Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 103 Ceritaku


__ADS_3

''Pokoknya kamu harus tanggung jawab ini semua?'' sela kak Karan.


''Yeeee, tanggung jawab apa? kan bukan Sania yang nyuruh kakak untuk batalin itu kan, jadi Sania nggak salah dong?''


''Weeeekk,'' aku menjulurkan lidah kearah kak Karan, seraya berlari menuju Ibu, aku berlindung di belakang Ibu sekarang.


''Sudah sudah? seharusnya kamu malu sama istri kamu Karan, sudah punya istri tapi kelakuannya masih kayak anak kecil saja,'' Ujar Ibu membela.


''Jadi maksud seseorang yang aku cintai ini,'' tanya kak Karan, kak Pinky pun mengangguk pelan.''Sania bukan seseorang yang aku cintai sayang, namun dia yang paling aku sayangi, orang yang aku cintai cuman kamu seorang?'' tambah kak Karan menjelaskan kepada kak Pinky.


''Ciech.... yang mulai belajar ngegombal nich?'' ledek ku.


''Gombal sama istri sendiri kan dapat pahala, iya kan sayang?'' balas Kak Karan dengan santai seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


''Sudah masuk kamar, bikinin Sania ponakan yang imut dan jangan lupa yang cantik dan juga ganteng,'' celetuk ku menggoda kak Pinky yang sudah tersipu malu gara-gara perbuatanku saat ini.


''Nanti aku bikin sepuluh ponakan buat Sania yang paling manis?'' sela kak Karan dan menggandeng tangan kak Pinky untuk di bawa ke kamar nya.


'Aku bahagia melihat kakak yang juga bahagia bersama orang yang kakak cintai, aku do'a kan semoga pernikahan mu langgeng dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah,' batinku tersenyum.


''Kamu sendiri bagaimana sayang? sudah punya calon untuk menjadi imam mu kelak?'' tanya Ibu lembut.


''ichh... Apa'an sich Bu? Sania kan masih kecil, lagian mana ada laki-laki yang suka sama Sania yang jelek seperti ini,'' jawab ku tak kalah lembut. 'Di tambah ber penyakitan seperti sekarang ini Bu, yang ada Sania hanya menjadi benalu di kehidupan laki-laki itu,' hatiku menjeriy sakit ketika mengingat penyakit yang aku derita, tanpa sengaja air mataku lolos begitu saja tanpa permisi lebih dulu.

__ADS_1


''Kenapa kamu menangis sayang?'' tanya Ibu dengan khawatiran nya.


''Sania nggak apa apa kok Bu, Sania hanya senang melihat kakak sudah bahagia bersama dengan orang yang ia cintai, semoga pernikahan mereka langgeng dan cepat dikaruniai seorang anak di pernikahan nya,'' sahut ku dan menaruh kepalaku di pundak Ibu.


''Iya nak? Ibu juga selalu berdo'a untuk kamu juga kok, semoga di berinjodoh yang baik dan selalu di beri kesehatan, dan tentunya rizky yang halal dan juga barokah,'' Ibu menepuk nepuk pipiku dengan telapak tangan nya pelan.


'Ibu tau nggak? Sania ingin terus seperti ini, dan andai Sania bisa menghentikan waktu sejenak Sania pasti begitu bahagia Bu,' lirih ku, lagi lagi air mataku keluar tanpa permisi.


''Ibu? Sania boleh bertanya sesuatu pada Ibu,'' tanyaku, meski ada rasa takut di benakmu namun aku tetap harus bertanya kepada beliau, karena aku ingin mendengar sendiri apa tanggapan Ibu mengenai penyakit ku.


''Kamu mau bertanya apa sayang?'' jawab Ibu merubah posisinya menjadi miring.


''Ibu, Sania punya teman yang punya penyakit serius, namun dia memilih untuk menyembunyikan penyakitnya dari keluarga besarnya, kata dia tak ingin membuat keluarga besar nya merasa kasihan padanya, dan dia juga mengatakan kalau dia tak mau keluarga nya merasa sedih,'' aku memulai pertanyaan ku pada Ibu.


