Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Pertama Bertemu Dengannya


__ADS_3

Sepulang sekolah, Mutia dan Eca langsung ke ruang PMR. Ternyata tak jauh beda keadaannya dengan pagi tadi. Masih penuh sesak dengan anak kelas 7 dan 8 yang mendaftar PMR. Ya karena ditahun ini diadakan diklat rapel karena tahun kemaren sekolah batal mengadakan karena bentrok acara. Eca memilih untuk masuk sendiri. Sedangkan Mutia menunggu di depan ruangan dengan duduk manis.


Eca sudah masuk kedalam ruangan. Mutia sudah tidak bisa melihatnya lagi karena kerumunan siswa semakin banyak dan riuh. Ia percaya Eca bakal bisa menerjang itu.


Sedangkan Eca di dalam penuh sesak. Sudah tidak bisa diatur lagi. Ruangan berukuran 2 x 3 meter terasa sempit sekali. Kakak kelas terus berteriak untuk tertib. Namun, siswa tetap saja rusuh. Eca merasa sesak sekali nafasnya. Panas. Terjepit. Tiba-tiba ia merasakan gelap. Gelap sekali. penuh sesak. Ia sudah tidak mengingat apa-apa.


Seluruh siswa bertambah riuh mendapati ada yanng pingsan. Ada yang meminta tolong. Ada yang memilih keluar dengan cueknya. Mutia menoleh dengan keriuhan yang semakin menjadi. Sesaat kemudian, terlihat seorang siswa laki-laki menggendong seorang siswa perempuan yang pingsan dari dalam ruang PMR menuju  UKS yang berjarak 3 ruangan. Mutia menyadari itu sahabatnya. Ia langsung mengikutinya ke UKS.


Laki-laki itu meletakkan Eca di atas temat tidur UKS dengan hati-hati. Petugas UKS langsung memeriksa Eca.


"Ada apa ? dia kenapa kok bisa sampe kayak gini ?" tanya Mutia kepada laki-laki itu.


Laki-laki itu cuma menggeleng dan melihat Eca dengan wajah khawatirnya.


"Dia gak apa-apa. Cuma asam lambungnya naik. Apakah dia punya riwayat penyakit sesak nafas ?" tanya petugas UKS kepada Mutia dan laki-laki itu.


Mutia dan laki-laki itu saling berpandangan bingung. Eca memang tidak pernah mengeluhkan sesak nafas selama ini. Ya, setahu Mutia, dia anak yang sehat-sehat saja.


"Punya nomor telepon orang tuanya ? tolong dihubungi. biar dia dijemput saja. Jangan naik kendaraan sendiri. Bahaya. Atau nanti bila tidak bisa dihubungi, kita antar saja pakai mobil sekolah" tanya petugas UKS.


"Saya punya nomor kakaknya. Coba saya hubungi dulu." Kata Mutia kemudian mencoba menelepon Indra. Tapi tetap tidak diankat.


"tidak bisa dihubungi kakaknya." Kata mutida kepada petugas UKS.


Eca baru saja sadar. Dia masih lemas dan linglung.


Tiba-tiba kak Beni muncul.


"Gimana keadaannya Mut ?" tanya kak Beni panik.


"Baru sadar kak. ." Jawab Mutia.


"Syukurlah. Maaf banget ya. Keadaannya ricuh sekali." Kata kak Beni kepada Eca.


Eca hanya tersenyum dan mengangguk.


"Tadi aku kira sepulang sekolah bisa agak senggang. Tapi ternyata malah tambah sesak. Aku kira dia bakal strong." kata Mutia.


"Formulirnya sudah dikumpulkan ?" tanya kak Beni.


"Belum kak. Ini punya dia aku bawa tadi." kata laki-laki itu mempelihatkan 2 formulir di tangannya.


"Oke mana. Biar kakak yang kumpulkan." kak Beni meminta formulir itu lalu langsung pergi.

__ADS_1


"Mobil sudah siap." kata petugas UKS yang tiba-tiba muncul.


"Ca, kamu sudah kuat buat jalan ?" Tanya Mutia.


Eca mencoba untuk bangun. Tapi langsung digendong oleh laki-laki itu.


"Biar aku saja. Kamu ambil tas dan barang-barangnya di kelas." kata laki-laki itu.


"Oke." kata Mutia langsung menuju kelas mengambil tas dan beberapa barangnya Eca.


Laki-laki itu menggendong Eca sampai ke mobil.


Mutia berlari sambil membawa barang-barang Eca menuju mobil.


"Saya ikut ya bu." kata laki-laki itu kepada petugas UKS. Beliau hanya mengangguk.


Laki-laki itu langsung ikut nak mobil melalui pintu sebelah kiri. Eca masih sangat lemah. Sehingga dia hanya bisa bersandar di kursi dengan tatapan kosongnya.


