
Mungkin aku tak bisa merubah takdir ku. hanya dengan memangku tangan di rumah dan tanpa berusaha apa pun, tapi aku percaya pada Allah karena hanya beliau lah yang bisa merubah takdir seseorang, aku tak pernah putus asa untuk berdo'a dan terus berusaha? agar kehidupan ku lebih baik lagi dari sebelum sebelumnya nya. Dulu aku memang orang miskin, dan hanya mengandalkan sebuah sepetak sawah untuk bergantung hidup. Namun hari ini dan mulai saat ini juga kehidupan yang dulu serba kekurangan, kini pelan pelan berubah, ya memang awal nya aku hanya punya rumah kontrakan kecil, tapi Alhamdulillah sekarang sudah lebih dari alhamdulillah cukup, bisa berkumpul dengan adik adik dari Ayah yang begitu menyayangi ku dan keluarga ku.
Aku akan ingat terus perkataan demi perkataan yang di lemparkan oleh orang tua Kirana dulu di desa, karena dengan begitu aku akan lebih giat lagi dalam bekerja, walau hasilnya tak seberapa bagi orang orang kaya dan terpandang seperti orang tua Kirana.
Aku tak ingin menjadi orang yang munafik, aku mengakui semua nya kalau barang barang di rumah baruku adalah pemberian tante dan juga suaminya.
''Karan? kamu lagi ngelakuin apa sich, kok akhir akhir ini banyak ngelamun githu?'' tanya teman nya dengan menepuk punggung Karan.
''Nggak apa apa kok kak? hanya memikirkan Ibu dan adik Karan saja di rumah,'' jawab Karan berbohong.
''Kamu nggak bohong kan Karan,'' tanya lagi kakak seniornya.
''Nggak kok kak?'' jawab nya mencoba bersikap tenang agar tidak ketahuan kalau sejujurnya yang di katakan Karan adalah sebuah kebohongan semata.
''Ya sudah, kalau githu kita pulang sekarang? apa mau gue antar,'' ajak nya.
''Nggak usah kak, terima kasih sebelum nya? tapi Karan mau mampir ke suatu tempat dulu,'' tolak nya halus.
''Ya sudah aku duluan ya,'' pamit nya menyalakan mesin motor nya. Akupun mengangguk dan melambaikan tangan kepada kakak senior ku.
Aku berjalan menyusuri jalanan yang masih ramai, karena jam masih menunjukkan pukul 9 malam. Dan Karan menghentikan langkah nya di depan salah satu toko penjual ponsel jadul, Karan ingin membelikan Ibu nya ponsel ya walaupun hanya ponsel bekas, Karan melangkah kan kakinya masuk ke dalam toko tersebut, dia melihat lihat ponsel bekas dan ponsel jadul yang hanya berbunyi titut titut.
__ADS_1
''Maaf mbak? yang ini berapa ya?'' tanya Karan pada pegawai toko.
''Yang ini lima ratus ribu dek, kalau yang baru 1 juta ada, dinatas itu juga ada, kamu yang mana?'' tanya pegawai toko sopan.
''Aku mau yang bekas saja mbak? kalau yang baru kayak nya uangku bakalan kurang dech kak, hehehe?'' jujur Karan seraya terkekeh malu.
''Nggak apa apa, yang penting buat telfon bisa githu kan dek?'' canda nya.
''I..iya kak?'' balas ku menggaruk tengkuk ku yang tak gatal.
''Nggak usah malu githu, kakak juga ada di situasi yang adek jalani sekarang, tapi Alhamdulillah sekarang sudah agak lumayan enak lah dek, jadi jangan pernah malu pada semua orang orang, asal kita giat dalam bekerja pasti akan membuahkan hasil yang maksimal, buktinya kakak sekarang bekerja di sini, dulu pernah bekerja di warung sembako Ibu komplek, tapi setelah lulus sekolah kakak bertekad melamar pekerjaan di sini, Allah mengabulkan do'a kakak?'' ucap nya panjang lebar.
