
Selama dalam perjalanan pulang Andrian dan juga Riana saling berpandangan, sedangkan sang Mama masih dengan raut kesedihan nya. ''Kakak ada di mana? Citra kangen sama kakak,'' lirih nya, mbak Citra begitu sayang pada kak Candra, karena kak Candra orang nya sangat pengertian dan juga penyayang pada kedua adik-nya.
Kak Candra selalu menuruti kemauan adik adiknya, namun setelah kepergian kak Candra mbak Citra tak pernah seceria dulu, dia selalu menyendiri dan selalu menyuruh orang untuk selalu mencari tau tentang keberada'an kakak-nya. Namun hasilnya nol besar, orang yang ia suruh mencari tau keberadaan kakak-nya tak kunjung memberitahukan keberada'an Candra kakak-nya.
''Kayaknya Mama lagi sedih dech kak?'' bisik Riana pada Andrian sang kakak.
''Iya dek? sejak tadi Mama sudah sedih, kakak jadi penasaran? apa yang menyebabkan Mama bersedih?'' sahut Andrian menatap Mama nya dari belakang.
''Kita harus tau kak, kenapa Mama bisa sedih kayak githu, Riana tidak mau melihat Mama sedih kak? itu akan mempengaruhi calon adik kita?'' Gumam Riana pelan.
Selama di dalam mobil mbak Citra tak mengeluarkan sepatah katapun, mbak Citra terus menatap jalanan dan sawah sawah yang terbentang luas, namun tatapan nya kosong. Riana dan juga Andrian hanya saling bertatapan.
Tadi setelah makan siang selesai, Mikaela dan Riana mengajak ke pantai? agar sang Mama merasakan kebahagia'an di sana, namun nyatanya sang Mama malah hanya bersiam diri di dalam mobil tanpa berniat untuk turun dari mobil nya. Hanya linangan air mata yang nampak mengalir di pipi mulusnya.
Andrian yang melihat Mama nya sedih, tidak kuasa menahan tangisnya juga.
''Mama, Andrian janji akan menyelidiki latar belakang kakak tingkat Andrian, yang sudah membuat Mama sedih sampai seperti ini. dan Andrian janji akan membawa kakak kelas Andrian, yang bernama Karan itu ke rumah, kalau senyum Mama bisa seperti dulu lagi,'' Batin Andrian dan menghapus air matanya yang sempat lirih begitu saja.
*-*-*-*-*-*-*-
Kediaman keluarga Arzan malik Narendra.
Sepulangnya dari pantai mbak Citra memilih untuk langsung pergi ke kamarnya, Cinta yang mengertia akan keadaan kakak perempuan nya hanya bisa menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan.
''Ya sudah, kalau gitu Cinta pamit dulu Mas, sampai kan salam Cinta pada mbak Citra? kayaknya dia masih memikirkan kak Candra dan juga anak laki-laki itu,'' Ucap Cinta panjang lebar.
''Iya, hati hati di jalan,'' sahut Mas Arzan saat aku melangkah pergi dari rumah besar nya.
__ADS_1
''Ingat! jangan kasih tau soal ini dulu pada Cinta, biar aku selidiki dulu kebenarannya,'' kata Mas Arzan mengingat kan Mas Fabian dengan tegas.
''Oke siap, Mas menurutku besok ajak mbak Citra ke sekolah anak anak, agar dirinya tidak merasa sedih terus terusan, mungkin dengan kehadiran Karan, bisa membuat hati mbak Citra bahagia, ingat mbak Citra sedang hamil jangan sampai dia tertekan,'' jelas Mas Fabian panjang lebar.
''Papa! ayo cepat?!'' teriak Mikaela dari dalam mobil nya, sesekali ia membunyikan klakson mobilnya juga.
Mas Fabian akhirnya undur diri hadapan Mas Arzan, dan memasuki mobil nya yang tak jauh dari tempat nya berdiri.
''Masih ngomongin apa sich Mas?'' tanya Citra pelan.
''Soal pekerjaan sayang, Mas Arzan bilang ada proyek baru,'' jawabnya berbohong.
