Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 145 Ngelamar Sania


__ADS_3

Arlan membawa beberapa makanan untuk Sania dan juga pesanan Riana tadi, serta beberapa botol minuman yang ia beli di kantin rumah sakit.


Arlan membuka pintu ruangan VIP tersebut dengan sedikit kesusahan, untung nya ada seorang anak kecil yang mau membantu membukakan pintu ruangan tersebut.


''Makasih adik kecil?'' Ucap Arlan kepada anak kecil yang sudah membantu nya.


''Sama sama kakak?'' jawab nya sopan, adik kecil itu langsung berlari setelah berhasil membuka pintu ruangan yang akan di masuki Arlan.


Karan yang melihat Arlan membawa banyak makanan hanya mengernyit kan dahinya, ''Kenapa kamu bawa banyak makanan ke sini Arlan,'' tanya Karan datar.


''Iya, ini untuk Sania dan juga pesanan Riana juga,'' jawab Arlan menaruh semua makanan yang ia bawa di atas meja, sedangkan makanan untuk Sania ia ambil dan segera memberikan kepada sang Bunda yang tengah duduk di samping Sania.


''Bunda, ini makanan Sania? dia harus minum obat setelah makan,'' Ucap Arlan memberikan makanan tersebut kepada Bu Wati, Ibunda Sania yang ia panggil Bunda.


''Terima kasih Kak Arlan?'' Ujar Bu Wati dan menyuapi Sania dengan makanan yang di bawa Arlan.


Sania terlihat menatap Arlan seraya mengunyah makanan yang di suapi Bunda nya.


''Arlan duduklah?'' kata Karan menepuk kursi di samping nya.


Arlan mengangguk dan mendarat kan bokong nya di kursi yang di tepuk Karan barusan, ''Kenapa?'' tanya Arlan dengan nada santai nya.


''Kenapa bisa Sania membuang obat nya?'' bisik Karan yang ingin tau lebih jelas nya.


''Aku juga nggak terlalu tau soal itu Karan, tapi aku melihat Sania membuang obat ke tempat sampah yang ada di dalam ruangan nya?!'' terang Arlan tanpa melebih lebihkan atau mengurangi sedikit pun dari yang biasa tau.


''Terima kasih ya, kamu selama ini sudah menjaga Sania dengan baik? tanpa kamu aku sudah tak tau lagi menghadapi adik ku yang seperti sekarang ini,'' tukas Karan menatap sang adik yang masih bisa memperlihatkan senyuman nya.

__ADS_1


''Aku yakin Sania bisa sembuh Karan, namun orang yang kita harapkan untuk sembuh, tidak memgingiy kesembuhan nya sendiri.


''Iya Arlan, sedangkan aku juga nggak tau harus berbuat apa lagi sama dia, jika aku terus terusan mengatur dan menyuruh apa yang di pesan oleh dokter, takut nya dia berpikir aku suka ngatur ngatur dia?'' kata Karan yang tengah di landa frustasi. Mengingat penyakit sang adik, sekarang yang bertambah parah.


''Kalau gitu aku keluar sebentar?'' pamit Arlan yang di angguki Karan dan juga Pinky yang duduk di dekat nya.


Arlan melangkah pergi ke taman rumah sakit, dia merogoh saku celananya mencari ponsel yang ia taruh di sana.


Arlan mencari nomor sang Ayah untuk menyuruh nya datang ke rumah sakit, Arlan sudah bertekad akan melamar Sania bagaiamana pun keada'an nya dia saat ini, Arlan hanya ingin memiliki nya seumur hidup nya, tekad dan keyakinan Arlan sudah besar.


-''Hallo. Assalamu'alaikum,'' Ucap Arlan ketika panggilan nya di angkat oleh sang Ayah di seberang.


-''Waalaikum salam?'' jawab sang Ayah dengan suara tuanya.


