya yang sudah mulai terdengar jelas oleh sang Mama.


''Cari apa nona,'' tanya seorang wanita paruh yang menghampiri ku, karena aku mungkin sedang kebingungan.


''Maaf Bu? saya mau cuci tangan, tapi saya tak melihat wastafel di sini,'' balas ku pada Ibu itu.


''Ayo ikut Ibu non?,'' ajaknya dan membawa ku pada tempat cuci piring, Ibu itu mengguyur tanganku dengan gayung yang ia pegang. ''Ini sabunnya?'' lanjut Ibu itu. Aku menerima nya dan Ibu itu kembali menyiram tanganku agar bersih dari sisa sisa sabun tersebut.


''Terima kasih ya Bu? kalau boleh tau Ibu di sini...?''

__ADS_1


''Ibu kerja di sini nona, sebagai cuci piring kotor,'' Ucap Ibu itu memotong ucapan ku yang belum selesai itu.


''Nona sendiri sedang apa di sini? kan di meja sana sudah ada tempat cuci tangan pakai kobokan?'' tutur Ibu tersebut, aku hanya bisa tersenyum mendengar penuturan wanita paruh baya di depannya.


''Saya nggak makan di dalam warung Bu, tapi saya makan di luar tadi,'' kekeh nya sembari menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


''Och,'' Ibu itu hanya ber oh ria menanggapi ucapan ku.


''Oiya Bu, warung ini lumayan rame juga ya meski sudah malam gini,'' lanjut ku bertanya-tanya pada Ibu yang sedang mengangkat piring kotor yang sudah di taruh di dekat nya.


''Iya Nona? apalagi kalau malam sudah semakin larut, para pengunjung akan bertambah banyak dari sekarang,'' jawab nya.


''Benarkah?'' Ucap ku terkejut, sekarang saja sudah antri sebanyak itu, 'Bagaimana nanti tengah malam antriannya,'' pikir ku.


''Benar nona,'' jawab Ibu itu.


''Kalau begitu Ibu pulang jam berapa kerjanya?'' tanya ku yang mulai penasaran pada Ibu tersebut.


''Ya nggak tentu nona, kalau cepat habis jam 1 ya pulang? tapi kalau lagi nggak rame banget jam 2 baru pulang?'' jelasnya, yang di angguki oleh aku.


Lama kita mengobrol di samping warung Pak Ilham, tiba-tiba Andrian datang menghentikan obrolan ku bersama Ibu paruh itu.

__ADS_1


''Ma? ayo kita pulang sekarang, Papa sudah mendapatkan bebek goreng nya, tapi cuma bebek goreng nya saja, nggak pakek nasi,'' tutur Andrian memberitahu ku.


Aku langsung berpamitan pada Ibu di depanku, ''Maaf Ibu, saya permisi dulu,'' pamit ku. Lantas aku pergi dari hadapan Ibu tersebut, dan berjalan menuju ke mobil yang sudah bergeser tempat. Aku mengerutkan kening ku ketika melihat mobil Mas Arzan sudah berganti posisi.


__ADS_2