
Satu tahun kemudian.
Kini satu tahun sudah pernikahan Sania dan juga Arlan. Sejak kelahiran ponakan nya, Sania selalu menyempatkan diri untuk selalu datang ke rumah sangat Bunda, karena kakak nya memilih untuk tetap tinggal di rumah bersama Bunda nya, walaupun sebenarnya Karan sudah memiliki rumah besar lain nya? tapi berhubung adik nya Sania memilih ikut suami nya dan tinggal di apartemen nya, Karan dan Pinky sepakat untuk tetap di rumah lamanya menemani sangat Bunda yang semakin hari semakin sepuh.
''Mikhael, aunty kangen sama kamu sayang?'' seru Sania yang baru saja masuk ke dalam rumah nya.
''Aunty sudah datang? emang aunty tidak berangkat ke kantor,'' jawab Pinky mewakilkan putera nya.
''Aunty lagi males ke kantor nya, malah lebih asik menemani Mikhael di sini,'' sela Sania mengendus endus bau Mikhael yang baru selesai mandi. ''Wangi banget ponakan aunty?'' tambah nya dan Sania yang gemas mengambil Mikhael yang berada di stoler bayi nya.
Sania sudah sangat cekatan mengambil bayi di tempat tidur, apalagi memandikan nya, karena selama Mikhael lahir Sania selalu melihat suster yang menjaga Mikhael, jadi tanpa sepengetahuan dari Bunda dan juga kakak ipar nya Sania sudah sangat bisa dalam mengurus bayi kecil di depan nya ini.
''Sayang, kamu ke sini?'' sapa sang Bunda yang baru keluar dari kamar nya.
''Iya Bunda, Sania kangen sama si gembul menggemaskan ini,'' terang nya sambil terus menggoda ponakan nya yang sudah mulai berceloteh itu.
''Kapan ya, Sania bisa hamil Bunda? Sania sudah tidak sabar ingin segera memiliki anak,'' kata Sania tiba-tiba yang merubah suasana nya menjadi sedih, mengingat Sania tidak punya anak.
Sebenarnya bukan tidak memiliki, tapi belum mempunyai sich, karena Sania harus terus terusan mengkonsumsi obat obatan untuk penyakit nya.
''Yang Sania ingat, kak Pinky kemarin sangat cepat mengandung si gembul ini, tapi kenapa Sania begitu lama hamil nya?'' gumam nya pelan, tapi masih bisa di dengar oleh sang Bunda dan juga Pinky kakak ipar nya.
''Mungkin Allah belum ngasih kamu saja sayang? terus lah bersabar dan ketika sudah saat nya pasti kamu akan hamil juga dan melahirkan seorang anak yang lebih lucu lagi dari Mikhael,'' sahut sang Bunda mencoba memberi pengertian kepada puteri kecil nya, yang bahkan mungkin dia akan tau secara langsung kenapa dia belum bisa hamil sampai di usia pernikahan nya yang sudah menginjak satu tahun tersebut.
''Iya dek? yang di katakan Ibu ada benar nya juga, mungkin kamu sama Arlan lebih semangat lagi nanam nya agar cepat numbuh di dalam sini,'' sambung Pinky mengelus perut rata Sania.
Memang sejak Sania mengonsumsi obat nya secara teratur dan juga terapi di lakukan kesehatan Sania sudah seperti sedia kala, ketika belum mengetahui kalau dirinya tengah mengidap penyakit yang membahayakan diri nya. Tubuh Sania kembali seperti dulu, dan bahkan Arlan selalu bilang kalau istri kecil nya sekarang gendutan yang membuat Sania kesal di buat nya.
''Do'akan Sania agar cepat hamil ya Bunda, biar Mikhael ada teman main nya kalau aunty lagi kesini,'' tukas nya mengulas senyum setelah menatap Bunda nya yang ada di samping nya.
__ADS_1
''Sania pamit pergi dulu Bunda,'' pamit nya tiba-tiba, Sania memberikan Mikhael kepada kakak ipar nya karena Mikhael harus meminum ASI langsung dari Mama nya.
''Mau kemana nak?'' tanya Bu Wati mencegah puteri kecil nya yang mau beranjak dari duduk nya.
''Sania harus pergi ke dokter Bunda, Sania harus cek up sekarang?'' jawab nya menepuk punggung tangan Bunda nya.
''Sendirian saja?'' tanya Bunda nya lagi.
Sania mengangguk dan berkata, ''Iya Bunda, Mas Arlan sedang sibung dan hati ini ada meeting dan juga rapat, jadi dia tidak bisa mengantarkan Sania ke rumah sakit?'' jawab Sania panjang lebar, mengingat sekarang pekerjaan suami nya terlalu banyak karena Sania yang selalu merepotkan suami nya ketika berada di kantor.
''Mau Bunda antar, Bunda hari ini free kok nggak ada kegiatan sama sekali,'' kata Bu Wati.
''Nggak usah Bunda? Sania bisa sendiri kok ke rumah sakit nya, lagian saniy juga masih ingin menemui adik adik di rumah sakit kanker,'' sahut nya mengembangkan senyum nya, agar sang Bunda tidak kecewa kepada nya. ''Lebih baik Bunda jagain si gembul ini biar Mama nya nggak di buat susah sama dia,'' tambah Sania lalu mencolek pipi tembem ponakan nya yang masih bayi tersebut.
