Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 120 Terbongkar nya penyakit Sania


__ADS_3

Arlan masih menatap Sania dari dalam mobil nya sampai sebuah mobil menghampiri Sania yang tengah duduk bersandar.


''Pak? ke rumah sakit,'' kata Sania ketika sopir taksi menghampiri Sania, dan kini kesadaran Sania sudah hilang. Sang sopir pun membopong tubuh Sania dan di masukkan ke dalam mobil hitam yang terparkir di depan nya.


Arlan yang melihat Sania di bopong pun terkejut dan langsung keluar dari mobil nya, namun dia sudah terlambat karena mobil yang membawa Sania sudah melakukan dengan kecepatan tinggi. Arlan kembali ke dalam mobil dan mengikuti mobil yanga membawa Sania dari belakang.


''Sial! mau di bawa kemana Sania,'' Ujar Arlan kesal seraya membunuh klakson nya dari belakang, namun Arlan harus kecewa karena mobil tersebut tak menggubris kode dari Arlan. Mobil taksi malah semakin melaju dengan cepat, dan akhirnya tibalah di rumah sakit? di mana Sania tadi mengucapkan pada sopir taksi yang biasa pesan tadi.


''Dokter!!'' teriak sopir taksi itu seraya membopong tubuh kurus Sania.


''Kenapa mereka malah pergi ke rumah sakit? sebenarnya Sania kenapa?'' Arlan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Arlan yang sudah sangat penasaran akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil nya dan memasuki rumah sakit di mana Sania berada saat ini. ''Maaf pak? saya barusan melihat teman saya masuk ke mobil bapak, tapi kenapa bapak malah pergi ke rumah sakit?'' tanya Arlan mencecar berbagai pertanya'an.


''Maaf Mas, tadi sewaktu saya menghampiri Nona itu sempat meminta untuk mengantarkan kerumah sakit, sebelum dia jatuh pingsan,'' jawab sang sopir taksi.


''Pingsan kenapa ya pak?'' tanya Arlan mulai menyelidiki.


''Saya juga nggak tau jelas nya seperti apa? yang pasti Nona itu tadi mimisan?'' jawab nya dan lagi lagi Arlan di buat bingung mendengar nya.


''Mimisan?'' tanya Arlan lagi takut nya dia salah dengar.


''Maaf dengan keluarga Nona Sania?'' tanya suster yang kini tengah keluar dari ruangan IGD.


''Saya suster?'' Arlan melangkah maju menghampiri suster yang memanggil nya.


''Kalau begitu saya pamit ya mas?'' ujar sang sopir taksi mengundurkan diri untuk kembali menarik penumpang.

__ADS_1


Arlan hanya mengangguk dan segera mengikuti langkah sang suster dari belakang. ''Maaf Suster? sebenarnya dia sakit apa, soalnya akhir akhir ini dia sering mimisan,'' tanya Arlan ketika sudah berada di dalam IGD, sedangkan Sania sendiri belum sadarkan diri juga


''Maaf tuan, sebenarnya Nona ini harus segera melakukan kemoterapi? agar penyakit nya tidak menjalar kemana mana,'' sang dokter langsung tho the poin pada Arlan, sedangkan Arlan yang mendengar penuturan sang dokter hanya terkejut, mendengar kata kemoterapi barusan.


''Apa dok? kemoterapi,'' tanya Arlan menperjelas pendengaran nya.


''Iya Tuan, Nona ini sudah sering kali check up kesehatan nya di rumah sakit ini, namun Nona ini selalu menolak ketika dokter spesialis menyarankan agar dirinya segera melakukan kemoterapi?'' jelas sang dokter, yang sukses membuat Arlan termangu dan menatap dalam dalam wajah pucat Sania yang kini tengah terbaring di brankar IGD.


''Maaf dokter? saya belum terlalu konek dengan penjelasan dokter barusan. Sebenarnya Sania mempunyai penyakit apa? dan kenapa dia harus melakukan kemoterapi segala, sedangkan dia hanya mimisan dan pingsan tadi,'' kata Arlan yang belum tau penyakit yang di derita Sania saat ini.


