
Dokter Michael dan juga Riana kini sudah tiba di rumah sakit tempat Sania dirawat, badan Riana sudah bergetar menahan tangis yang sedari tadi ia tahan, Riana emang belum bilang kepada semua keluarga nya? karena mungkin dia lupa dan khawatir juga dengan keada'an Sania saat ini.
Sania terkulai lemah di brankar rumah sakit, Riana yang melihat keada'an nya pun langsung menangis karena tidak tega dengan keada'an adik sepupu nya.
''Riana, lebih baik kamu hubungi kakak sepupu kamu sekarang, aku takut terjadi sesuatu dengan Sania,'' perintah dokter Michael kepada Sania teman kampus nya dulu.
''Baik,'' jawab Riana singkat, dan diapun berjalan menuju ke arah Arlan yang tengah menyandarkan tubuh nya ke tembok rumah sakit.
''Kak Arlan? lebih baik kak Arlan yang menghubungi kak Karan sekarang, aku akan menghubungi Papa?'' kata Riana dengan nada lirih nya.
Arlan hanya mengangguk tanpa mau menjawab ucapan Riana.
Arlan merogoh saku celana nya untuk mengambil ponsel nya, Arlan mencari nomor Karan di ponsel nya.
Tut tut tut
Panggilan tersambung namun tak kunjung juga di angkat oleh Karan. Arlan terus mencoba menghubungi Karan dengan pikiran kalut nya, ketika panggilan yang 5 kalinya Karan segera mengangkat telfon nya.
-''Ada apa Arlan,'' ujar Karan di seberang telfon dengan nada dingin nya, dia baru keluar dari ruangan rapat? sedangkan dia sengaja meninggalkan ponsel nya di dalam ruangan nya, agar rapat yang biasa pimpin berjalan dengan lancar. Dan memang benar lancar tapi dia telat mengetahui keada'an Sania saat ini? karena tak segera menjawab telfon nya.
-''Karan? lebih baik kamu datang ke sini segera, Sania pingsan?'' jawab Arlan tho the poin, Karan yang menerima telfon tersebut langsung bergegas pergi setelah mematikan panggilan nya secara sepihak.
Arlan tak menghiraukan Karan lagi, karena itu sudah terbiasa bagi Arlan memutuskan dengan sepihak jika tengah telfonan dengan nya.
__ADS_1
Arlan kini tengah di landa ke khawatiran mengingat Sania di dalam ruangan yang belum juga sadar, dokter Michael keluar dari ruangan Sania. Melihat itu Arlan dan juga Riana beranjak dari duduk nya untuk menghampiri dan bertanya.
''Bagaimana keada'an Sania Dokter?'' tanya nya dengan tatapan mengarah pintu yang terbuka sedikit.
''Masih belum juga sadar, tapi alhamdulillah sekarang sudah melewati masa kritis nya,'' jawab Michael pelan, sedangkan tatapan nya mengarah kepada Riana yang sudah sembab, sisa sisa air mata nya masih membekas di pipi putih nya.
''Alhamdulillah kalau gitu?'' gumam Riana pelan, dengan menundukkan kepalanya. Menghindari tatapan dari laki-laki yang ada di depan nya saat ini, Riana merasa malu ketika dirinya menangis di depan nya, tapi mau gimana lagi? yang terbaring lemah di dalam ruangan saat ini adalah saudara sepupu nya yang begitu ia sayangi, bahkan melebihi dari dirinya sendiri.
Sedangkan di tempat lain Karan menghampiri Ibu nya di rumah, setelah itu dia bergegas menjemput sangat istri di butik nya, namun sebelum menjemput Pinky Karan terlebih dulu menghubungi nya agar bersiap siap, karena suaminya akan menjempit di butik nya.
Pinky yang mendengarkan hanya mengerutkan kening nya, nggak seperti biasa nya suaminya akan menjemout di jam jam segini, apalagi ini masih termasuk jam nya makan siang.
''Ada apa ini, kok perasa'an ku jadi nggak enak gini sich? semoga tidak terjadi sesuatu dengan dia,'' Gumam Pinky pelan, sehingga tetdengat seperti bebbisik pada dirinya sendiri.
