Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 79 Bosan


__ADS_3

Sejak datang ke perusahaan CG Grub, Karan terlihat sangat sibuk dengan semua pekerjaan nya, banyak banget berkas berkas yang ia periksa dan harus di tanda tangani juga. Karan menoleh ke arah handphone nya yang bergetar, di lihat nya siapa yang menelfon.


''Sania? ada apa dia menghubungi ku,'' Karan bertanya-tanya ketika sangat adik menghubungi nya.


-''Ya halo? ada apa dek,'' tanya Karan tanpa basa basi pada sangat adik.


-''Kak, kamu bisa nggak datang menjemput Sania di kampus?'' jawab nya gugup.


-''Minya sopir saja dek, kakak banyak kerjaan yang harus kakak selesai kan hari ini juga?'' balas Karan datar, dan langsung mematikan secara sepihak.


-''Tapi kak, tut...tut...tut.'' panggilan tetputus yang membuat Sania kesal dan langsung menghubungi manajer restoran nya.


Sania mencari nomor ponsel Arlan sang manajer restoran, dia menekan tombol dial setelah menemukan nomor tersebut. Tanpa harus menunggu lama kini panggilan Sania sudah di angkat oleh Arlan.


-''Ya Sania, ada apa?'' tanya Arlan lembut.


-''Kak Arlan, bisa jemput Sania nggak di kampus please....?'' pintar Sania setengah memohon pada sangat manajer.


-''Baik, tunggu di sana? aku berangkat sekarang,'' Ujar nya mematikan ponsel nya, dan berlari menyambar jas serta kunci mobil nya yang di letakkan di atas meja kerja nya.


''Aku akan keluar sebentar, tolong jaga restoran ya,'' pamit Arlan pada salah satu pegawai nya yang tak sengaja bertemu.


''Baik Pak?!'' jawab nya, sang pegawai hanya menatap aneh sang manajer yang terus berlari menuju keluar restoran.


''Ada apa dengan si bos, kok buru buru gitu sich?'' gumam nya dan melangkah pergi menuju ke toilet yang berada tak jauh ketika bertemu dengan sang manajer tadi.


Arlan mengeluarkan mobil nya dari parkiran, dan melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di kampus Sania.


''Tidak biasa nya dia seperti ini, sebenarnya ada apa dengan dia sekarang?'' di perjalanan menuju kampus Arlan bertanya-tanya tentang Sania, yang tumben tumbenan minta di jemput.


Hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke kampus Sania, kini Arlan memarkirkan mobil nya di parkiran, dan merogoh saku celananya untuk menghubungi Sania.

__ADS_1


Tut...tut...tut...


Panggilan tersambung namun belum juga di angkat oleh sang pemilik handphone.


''Kemana nie orang! di telfon malah nggak di angkat,'' kesal Arlan dan berlari memasuki kampus di mana Sania menuntut Ilmu.


''Maaf, mau tanya kenal dengan Sania?'' tanya Arlan pada seorang gadis berambut ikal.


''Maaf nggak kenal kak?'' jawab nya berlalu pergi.


''Kemana sih kamu Sania? jangan bikin aku khawatir kayak gini dong?'' seru Arlan terus melangkah dan sampai di dalam dia pun bertanua kembali pada seorang siswa laki-laki yang sedang bergerombol di sana.


''Maaf mau tanya, kenal dengan Sania?'' tanya Arlan datar.


''Sania, Sania gadis tomboy itu kak?'' jawab nya menjelaskan. Arlan mengangguk pelan. ''Kalau Sania itu sekarang sedang di rawat di UKS,'' jawab nya, membuat Arlan terkejut.


''Apaa! UKS, kenapa dengan dia?'' tanya Arlan dingin namun tatapan matanya sangat menyeramkan.