''Iya kak, aku juga bekerja di restoran dekat sini, dan sekarang Alhamdulillah lagi gajian walau tak seberapa sich kak? tapi aku ingin membelikan Ibu ponsel, namun uangku hanya cukup untuk beli ponsel bekas,'' Ucap Karan dengan lirih, dia mengeluarkan uang dari tas punggung yang selalu ia bawa ke sekolah nya.
''Och... aku ingat sekarang? anak ini bekerja di restoran sebelah kan,'' gumam nya pelan.
''Ini uang nya kak? di hitung dulu ya,'' ucap Karan sopan dan tetap tersenyum.
Pegawai tersebut tersenyum sejenak, dan dia pun menghitung uang Karan yang ada 700 ribu semua nya. Emang itu bukan uang gaji Karan semua nya, uang gaji Karan sudah di tabung kan pada manager restoran nya, takut nya dia butuh sesuatu yang mendadak tinggal ia minta, pikir Karan yang nampak dewasa.
''Beneran mau yang bekas?'' tanya pegawai yang ramah itu lagi pada Karan.
__ADS_1
''Sebenarnya? Karan mau yang baru sich kak? tapi uangku kurang, jadi yang bekas saja dulu dech, kalau sudah gajian lagi baru aku ganti yang baru,'' jelas Karan memainkan tangan nya.
''Begini saja? bagaimana kalau kakak talangin dulu kekurangan nya, entar kalau dah gajian baru bayar ke kakak, atau di cicil tiap gajian juga nggak apa apa kok?'' terang nya membuat Karan terkejut, karena kenal juga nggak? tapi dia baik padaku, pikir ku.
''Tapi kakak kan nggak kenal sama aku, bagaimana kalau nggak datang lagi ke sini, itu artinya uang kakak bakalan hilang begitu saja dong?'' Ucap Karan mengingat kan kakak pegawai tersebut.
''Nggak, kakak percaya sama kamu kok? lagipula kalau kamu nggak dateng lagi juga nggak apa apa, anggap saja kakak menye dekah kan sebagian gaji kakak dong?'' wanita itu mencubit pipi Karan karena gemas. Sedangkan laki-laki di belakang nya hanya terharu dengan seorang wanita yang bekerja di toko tersebut, yang mau nalangin seorang anak kecil yang mau ponsel baru.
''Sudah? nich, adek simpan ya. Habis ini langsung pulang ke rumah nya, dan berikan kejutan ini pada Ibu kamu di rumah,'' suruh pegawai baik hati itu.
''Ya sudah? terima kasih ya kak, tenang aku akan kembali lagi, oia namaku Karan Candra?'' kata ku mengenalkan diri.
''Baiklah, kakak percaya kok? sukses ya!'' seru pegawai cantik dan juga ramah itu.
Bapak Bapak nyang tadi di belakang ku menatap kepergian ku, dan setelah itu dia menghampiri pegawai yang sudah sangat baik padaku.
''Maaf mbak? boleh tanya, tadi tu siapa nya mbak ya, kok mbak baik githu sama anak kecil itu,'' tanya Bapak itu.
''Saya juga tidak tau pak? dan tidak mengenal nya juga, tapi aku kasian sama dia,'' jawab nya ramah.
''Och, saya kira mbak nya kenal karena mbak ngasih talangan juga sama anak kecil itu?!'' tanya nya beruntun.
__ADS_1
''Adik tadi mau beliin Ibu nya ponsel, namun dia meminta yang bekas karena uang nya kurang, jadi aku kasih yang baru saja, dengan kata lain aku yang nalangin githu pak, aku sebenarnya mau ngasih githu saja sama dia, tapi takut nya dia malah merasa sakit hati atau apa, jadi uangnya aku ambil.'' Jelasnya.