Mobil berjalan menyusuri jalanan menuju rumah Eca. Didalam mobil tidak ada interaksi antara ketiga murid ini. Hanya petuga UKS dan pak sopir yang mengobrol panjang lebar yang tidak dimengerti oleh ketiga murid ini.


Setelah setengah jam perjalanan di temani gerimis, akhirnya sampai di rumah Eca. Mutia turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu pagar rumah Eca. Mobil sekolah itupun langsung masuk kepekarangan rumah Eca.


"Assalamualaikum bi....kak Indra...." Mutia memberi salam diluar pintu masuk utama rumah Eca.


Bi Tuti langsung muncul. "Waalaikumsallam mbak...." jawab bi Tuti.


"Itu bi, Eca sakit." kata Mutia sambil menunjuk mobil.


Anak laki-laki itu langsung menggendong Eca turun dari mobil. Sedangkan Mutia menurunkan barang-barang Eca dari dalam mobill.


"Langsung dibawa kedalam saja mas. Kalo bisa keatas sekalian. Kekamarnya. Soalnya mas Indra belum datang" kata bi Tuti.


Anak laki-laki itu pun langsung membawa Eca ke kamarnya diikuti  Mutia di belakangnya. Sedangkan petugas UKS dan pak sopir sekolah tadi menunggu di ruang tamu. Bi Tuti langsung menelepon Indra untuk segera pulang. Namun tetap tidak diangkat. Bibi meminta kepada petugas UKS dan pak sopir untuk menunggu Indra pulang.


Sesampainya di kamar, Eca langsung dibaringkan di kasurnya. Mutia langsung menyelimutinya. Ia masih terkulai lemas tak berdaya.


"Makasih ya..." Kata Eca sambil tersenyum dengan wajah pucat.


"Iya..." jawab anak laki-laki itu.


"Udah tidur aja habis ini. Gak usah kemana-mana." Kata Mutia. Eca hanya mengangguk.


Sesaat kemudian, Indra tiba-tiba masuk ke kamar Eca.

__ADS_1


"kamu gak apa-apa kan dek ?" tanya Indra. Eca hanya menggelengkan kepala.


"Asam lambungnya naik kak. Terus katanya sesak nafas juga." Jelas Mutia.


"Kenapa sih bisa kayak gini ?" kata Indra penuh khawatir kepada adiknya.


"Dia ikut antri buat daftar PMR kak. Kebetulan kan ini mau diklat 2 angkatan. Jadi tadi sempat kejepit dia." anak laki-laki itu mencoba menjelaskan.


"Apa ? diklat ? kok kamu gak ngomong ke kakak sih dek ? minta ijin dulu kek." Kata Indra. Sesaat kemudian Indra sadar adiknya belum terlalu bisa diajak komunikasi karena masih lemas dan pucat.


"Mut, minta tolong minta teh dikasih madu ya sama bibi dibawah." Kata Indra. Mutia hanya mengangguk dan langsung menuju lantai satu untuk meminta hal tersebut kepada bi Tuti.


Indra hanya tertunduk melihat keadaan adiknya yang lemas terkulai.


"aku gak apa-apa kak..." kata Eca lirih.


Indra menyadari ada orang yang belum pernah ia lihat berada disana.


"Kamu siapa ? pacarnya Eca ya ?" tanya kak Indra dengan tatapan tajam.


Anak laki-laki itu langsung menciut dengan tatapan Indra.


"bukan kak... saya temannya. Kebetulan tadi dia pingsan di depan saya." Anak laki-laki itu mencoba menjelaska kepada Indra.


"oh...." Jawab Indra singkat. Anak itu hanya tersenyum simpul. "nama kamu siapa ?" lanjut kak Indra.


"Adit kak..." jawabnya. Kak Indra hanya mengangguk.


Jadi namanya Adit. ~Eca~


Mutia muncul dengan secangkir teh madunya.


"Kak, ditunggu ibu petugas UKS dibawah." kata Mutia. Indra berlalu begitu saja turun kebawah.


"Mau minum sekarang Ca ?" tanya Mutia. Eca hanya menggeleng. Mutia kemudian menyadari anak laki-laki itu masih berada dikamar Eca. Mutia jadi canggung.


"hmm... nama kamu siapa ? kok aku gak pernah lihat kamu sejak kelas 7 ?" tanya Mutia basa-basi.


"Aku Adit..." jawabnya singkat


kecanggungan itu kembali muncul.


"yuk kita keluar aja. Biar Eca Istirahat" Ajak Mutia kepada adit. "Cepet sembuh ya Ca... . Nanti malem aku kesini lagi deh ya." lanjut Mutia.

__ADS_1


"Cepet sembuh ya." Kata Adit.


Mereka berlalu meninggalkan Eca di kamar. Eca pun langsung tidur hingga setelah magib.


__ADS_2