
Kicauan burung terdengar begitu merdu, dengan selimut tebalnya Sania hanya menggeliat ketika mendengar kicauan burung-burung yang hinggap di ranting pohon dekat jendela nya.
Sania mengucek matanya karena silau terkena bias cahaya mentari yang masuk melalui ventilasi jendela nya.
''Enggmm,'' gumam Sania meregangkan otot-otot kaku nya akibat terlalu lama dari tidur nya. Sania menyibak selimut nya dan mulai menurunkan kakinya satu persatu sampai menyentuh lantai yang terbuat dari marmer tersebut.
''Cerah sekali pagi ini, dan sudah bebey hari ini aku nggak pergi ke kampus? apa aku akan terkena skorsing ya dari dosen?'' pikir Sania menuju ke kamar mandi nya.
Sania mengguyur seluruh tubuh nya dengan shower agar lebih cepat selesai mandinya.
Sania keluar dari kamar mandi nya sudah lengkap dengan baju yang akan ia kenakan ke kampus nya nanti, Sania juga sedikit memoles wajah pucat nya dengan sedikit bedak dan juga lipstik agar tidak terlalu ketara kalau dia sedang tidak baik baik saja. Dengan rambut di gerai Sania keluar dari kamar nya dengan membawa tas selempang yang selalu ia bawa kalau sedang pergi ke kampus.
''Adek ayo sarapan dulu,'' sapa Pinky ketika melihat adik ipar nya menuruni tangga.
''Iya kak?'' jawab Sania lalu menghampiri kakak ipar nya yang tengah menata makanan di atas meja.
''Sarapan apa kita sekarang kak?'' tanya Sania menyeret kursinya dan langsung mendarat kan bokong nya di kursi tersebut.
''Ibu sengaja memasak makanan kesukaan kamu dek, ayo makan sekarang? kamu kan harus minum obat kamu sekarang kan?'' tukas Pinky membuat Sania mengerutkan kening nya bingung.
'Apa kak Pinky tau? kalau aku sedang sakit parah,' gumam Sania dalam hati.
''Tau dari mana kak Pinky, kalau Sania harus minum obat setelah makan?'' tanya Sania penasaran sekaligus bingung kalau kakak iparnya tau tentang penyakit nya.
__ADS_1
''Riana semalam bilang sama kakak, kalau kamu harus minum obat tepat waktu, agar migren dan anemia kamu cepat pulih?'' jawab Pinky membuat Sania menghembuskan nafas lega nya.
''Tapi penyakit yang Sania derita nggak parah kok?'' sela Sania ber bohong.
''Tapi tetap saja kamu harus rutin minum obat kamu dek?'' balas Pinky membuat Sania memanyunkan bibir nya.
''Sudah? lebih baik kamu makan sekarang, nanti setelah makan baru minum obat nya, jangan sampai lupa kalau kamu ingin cepat sembuh juga,'' lanjut Pinky menyendokkan nasi untuk Sania sarapan.
Karan tengah menuruni anak tangga dan menghampiri sang istri yang sedang melayani Sania adiknya.
''Adik bukan lagi bocah? kenapa harus di layani seperti bocah seperti ini sich sayang!'' celetuk Karan, yang menyeret kursi di samping adiknya.
''Adik harus minum obat mas? makanya Pinky layani dia agar cepat sarapan dan segera minum obat nya juga.'' balas Pinky menatap suami yang tengah menatap nya juga.
''Sania nggak apa kok kak? Sania baik baik saja, kak Pinky saja yang berlebihan pada Sania,'' elak Sania agar kakak nya tidak menghawatirkan nya lagi, masih ada Ibu dan juga kak Pinky yang harus jadi prioritas nya saat ini.
''Ya sudah kalau gitu Sania berangkat ke kampus dulu ya, takutnya saniy malah telat lagi sampai nya di kampus.
'''Jam segini sudah mau berangkat ke kampus?'' Tanya sang kakak penasaran.