''Nona Sania mengidap kanker darah lebih sering di sebut leukemia,'' sahut sang dokter menatap Arlan yang kini menutup mulut nya nggak percaya.


''Ya Allah? separah inikah penyakit yang di derita Sania saat ini, kenapa akun tidak mengetahui semua ini dari awal,'' gumam Arlan menyalahkan dirinya sendiri.


''Maaf tuan? sebaiknya tuan segera menghubungi keluarga nya untuk memberi tahu keadaan nya saat ini, dia mulai sering mengalami mimisan dan juga pusing? lihat saja tubuh nya saat ini yang sudah mulai kurusan. Nona ini selalu melarang semua dokter untuk memberi tahu kepada keluarga nya. Namun saya ingat tuan Arzan sudah mengetahui hal ini, dan sebaiknya tuan segera menghubungi tuan Arzan sekarang,'' seru sang dokter menatap Sania yang masih kritis.


''Baiklah dokter? terima kasih,'' Ucap Arlan lalu beranjak pergi dari ruangan IGD dan dengan segera di menghubungi tuan Arzan yang kini tengah beristirahat di ruang keluarga nya bersama ketiga anak dan juga istri nya.


Panggilan tersambung dan tak harus menunggu lama panggilan tersebut di Angkat dari seberang.


-''Hallo Arlan?'' kata tuan Arzan ketika sudah menggeser layar handphone nya.


-''Hallo om?'' jawab Arlan dengan nada khawatir nya.


-''Ada apa Arlan, sebaiknya kamu tarik nafas dulu sebelum berkata,'' balas tuan Arzan yang belum mengetahui apa yang terjadi pada ponakan nya.


-''Lebih baik Om ke rumah sakit sekarang, tempat di mana Sania sering melakukan check up,''

__ADS_1


-''Kenapa dengan Sania Arlan!'' kini suara tuan Arzan sudah naik satu oktaf, sedangkan keluarga nya yang lain terkejut mendengar nama Sania di sebut sebut barusan.


''Ada apa dengan Sania Mas?'' tanya Mama Citra yang sudah bergetar, dan air mata nya menggenang di pelupuk matanya.


Tuan Arzan memberi kode dengan tangan nya agar sang istri tidak bertanya dulu, mama Citra yang mengerti kode dari suaminya pun menuruti perintah nya.


-''Iya aku akan segera ke sana sekarang,'' ujar tuan Arzan memutuskan panggilan nya, dan dengan segera menyambar kunci mobil nya yang tergeletak di atas meja yang berada tak jauh darinya.


''Kita kerumah sakit sekarang?'' Ucap tuan Arzan, Mama Citra, Andriana, Andrian dan juga Roni langsung mengangguk walau Papa nya tidak bilang mereka harus ikut, namun ke-tiga nya akan tetap ikut kerumah sakit walau sang Papa melarang nya pergi.


Mereka berlima kini tengah berada di perjalanan menuju ke rumah sakit, si kembar dengan baju tidur nya, dan si bungsu dengan celana pendek nya. Mereka semua pergi begitu saja tanpa mau mengganti baju terlebih dahulu.


''Mas?''


''Mama yang tenang ya, do'ain Sania tidak kenapa napa?'' potong yuan Arzan yang sudah tau kemana arah perkata'an istri nya itu.


''Mama nggak usah khawatir gitu ya, Roni takut kalau Mama malah down juga di rumah sakit, yang ada kita akan bingung untuk mengurus kak Sania dan juga Mama,'' pesan si bungsu yang di benarkan oleh si kembar.


''Yang di katakan Adik ada benar nya juga Ma, lebih baik kita berdo'a saja ya Ma?'' sambung Rian mencoba menenangkan sang Mama yang kini tengah menangis.


Sang Mama hanya mengangguk pelan seraya menghapus air matanya yang masih menggenang di pelupuk mata nya.


Mereka semua kini telah tiba di rumah sakit, sedangkan Sania masih tetap berada di ruangan IGD dengan bermacam alat yang terpasang di tubuh nya. Mama Citra mulai khawatir dengan keadaan Sania sekarang, kemarin penyakit dia tidak separah saat ini pikir nya.


.


.

__ADS_1


.


berkata


__ADS_2