-''Ayah, Ayah bisa datang ke tempat Arlan untuk melamar gadis yang Arlan selalu cerita'in sama Ayah selama ini,'' kata Arlan kepada Ayah nya. Ya Arlan memang selalu bercerita tentang Sania kepada orang tuanya, Ayah Arlan juga tau kalau gadis yang dicintai putera nya adalah cucu dari tuan Sanjaya, dan sekarang dia mengidap penyakit kanker.


-''Arlan sudah yakin dengan keputusan ini Ayah, Arlan hanya ingin membahagiakan Sania di sisa sisa hidup nya, seandainya Ayah tak merestui pernikahan Arlan dengan Sania, Arlan akan tetap menikah dengan Sania tanpa harus restu dari Ayah sekalipun,'' terang Arlan, takut sang Ayah tak mau merestui dirinya dengan Sania, hanya karena yang tengah sakit parah.


-''Apapun keputusan mu? Ayah pasti akan selalu mendukung kamu nak?Ayah akan merestui kalian berdua,'' tukas sang Ayah di seberang telfon.


-''Ya sudah, Ayah akan bilang dan ajak saudara saudara kamu ke sana?'' kata Ayah Arlan dan mematikan ponsel nya untuk segera menghubungi saudara saudara Arlan tentu nya.


Arlan hanya bisa menghela nafas lega, karena sang Ayah mengerti akan kondisi nya saat ini.


Ya Arlan selalu menceritakan kalau dia tak bisa hidup tanpa kehadiran Sania, dan karena penyakit nya lah, Sania menghindari Arlan.


Ayah Arlan bersama kedua saudara nya berangkat menuju Bandung, di mana Arlan dan Sania berada saat ini. Mereka bukan cuma bertiga melainkan berlima, karena saudara Arlan sudah punya istri, sebelum sampai ke rumah sakit saudara Arlan dan juga istri nya mampir ke Mall terlebih dulu, untuk membeli perlengkapan melamar pujaan sang adik.

__ADS_1


''Ayah? menurut Ayah Arlan terpaksa nggak sich memilih wanita itu?'' tanya sang kakak kepada Ayah nya.


Mereka berdua bukan lah saudara kandung dari satu Ayah dan juga satu Ibu, melainkan satu Ayah tapi beda Ibu. Arlan anak dari istri kedua Ayah nya, namun Arlan sangat dekat dengan kedua nya, bahkan saat kematian Ibu nya pun kedua saudara nya selalu ada di samping nya, mereka ikut andil membesarkan Arlan sampai Arlan di suruh mendampingi Karan yang berkuliah di luar negeri.


''Jangan bilang seperti itu, mungkin ini sudah jadi jodoh adik kamu, lebih baik kalian bantu do'a agar calon istri adik kamu cepat sembuh dan kembali seperti dahulu,'' Ucap sang Ayah mengingat kan nya.


''Iya Yah? aku ikut senang dengan acara lamaran ini meski ini semua dadakan, tapi aku berdo'a agar Arlan tidak pernah punya rasa sesal di kemudian hari,'' sambung kakak kedua Arlan.


''Ayo Mas, kita berangkat?'' ajak para istri istri kepada suami nya.


''Sudah kebeli semuanya?'' tanya Ayah mertuanya.


''Sudah Yah, sesuai pesanan Ayah juga, ada gamis lengkap dengan hijab, cincin dan juga mukenah?'' terang nya menunjukkan kotak yang berisi barang yang akan di bawa ke rumah sakit, di mana Sania saat ini berada.


''Ayah harap kalian semua mendukung keinginan adik kamu, dan jangan pernah mengungkit tentang penyakit Sania mau di depan orang nya ataupun di belakang nya,'' sang mertua mengingat kan kepada kedua menantunya, kedua nya hanya mengangguk pelan.


Ayah Arlan yakin kalau kakak beserta kakak ipar nya akan berbuat baik kepada Sania, walaupun tanpa di ingat kan oleh sang mertua.


''Ayah tenang saja, aku yakin calon istri Arlan akan sembuh,'' Ucap istri kakak pertama nya.


''Terima kasih ya, kalian semua sudah mau dukungn adik kamu,'' lirih nya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2