''Iya kak, Sania masih ada urusan sama teman sebentar? jadi harus berangkat pagi,'' jawab Sania mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan sang kakak dan juga kakak ipar nya.
''Ibu? Sania berangkat dulu ya,'' seru Sania ketika melihat Ibu nya keluar dari kamar nya.
__ADS_1
''Iya, hati hati di jalan ya,'' pesan Bu Wati pada Sania puteri tersayang nya. Sania mengangguk dan mencium pipi sang Ibu serta tak lupa pula mencium punggung tangan Ibu nya.
Sania berlari kecil menuju pintu utama rumah nya, karena sang ojek online sudah datang dan kini tengah menunggu nya di luar gerbang rumah nya.
''Ke kampus seperti biasa Bang, tapi sebelum itu kita mampir ke rumah sakit dulu ya bang?'' Ucap Sania pada tukang ojol yang sudah setiap hari mengantarkan ke kampus nya.
Sang ojol pun melajukan motor nya tak terlalu kencang, ketika di lampu merah Arlan melihat Sania tengah di bonceng ojol yang melewati nya, Arlan sendiri terperangah ketika melihat Sania yang lumayan kurusan dari sebelum nya.
''Itu bukan nya Sania, tapi kenapa dia kurusan seperti itu,'' gumam Arlan masih terus menatap Sania dari belakang.
Kini lampu sudah menjadi hijau, semua kendara'an mulai bergerak, Arlan sengaja memelankan laju mobilnya karena dia ingin terus melihat Sania yang kini tengah di bonceng ojol tersebut.
''Emangnya mereka mau kemana sich! seharusnya belok kanan kenapa mereka belok kiri?'' Gumam Arlan yang bertambah penasaran, Sania yang di bonceng ojol pun berhenti di parkiran rumah sakit, Sania membuka helm yang ia pakai dan melenggang pergi masuk ke dalam.
''Sebenarnya Sania mau ngapain pergi ke rumah sakit,'' pikir Arlan dan masih tetap terus mengawasi Sania dari dalam mobilnya.
Setengah jam kemudian, Sania keluar dari rumah sakit dengan obat yang ia pegang di tangan nya.
''Ayo Bang, kita langsung ke kampus saja ya,'' kata Sania mengambil helm nya yang di berikan pak ojol langganan nya.
''Sania sakit? kenapa dia pegang obat segitu banyak nya,'' lagi lagi Arlan memeras otak nya menerka nerka kalau Sania sedang tidak baik baik saja. Dengan ego yang tinggi Arlan masih mengabaikan Sania, karena mungkin rasa sakit nya yang pernah di tolak sebelum nya. Padahal kan Arlan sendiri tak pernah mengutarakan isi hatinya pada Sania, dan kenapa dia harus sakit y segala coba kepada Sania yang nggak pernah merasa bersalah padanya.
Sejak kepergian Arlan dari restoran nya Sania sengaja menyibukkan diri di restoran peninggalan sang Ayah, dan Sania juga ingin melupakan rasa sakit yang ia derita, Sania sebenarnya membutuhkan sandaran orang orang terdekat nya, namun Sania tak bisa mengatakan kalau dia menderita penyakit yang mematikan kalau tak di obati dengan benar, Sania kini sudah pasrah pada sang Khalik atas penyakit yang ia derita, dia tak boleh mengeluh walah hanya sebatas kata-kata ach atapun uch, dia harus benar bangkit sendiri untuk kebahagiaan keluarga besar nya. Mungkin Sania mengira keluarga besarnya tidak mengetahui penyakit yang ia derita, namun semuanya kebalikan nya. Sedangkan tuan Arzan sendiri tengah bertanya-tanya tentang pengobatan yang bagus untuk sang ponakan agar istri yang ia cintai kembali tersenyum. Ya sang istri selalu meneteskan air mata kesedihan nya setelah mengetahui penyakit ganas yang bersarang di dalam tubuh ponakan nya.
__ADS_1