Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 97 Sakit


__ADS_3

''Eeengggm...'' aku membuka mata ketika sinar matahari mengenai kelopak mataku melalui celah jendela, aku terkejut ketika mendapati diriku yang masih tidur di lantai hanya beralaskan sebuah karpet. Aku mencoba mengingat ngingat kembali apa yang terjadi padaku semalam, aku memutar otak ku untuk berpikir keras, mengingat kejadian semalam yang membuat aku merasakan sakit di kepalaku.


''Rasa sakit di kepala ku masih terasa sampai sekarang, ada apa dengan kepala ku? rasa sakit yang aku derita tak pernah sesakit seperti ini,'' Gumamku pelan, aku terperanjat kaget ketika Ibu masuk ke dalam kamar dan melihat keadaan ku saat ini, beliau menghampiri ku dan bertanya.


''Sayang? kamu baru bangun, tapi kenapa kamu tidur di sini,'' tanya Ibu lembut padaku.


''Ach iya Bu, Sania baru bangun dan Sania juga nggak sengaja tidur di sini, mungkin karena kecapean kali Bu,'' jawab ku berbohong, aku tak mau membuat Ibu khawatir dengan sakit yang aku derita sekarang, aku juga nggak tau apa penyebab sakit kepala ku saat ini.


''Ya sudah kalau begitu kamu siap siap gich, sebentar kakak sepupu kamu akan datang ke sini.''


''Bu...? kak Pinky sekarang ada di mana?'' tanya ku pada Ibu yang sudah membalikkan tubuhnya.


''Pinky sedang bantu Bibi di dapur, kamu cepatlah mandi segera turun untuk sarapan sebelum pergi kuliah,'' pesan Ibu dan melangkah pergi, Ibu menutup pintu kamarku secara perlahan, aku pun ingin beranjak dari tempat ku saat ini, namun aku meringis kesakitan ketika kepala ku kembali berdenyut.


''Ach... ini sangat sakit Tuhan?'' lirih ku mencoba bangun dan melangkah pergi ke kamar mandi. ''Aku ingin berendam sebentar? siapa tau sakit kepalaku bisa berkurang,'' Ucap ku dengan lirih.


Aku menuangkan sabun beraroma stroberi di bethub, dan aku pun memasukkan tubuhku ke dalam nya untuk menikmati sensasi harumnya sabun yang aku tuang, cukup lama aku berendam agar rasa sakit di kepala ku berkurang, sampai akhirnya pintu kamar mandi di gedor dari luar.


''Sania? kamu mandi napa tidur sich, lama banget di dalam,'' teriak seorang wanita di luar.


''Iya kak Sania udah selesai kok?'' teriakku pada kak Riana. Ya yang menggedor ointu kamar mandi ku adalah kak Riana, mungkin mereka tadi sudah ada di bawah ketika Ibu masuk kedalam kamar ku, atau mungkin juga aku yang terlalu lama berendam nya di sini, pikir ku.


Aku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi, dan ketika aku membuka pintu kamar mandi kak Riana dan kak Rian sudah berkacak pinggang seraya menatap ku dengan tatapan yang sulit di artikan. Aku hanya tersenyum untuk mengusir rasa takut yang ada didalam tubuhku saat ini.


''Kamu mandi kayak orang lagi pingsan saja, sudah lama kita nungguin kamu di bawah! tapi namun belum juga turun,'' omel kak Riana padaku.


''Sania cuma sebentar kok kak?berendam nya, sumpah.'' jawab ku dengan dua jari ke atas membentuk huruf v.


''Sudah cepat ganti baju sekarang, kita pergi ke Mall, atau kamu lupa lagi dengan janji kita yang akan memberikan sebuah kado untuk kak Pinky dibuatin pernikan nya?'' celetuk kak Riana yang sudah mulai cerewet. Kak Rian hanya menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar, dengan semua tingkah adek kembarnya itu.


Aku buru buru memakai baju yang selalu aku pakai, celana jeans dan baju kaos, di tambah dengan kemeja kotak-kotak yang menjadi favorit ku selama ini. ''Ayo kak? Sania sudah siap,'' ucap ku ketika sudah ada di samping nya.

__ADS_1


''Kamu ini cewek? kenapa selalu berpenampiy cowok sich dek, harusnya kamu memakai gaun atau kaos pendek di padu padan kan dengan rok mini,'' tutur kak Riana membuat aku tersentak oleh nya, karena aku tak suka berpakaian semua itu.


''Sudahlah kak, Sania lebih nyaman dengan pakai ini sekarang, karena apa? karena aku bisa bebas mau bersalto, guling guling dan masih banyak lainnya,'' sahut ku mengambil tas selempang yang ada di atas nakas.


''Bebas kenapa sich dek?'' tanya kak Rian penasaran.


''Bebas di intip,'' jawabku singkat namun mengena di hati.