''Kalau itu kami nggak tau kak, lebih baik kakak tanya saja sendiri pada Sania?'' jawab nya tanpa memandang ke wajah Arlan, karena menurut mereka sangat menakutkan, seakan-akan ingin membunuh seseorang saja, pikir orang yang sedang di tanyai nya.


Arlan berlari menuju ke UKS yang di sebutkan tadi, ''Kenapa dia sampai di rawat di UKS begini,'' gumam Arlan di sela sela berlari nya.


Arlan menghentikan langkah nya ketika sudah menemukan ruangan UKS, di pintu terlihat sangat jelas tulisan UKS di sana, Arlan mengetuk pintu karena di dalam ada seorang wanita yang kininsedang bertugas di UKS tersebut.


''Maaf tuan? mau cari siapa,'' tanya orang itu yang kini sudah membukakan pintu.


''Maaf mbak? saya mau menjemput Sania,'' jawab nya melongo ke dalam agar ia tau, yang di dalam beneran Sania atau bukan.


''Och kakak nya Sania?'' tanya sang petugas UKS memastikan.


''I...iya mbak? kakak nya,'' jawab Arlan gugup.

__ADS_1


''Silahkan masuk, Sania sedang tidur setelah meminum obat tadi,'' ujar nya mempersilahkan Arlan masuk ke dalam.


''Kalau boleh tau, sebenarnya kenapa dengan Sania mbak?'' tanya Arlan yang mulai penasaran, karena melihat tangan Sania yang di beri cairan infus.


''Maaf tuan, yang aku dengar sich? kata orang yang membawa Sania ke sini dia sudah tidak sadarkan diri di dalam toilet, dan kepala serta sikunya berdarah,'' jawab nya lugas, sang petugas bilang yang sejujurnya pada Arlan, karena dia nggak tau siapa sesungguhnya Arlan.


''Pingsan!'' tanya Arlan memastikan kalau dia tidak salah dengar dengan ucapan petugas UKS.


''Benar tuan? lebih baik tuan bawa Sania ke rumah sakit, agar di periksa lebih mendalam lagi, takutnya ada luka lain selain di kepalanya.''


''Yq sudah? kalau begitu saya akan membawa Sania ke rumah sakit sekarang mbak?'' sahut nya, Arlan kini mengangkat tubuh Sania ala bridal style, semua teman di kampus Sania banyak yang menatap ke arah nya, di tambah lagi kini Sania sedang berada di gendongan cowok tampan dan juga gagah. Arlan tak menghiraukan tatapan dari semua teman Sania, dia terus melangkah menuju parkiran? di mana mobil nya berada, seorang satpam yang melihat Arlan menuju ke mobil nya segera berlari menghampiri nya untuk membukakan pintu mobil nya, untuk Sania yang kini masih berada di gendongan Arlan.


''Silahkan tuan?'' Ucap sang satpam ramah ketika tadi sempat menerima kunci mobil dari Arlan.


''Terima kasih pak, kalau begitu saya pergi dulu pak?'' pamit Arlan pada sang satpam yang sudah sangat mengenal Sania, namun tidak dengan Arlan.


Arlan kembali melajukan mobilnya membelah kota Jakarta dengan rasa khawatir dan juga rasa marah setelah tau penyebab Sania di rawat di UKS tadi.


Arlan membawa Sania ke rumah sakit seperti saran dari petugas UKS yang merawat nya tadi.


''Dokter...! tolong Dok!!'' teriak Arlan setelah sampai di rumah sakit.


Suster membawa Sania ke IGD, sedangkan Arlan sudah di usir oleh suster, karena Arlan ingin ikut masuk ke dalam.


Arlan mondar-mandir di luar ruangan, seraya melirik ke arah pintu yang masih tertutup rapat, ''Sungguh sangat membosankan ketika aku di suruh menunggu seperti ini, ach... sial! kenapa aku nggak ikut masuk saja tadi? kenapa aku terlalu bodoh!'' seru Arlan merutuki diri nya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


.


lama di perusahaan Karan


__ADS_2