Citra hanya ber oh ria mendengar nya, sedangkan si kecil Mikaela sudah memulai celotehan nya, di mulai dari rumah mbak Citra, restoran sampai ke pantai juga di ceritakan sama Mikaela, si gadis kecil yang sangat cerewet.
Di dalam kamar nya, kini mbak Citra berada, dia hanya diam membisu di dalam kamar. ketukan pintu pun tak ia hiraukan sama sekali, dia masih sibuk dengan fikiran nya yang telah menyelimuti kehidupan nya sekarang.
''Mama...''
terdengar suara panggilan yang memanggilnya, namun mbak Citra masih duduk termenung di tempat nya, tanpa beranjak sama sekali.
''Sayang? biarkan Mama kamu sendirian dulu di kamar ya,'' tutur Mas Arzan pada Riana puteri nya.
''Tapi Pa? Mama belum makan malam, gimana kalau sampai terjadi sesuatu pada calon adik Riana gimana Pa?'' Riana sangat mengkhawatirkan Mama nya.
Mas Arzan membawa Riana ke meja makan untuk makan bersama, karena di meja makan sudah ada puteranya yang sedang menunggu nya.
''Mama mana Pa?'' tanya Andrian ketika melihat sang Papa dan adiknya turun dari tangga, tanpa Mama nya di samping maupun di belakangnya.
__ADS_1
''Mama nggak mau buka pintu Kak?'' Jelasnya.
''Sudah kalian makan bersama Papa dulu ya,'' kata Mas Arzan lembut pada anaknya, yakni putera dan juga puterinya.
''Papa? tolong beritahu kami kenapa Mama bersedih seperti itu,'' mohon Andrian pada sang Papa.
''Sudah makan dulu, nanti Papa cerita'in,'' Ucap Mas Arzan yang mulai menyuapkan makanan nya.
Mereka bertiga makan malam tanpa suara sepatah katapun, hanya dentingan sendok yang terdengar, Riana tak nafsu makan dia hanya mengaduk aduk makanannya.
Mas Arzan hanya melirik dengan ekor matanya, diapun segera menghabiskan makanan nya.
''Sayang, makan dulu nasinya, baru setelah itu Papa akan cerita, kalau kamu belum menghabiskan makanan kamu, maka Papa juga nggak akan memberitahu kalian semua, kenapa Mama bisa sesedih itu sekarang?'' Gumam Mas Arzan pelan namun tegas, dengan sedikit ancaman akhirnya sang puteri pun menghabiskan makanan nya.
Riana meneguk susu hangat yang sudah tetsaji di meja makan.
''Biasanya yang menyediakan Riana susu hangat Mama, tapi Mama sekarang malah mengurung diri di kamarnya,'' batin nya menghembuskan nafas nya dengan kasar.
Mas Arzan merogoh saku celananya, dia nampak mengeluarkan sebuah ponsel dan membuka sebuah galeri foto, sekilas Riana melihat gambar foto yang ada di ponsel Papa nya.
''Kalian lihat sendiri, ini orang yang sudah menyebabkan Mama kamu bersedih, orang ini adalah paman kamu yang pergi dari rumah 16 tahun lalu, dan sampai sekarang Mama kamu merindukan kakaknya yang bernama Candra, sudah 4 tahun ini Mama kamu ingin melupakan kakak-nya yang bernama Candra tersebut, karena sudah sangat lama juga kami mencarinya selama ini, namun tidak ada jejak dia tinggal di mana, dulu Mama kamu sebelum menikah dengan Papa, Mama kamu begitu memperihatinkan, selama satu tahun mencari sendirian, dan setelah menikah dengan Papa pun Mama kamu tetap mencari keberadaan Candra kakak-nya, namun hasilnya nihil,'' Jelasnya, mungkin tidak secara detail menceritakan semua kisah dari kakak iparnya.
''Tapi kenapa Mama bisa merasa sedih lagi Pa? kenapa,'' tanya Andrian.
''Kamu lihat sendiri, orang di foto itu mirip siapa?'' jawabnya menghembuskan nafas dengan kasar.
BERSAMBUNG
__ADS_1