''Sania tau...? karena Sania tak sengaja menemukan obatnya uang tertinggal, iya Sania menemukan obat nya?'' jawab ku gugup karena harus mencari kata kata yang tepat agar Ibu tak mencurigai ku.


''Kalau menurut Ibu sich dia salah, harusnya dia tidak menyembunyikan penyakitnya dari keluarga nya, bagaimanapun keluarga nya adalah semangat untuk dia sembuh dari penyakitnya.'' jawab Ibu dengan santai. ''Aku harap teman kamu itu berubah pikiran dan memberitahu keluarga nya atas penyakitnya yang biasa derita,''


''Apa mungkin penyakit leukimia bisa di sembuhkan Bu, yang aku dengar penyakit itu sungguh ganas dan tidak ada obat nya juga,'' tanya ku lagi.


''Dengan kita usaha pasti akan ada solusi nya sayang, kita pasrahkan saja sama yang maha Kuasa, karena dialah Dzat yang membolak balikkan kehidupan orang orang yang nada di dunia ini, kalau sangat maha Kuasa menghendaki dia sembuh? pasti akan mendapatkan obat yang bisa menyembuhkan teman kamu, intinya kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berikhtiar saja,'' jawab Ibu panjang lebar.


''Iya Bu, nanti Sania sampaikan sama dia,'' Ucap ku lirih. ''Ibu? Sania kembali ke kamar dulu ya, ada tugas yang belum sempat aku kerjakan kemarin?'' pamit ku mencium pipi Ibu sebentar, aku melangkah pergi meninggalkan Ibu yang kini tengah di liputi berbagai macam pertanyaan di otaknya. Ibu terus menatap kepergian ku sampai aku menghilang di belokan menuju kamarku.

__ADS_1


''Apa maksud dari pertanyaan Sania barusan, ya Allah? semoga tidak terjadi sesuatu pada puteri ku,'' gumam nya pelan.


Aku mengunci pintu kamar dan menangis sejadi jadi nya di sana, aku sangu bersyukur karena kamarku kedap suara, jadi walaupun aku menangis meraung-raung tak kan ada orang yang mendengar nya.


''Maafkan aku Ibu, tapi aku takut Ibu bersedih jika aku mengatakan yang sebenarnya pada kalian semuanya, aku tak ingin membuat kalian sedih hanya gara-gara menghawatirkan keadaanku,'' Ucap ku, setelah di rasa cukup aku menangis aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajah ku yang begitu menyedihkan, wajah yang mulai memucat mengharuskan aku selalu tergantung dengan make up agar tak terlalu kentara dengan keadaan ku yang sungguh membuat orang lain miris melihat nya.


Dreeettt dreeettt dreeettt


Ponsel ku berdering, aku segera menuju nakas disamping tempat tidur untuk menerima panggilan tersebut.


-''Hallo, ada apa Git?'' tanya ku menjawab panggilan telfon dari Gita teman kampusku.


-''Sania boleh nggak aku ke rumah kamu sekarang, beberapa hari nini kamu nggak masuk kuliah ada apa sebenarnya dengan kamu Sania, aku sangat khawatir sekali?'' jawab nya panjang seperti jalan tol yang tidak ada ujungnya.


-''Boleh Gita, tapi aku mohon kamu jangan bilang kalau aku tak pernah masuk kuliah sama orang rumah ya,'' pinta ku pada teman kampus yang begitu baik padaku selama ini.


-''Kenapa begitu sich San? aku nggak mau berbohong tau,'' balasnya.


-''Kalau kamu nggak mau, ya sudah terserah? tapi kamu nggak boleh datang ke rumah, bagaimna,'' Ucap ku tersenyum smirk.


-''Gitu banget kamu Sania sama teman kamu yang sungguh menghawatirkan kamu sedari kemarin?'' jawabnya merajuk.


-''Pokoknya aku akan ke rumah kamu sekarang juga,'' tambah nya namun sambungan telfon nya sudah matikan, betapa kesal nya dian di saat tau kalau panggilan nya aku matikan sepihak tanpa permisi.

__ADS_1


Aku menarik nafas panjang menunggu kedatangan teman kampus ku yang menurutku terlalu comel dan suka ceplas ceplos dalam bertutur kata.


__ADS_2