Tak butuh waktu lama Karan sudah tiba di butik istri nya bersama dengan sang Ibu di kursi penumpang, Karan emang sengaja tak mengatakan yang sejujurnya sama kedua orang yang sangat ia sayangi. Karan hanya bilang akan membawa pergi ke tempat yang akan kalian suka, kata Karan tadi.
''Sebenarnya kita mau kemana sich Bu?'' tanya nya masih menatap Ibu mertua nya. Sang mertua hanya mengedikkan bahu nya saja, tanpa menjawab pertanya'an dari menantu nya.
''Sebenarnya kita mau kemana sich Mas? kok buru buru gitu tadi nelfon Pinky,'' tanya Pinky dengan rasa penasaran yang sudah ada di ubun ubun nya.
Karan tak langsung menjawab pertanya'an sang istri, karena dia tidak mau membuat istri nya dengan sang Bunda merasa sedih, sedangkan saat ini mereka masih sangat jauh dari tempat tujuan.
''Tenang saja, aku akan bawa kalian ke tempat yang bagus kok,'' jawab nya datar, menurut Karan ucapan nya mungkin sudah menyakiti hati kedua nya, setelah mereka tau akan pergi ke mana, pikir nya.
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Karan tak pagi membuka suara nya lagi, dia hanya fokus ke jalanan tanpa mau menoleh ke arah samping nya. Di mana sang istri yang tengah cemberut dengan jawaban suaminya yang hanya mengatakan tempat yang bagus tadi.
Pinky pun sudah memfokuskan dirinya dengan smart fon nya, dia lebih memilih berselancar di dunia sosial media, ketimbang melihat suaminya dengan wajah datar nya. Beberapa kali Karan menghembuskan nafas nya dengan kasar mengingat sang adek tengah berjuang di sana.
''Kenapa kamu lakuin itu Sania, apa kamu tega meninggalkan kita semua di sini, apa kamu tidak mau melihat ponakan mu hadir di dunia yang sangat kejam ini, aku mohon kamu bertahan lah sampai kakak bisa menemukan obat untuk menyembuhkan kamu dari penyakit itu,'' Gumam Karan pelan, namun gumamam Karan sempat terdengar oleh Sania, namun hanya terdengar dengan samar samar.
''Mas bilang sesuatu?'' tanya Pinky penasaran, dia kini tengah mengerutkan kening nya menatap suami tercinta nya itu.
''Nggak kok, mungkin kamu salah dengar kali sayang?'' bohong Karan, agar sang istri tak terlalu berpikir yang macam macam, sedang kan Bu Wati byang sedang berada di kursi belakang hanya menjadi pendengar yang baikndannjuha mertua yang baik bagi menantu dan juga putera nya.
Bu Wati mencoba memejamkan matanya sejenak, namun alih alih bisa tertidur? Bu Wati seperti melihat puteri nya tengah menangis di kegelapan, Sania mengulurkan tangan kepada sang Ibu namun Bu Wati tidak bisa menggapai tangan puteri nya, hanya dengan linangan air mata saja yang Bu Wati bisa saat itu, Bu Wati yang memanggil manggil nama Sania pun menjadi perhatian Karan dan juga Pinky yang tengah duduk di depan nya.
Pinky dengan sopan membangunkan Ibu mertua nya agar beliau terbangun dari tidur nya, karena Pinky sendiri merasa kasihan sendiri melihat Ibu mertua nya yang tengah menangis sampai terisak begitu.
''Ibu, Ibu bangun Bu? Ibu kenapa?'' tanya Pinky seraya menggoyang goyangkan tubuh mertua nya yang tengah terpejam.
Bu Wati yang terganggu akhirnya membuka mata nya, dan di lihat nya sang mwnantu uangnyengah menatap nya dengan penuh tanda tanya.
''Ibu nggak apa apa kan? Ibu Baik baik saja kan?'' tanya Pinky dengan khawatir nya.
Bu Wati hanya menggeleng pelan tanpa mau menjawab pertanya'an yang di ajukan oleh menantu nya tersebut.
.
__ADS_1
.
.