
''Maafkan keluarga ku Wati, Papa ku memang salah sama keluarga kamu, namun aku memilih untuk pergi dari rumah, hanya untuk kamu Wati, kamu lah wanita yang akan aku jadikan istri dan juga calon Ibu bagi anak-anak kita kelak,'' Ucap Pak Candra sambil menatap pujaan hati nya di depannya.
''Benar yang dia bilang dek Wati, Pak Candra pergi dari rumah, dan dia juga numpang di mobil bak saya kemarin, hanya untuk menemui kamu di sini,'' jelas Pak Aziz.
''Aku harap kamu bisa menerima keputusan ku ini Wati,'' lanjut Pak Candra. ''Dan aku juga sudah tak memiliki harta seperti kemarin, yang aku punya sekarang hanyalah sebuah keberanian untuk melamar kamu di saat seperti ini,'' lirih Pak Candra, Pak Aziz yang memang berada di sampingnya hanya bisa menepuk punggung Pak Candra pelan.
''Sabar ya,'' gumam Pak Aziz mencoba menenangkan Pak Candra yang baru saja ia kenal.
''Siapa Wati,kok tidak di suruh masuk?'' tanya Bapak nya Wati dari dalam.
Bu Wati tak menjawab pertanyaan dari sang Ayah, akhirnya sang Ayah pun memilih keluar dari dalam rumahnya, melihat siapa tamu yang berada di teras rumahnya sekarang.
''Candra, kenapa kamu kesini, dan ada keperluan apa lagi sehingga kamu datang kembali ke rumah kami,'' sapa Pak Yusuf.
''Ya sudah, kalau gitu masuklah dulu, nggak enak berbicara sambil berdiri,'' kata Pak Yusuf lagi. Pak Yusuf berbalik masuk ke dalam rumah nya, jalan Pak Yusuf sedikit pincang, karena ulah Pak Sanjaya Ayah Pak Candra.
''Kalau gitu kita pamit Pak, saya hanya mengantarkan Pak Candra saja ke sini, oia Pak Candra, kalau Bapak ingin bekerja datanglah kepasar, tempat saya bekerja,'' pamit Pak Aziz dan juga berpesan pada pada Pak Candra untuk selalu mencari nya di Pasar.
''Baiklah, terima kasih banyak Pak Aziz, sudah mengantarkan saya sampai di sini,'' jawab Pak Candra berjabat tangan dengan Pak Aziz dan juga Tole, sang sopir Pak Aziz.
Tole dan juga Pak Aziz melangkah pergi menuju mobil bak nya, mereka akan kembali ke Jakarta siang ini juga, karena Pak Aziz membawa hasil panen warga kampung yang ia percayakan pada Pak Aziz penjualan nya.
''Kita langsung balik ke Jakarta sekarang Bos,'' tanya Tole membuyarkan lamunan Pak Aziz dari mulai masuk mobil nya.
''Iya, kenapa Tole,'' tanya Pak Aziz sedikit terkejut.
''Iya langsung ke Jakarta saja, kenapa belum jalan juga sich,'' jawabnya memandang ke arah Tole sang sopir.
__ADS_1
''Kan Bos belum ngasih perintah,'' sahutnya membela diri.
''Sudah, ayo pergi,'' Ucap Pak Aziz pada Tole.
Tole mulai melajukan mobil nya dengan perlahan, karena jalanan sedikit sempit hanya mampu di lewati satu mobil itu.
Dalam perjalanan ke Jakarta Pak Aziz selalu memikirkan Pak Candra, yang nggak pegang uang sama sekali.
''Kenapa Bos melamun terus sich, setelah bertemu dengan Pak Candra,'' tanya Tole menengok sang Bos sebentar dan kembali fokus pada jalanan di depannya.
''Entah kenapa, aku selalu kepikiran sama Pak Candra Tole, aku kasian lihatnya, sebenarnya Pak Candra itu anak orang kaya di daerah Jakarta, perusahaan dia besar, namun kenapa orang tuanya tega mengusir nya begitu saja, apa dia nggak mikir kalau anaknya tak pernah hidup susah selama ini,'' sahut Pak Aziz panjang lebar.
''Bos tau dari mana kalau Pak Candra anaknya orang kaya?'' tanya sang sopir lagi.
''Aku hanya menerkanya saja Tole, di lihat dari penampilan nya sekarang, dan juga nama belakang dia,'' jelas Pak Aziz.
Pak Aziz takut kalau Pak Candra di usir oleh wanita nya, karena dia sekarang sudah tak punya apa apa lagi.
*-*-*-*-*-*-*-*
Di rumah Pak Yusuf, Pak Candra menceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal sama sekali, dan juga tidak ada yang di tambah tambahi olehnya. Dan Pak Yusuf sang calon mertua pun mengusulkan agar menghilangkan nama Sanjaya yang ada di belakang namanya.
Pak Candra mengangguk, dia juga sadar kalau dirinya sudah di coret dari daftar keluarganya, kini dia hanya berfikir untuk membahagiakan pujaan hatinya.
Selama dua hari Pak Candra tinggal dengan saudara Bu Wati yang tak jauh dari tempat tinggal nya, karena keluarga Pak Yusuf tak mau jadi perbincangan para tetangga nya, dengan kehadiran Pak Candra ke rumahnya.
3 hari sudah Pak Candra berada di rumah saudara calon istri nya, dan kini akad nikah nya pun di gelar dengan sesederhana mungkin, berbekal dengan keberanian dan tekad bulat ingin membahagiakan Bu Wati wanita yang ia cintai selama ini.
__ADS_1
''Kalian sudah siap,'' tanya Pak penghulu.
''Insya Allah siap Pak,'' jawabnya dengan tegas.
Pak penghulu menjabat tangan Pak Candra, lalu memimpin acara ijab kabul nya.
''Bismillah Hirrohmanirrohim, saya nikahkan dan saya kawin kan anda, dengan Ananda Wita Saraswati binti Bapak Yusuf, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar 200 ribu di bayar tu...nai.
''Saya terima nikah dan kawinnya Wita Saraswati binti Pak Yusuf dengan mas kawin tersebut di bayar tunai,'' jawab Pak Candra dengan lantang.
''Gimana, semua saksi sah,'' tanya Pak penghulu masih menjabat tangan Pak Candra.
''Sah.....'' jawab para saksi yang menghadiri acara ijab kabul Bu Wati dan juga Pak Candra.
''Barakallah,'' Ucap Pak penghulu di lanjutkan berdoa untuk keselamatan dan juga kesejahteraan keluarga baru Pak Candra.
Terlihat Bu Wati di tuntun oleh saudara nya mendekat ke arah Pak Candra, guna tanda tangan dan juga menerima Mas kawin yang akan diserahkan Pak Candra padanya.
Terlihat Bu Wati mencium tangan Pak Candra dengan hikmat, begitu juga Pak Candra mencium kening Bu Wati dan membacakan sesuatu di hadapan Bu Wati.
Kemarin sebelum acara pernikahan nya di adakan, Pak Candra pergi ke pasar untuk bekerja sebagai kuli panggul, untuk mendapatkan uang agar ia bisa memberikan Mas kawin pada sang wanita, walaupun Bu Wati tak pernah meminta Mas kawin tersebut. Namun Pak Candra bertekad untuk menbelikan Mas kawin sebagai tanda cinta nya, dan dia ingin pernikahan nya hanya sekali seumur hidup.
-Flashback on-
''Mau nikah masih pergi ke pasar saja sich,'' ledek Pak Aziz saat bertemu Pak Candra.
BERSAMBUNG
__ADS_1