''Apa iya?'' tanya kak Rian menghampiri ku.


''Nggak gitu juga kali dek? kita sebagai seorang gadis harus berpenampilan feminin,''


''Agar semua cowok tetpesona dengan kecantikan kita, dan juga terlihat elegan di mata orang,'' potong ku, kak Riana melotot tak percaya padaku karena semua yang akan dia ucapkan sudah bisa di tebak olehku.


''Kok kamu tau,'' tanyanya kaget, seraya menerylutkan keningnya.


'.Ya taulah kak? kan kak Riana selalu bilang seperti itu pada Sania di saat kita berdua atau sedang kumpul bareng yang lainnya,'' jawabku santai dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua di kamar.


''Tak usah kak, kita makan di restoran saja,''


''Aku sudah makan tadi?'' sambung kak Rian.


''Ya kalau gitu aku saja yang makan ,'' Gumamku menuju mobil yang sudah terparkir di teras rumah.


Aku meringis ketika merasakan kembali sakit kepalaku. 'Awww... kenapa akhir akhir ini kepalaku sakit terus menerus, aku harus pergi ke rumah sakit nanti? tapi aku harus beralasan apa pada kak Andrian dan juga Andriana,' ucap ku dalam hati.


Kami tiba di Mall terbesar yang ada di kota Jakarta, aku dan kak Riana berkeliling mencari barang menurut kita pantas untuk hadiah pernikahan kak Karan dan juga kak Pinky. Sedangkan kak Rian hanya menjadi bodyguard yang baik yang selalu mengikuti kami berdua, rasa sakit di kepalaku sudah tak aku rasakan lagi, ketika melihat kegembiraan kak Riana yang selalu mengambil barang yang menurut dia bagus dan di suka. Aku hanya mengikuti tanpa membeli barang apapun sampai akhirnya kak Rian berkata.


''Kamu pilih saja barang yang kamu suka, nanti kakak yang akan bayar belanjaan mu?'' ujar kak Rian menepuk punggung ku.


''Sania lagi malas belanja kak, biar kak Riana saja yang luas puasin belanja nya, kak Rian temani kak Riana dulu ya, Sania mau ke restoran seberang dulu,''

__ADS_1


''Kita bareng bareng saja bagaimana,''


''Sania sudah laper banget kak, nggak bisa nunggu lagi, dan kalau kak Rian dan juga kak Riana mau pulang? pulang saja, nanti Sania bisa naik taksi Ok,'' Ucap ku beralasan, agar aku bisa pergi ke rumah dan mengecek keadaan ku sebenarnya.


''Tapi....'' Ujar kak Rian menggantung.


''Sania pergi dulu, assalamu'alaikum,'' ucap ku berpamitan pada kakak sepupu ku, sampai di depan aku segera menyetop taksi yang kebetulan melewati depan ku.


''Kemana Non?'' tanya supir taksi padaku.


''Rumah sakit pak?'' jawabku singkat, dan memandang keluar jendela mobil ketika mobilnya melaju, aku menatap Mall yang tadi aku kelilingi tadi.


''Siapa yang sakit Nona?'' tanya sang sopir membuat aku mau tak mau menatap nya melalui kaca spion dinatas nya.


''Nggak ada yang sakit kok pak, cuma ceck up bulanan saja,'' jawabku berbohong, aku hanya bisa meringis kembali ketika kepalaku berdenyut, 'Apa akun terlalu capek kemarin mengurus restoran buang ditinggal kak Arlan ya, sampai sampai aku tak menghiraukan waktu untuk diriku sendiri, dan berimbas sakit kepala seperti sekarang ini,'' pikir ku yang terus menatap keluar jendela, melihat hilir mudik kendaraan buang berlalu lalang di samping dan juga di depan nya.


''Sudah sampai Nona?''


''Terima kasih pak,'' aku memberikan selembar uang kertas berwarna merah.


Aku pun membuka pintu mobil ingin keluar namun di berhentikan oleh pak supir.


''Nona? kembalian nya,'' cegah pak sopir ketika aku ingin melangkah pergi.


''Ambil saja pak,'' jawab ku dan buru buru pergi, aku melangkah masuk menuju ke ruang periksa setelah mendaftarkan diri di rumah sakit tersebut.


''Nona Sania Putri Candra?'' panggil sang suster ketika tiba giliran ku periksa. Aku beranjak dari tempat duduk ku dan melangkah masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.


''Apa keluhan nya Nona?'' tanya sang dokter.


''Kepalaku sering sakit dokter, sudah 3 hari ini selalu sakit dan itu serasa mau pecah,'' Aku mulai menjelaskan gejala penyakit ku selama tiga hari ini aku derita. Dokter yang ada di depanku hanya mengangguk mendengar penjelasan ku tadi.

__ADS_1


__ADS_2