''Ya sudah kalau gitu, kamu hati hati di jalan ya, kamu di antar supir kan?'' tanya sang Bunda penasaran, karena selama ini puteri nya selalu di antar oleh supir nya kemanapun dia pergi.
Sania segera pergi setelah membuat Mikhael menangis karena ulah Sania yang mungkin saja terlalu keras mencubit nya tadi.
Sania tersenyum puas melihat ponakan nya bangun dari tidur nya karena ulah jail nya. ''Nggak nyangka sekarang aku sudah menjadi aunty, dan kapan sekiranya aku di panggil Mama oleh anak anak ku?'' gumam nya pelan ketika mengingat dia belum hamil hamil juga sampai sekarang, padahal dia tidak menunda kehamilan nya, tapi kenapa sangat lama untuk mengandung.
Tiba di halaman rumah nya Sania bertemu dengan Pak Udin, ''Nona Sania sudah mau balik?'' tanya Pak Udin sopan kepada majikan kecil nya.
''Iya Pak? Sania pamit,'' jawab nya sambil mengulas senyum kepada supir Bunda nya.
''Hati hati Nona Sania?'' seru Pak Udin ketika mobil Sania sudah hampir keluar daringerbang rumah nya.
''Iya Pak, terima kasih,'' ujar nya dan melakukan mobil nya dengan kecepatan sedang.
Sania mengendarai mobil nya menuju rumah sakit kanker, di mana di sana semua adik adik nya tengah berjuang untuk melawan sakit nya, yang sewaktu-waktu bisa mencabut nyawa nya.
__ADS_1
Tiba di rumah sakit khusus kanker Sania segera menemui seorang gadis yang kini genap berusia 9 tahun, Sania keluar dari mobil nya dengan membawa sebuah boneka untuk gadis yang berulang tahun di sana, Sania sengaja membelikan dia sebuah boneka untuk dia, agar dia tidak merasa sedih di saat dirinya tengah berbaring lemah di atas brankar rumah sakit sendirian ketika penyakit nya kambuh.
''Kak Sania sudah datang?'' seru nya dengan suara yang sangat bahagia sekali, walau dokter pernah memvonis dia tidak akan hidup lama lagi, namun semangat dia sungguh besar agar segera pulih dan bermain dengan teman teman nya di rumah maupun di rumah sakit.
''Iya sayang? coba kakak bawa apa untuk hati spesial kamu sekarang,'' tanya Sania menyembunyikan boneka nya di balik pintu.
Gadis itu menggeleng pelan, dan Sania pun melangkah keluar lagi untuk mengambil boneka nya di luar.
''Tara....?'' kata Sania memperlihatkan sebuah boneka dengan ukuran sangat besar, mungkin besar nya hampir sama dengan gadis yang kini tengah berulang tahun.
''Wah?? boneka nya sangat besar kak Sania, terima kasih kakak! aku sayang sama kak Sania,'' gumam nya memeluk tubuh Sania, Sania yang mendapatkan pelukan dari gadis di depan nya tanpa terasa sudah meneteskan air mata nya.
''Iya kakak juga sangat sayang sama kamu kok, jadi kamu harus lekas sembuh oke, agar kita bisa kejar kejaran lagi di halaman rumah sakit ini? lagian kamu tidak kangen dengan teman teman kamu di rumah atau teman teman di sini,'' kata Sania berharap gadis yang ada di pelukan nya bisa lebih semangat lagi dalam menghadapi hidup nya, ya walau pun dokter sudah memvonis nya tapi kalau Allah menginginkan gadis ini untuk tetap hidup, maka akan hidup sampai tidak tau kapan dan apakah dia bisa sembuh atau hanya bisa berbating saja di brankar rumah sakit ini tanpa bisa bermain bersama teman-teman nya yang lain.
''Iya kak, aku harus melawan penyakit ku ini dan aku juga harus segera sembuh agar aku bisa kembali ke sekolah? aku sudah sangat lama tidak masuk ke sekolah, aku kangen teman teman di sana,'' jawab nya dengan nada lirih.
''Maka dari itu kamu harus berjanji agar kamu selalu sehat dan harus mengikuti apa yang di katakan dokter dan juga oleh ibu mu. Kasian mereka semua sayang?'' lanjut nya memperingatkan gadis di depan nya.
Gadis tersebut menganggukkan kepalanya pelan dan mengulas senyum di bibir pucat nya. Sania yang tidak tega melihat nya segera berpamitan agar air mata nya tidak lagi menetes di depan gadis kecil ini lagi.
''Kalau gitu kak Sania pamit dulu ya, kakak juga harus pergi ke rumah sakit juga untuk cek up, assalamu'alaikum,'' pamit Sania di lanjutkan dengan mengucapkan kata salam kepada semua yang berada di dalam ruangan gadis tersebut. Memang gadis itu berasa dari keluarga yang mampu, tapi dia juga tidak menginginkan penyakit ini, seandainya boleh memilih maka gadis itu akan memilih untuk mti saja dari pada harus hidup dalam kesakitan seperti ini, pikir nya.
.
.
.
.
__ADS_1